Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Amien Rais: Islam Harus Menang di Dunia & Akhirat

AdminKS by AdminKS
Juni 11, 2020
in Report
0
Amien mengutip pidato Bung Karno yang berbunyi: “tetapi dasarnya, isinya Indonesia yang kekal abadi, haruslah pancasila”. Di pidato yang sama Bung Karno

Amien mengutip pidato Bung Karno yang berbunyi: “tetapi dasarnya, isinya Indonesia yang kekal abadi, haruslah pancasila”. Di pidato yang sama Bung Karno

23
SHARES
137
VIEWS

Pada hari Jumat (22/5) Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Dialog Ramadhan 1441 H secara daring. Dalam dialog tersebut, MPK PP Muhammadiyah menghadirkan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah sekaligus Bapak Reformasi, Prof. Amien Rais. Amien Rais dalam kapasitasnya sebagai Bapak Reformasi, berbicara tentang jati diri bangsa dan umat Islam. Tema yang diangkat adalah “Quo Vadis Reformasi di Indonesia?”

Amien Rais berpesan kepada peserta dialog agar yakin bahwa orang beriman harus bersikap tawazun. Kalau jadi bangsa kalahan, pinggiran, dan hanya seperti buih, maka umat Islam tidak mungkin bisa jadi unggulan di akhirat kelak. Masyarakat harus berkaca pada Barat ketika abad pertengahan, dimana masyarakat Eropa waktu itu dininabobokan oleh elit Gereja agar tidak menjadi masyarakat yang kritis, sehingga kekuasaan Gereja tidak tergoyahkan.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Umat Islam di Indonesia juga tidak boleh dininabobokan dengan slogan bahwa tidak masalah kalah di dunia, karena nanti akan masuk surga. Ada doktrin yang mengatakan bahwa umat Islam harus sabar menghadapi situasi dan tidak melakukan apa-apa, karena nanti di akhirat akan menang dan masuk surga. Ini adalah doktrin yang tidak tepat.

****

Amien Rais bercerita bahwa ia pernah mendengar seorang khatib yang mengatakan bahwa umat Islam, walaupun di dunia menjadi bangsa pinggiran, belum bisa menjadi ummatan wasatha, namun itu bukan masalah. Umat Islam harus tetap bersabar, karena nanti akan masuk surga jannatu naim. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini berpesan supaya umat Islam bisa mengambil peran reformasi, pembangunan bangsa, rekonstruksi nasional, dan lain-lain.

Baca juga: Tutorial Meminta Maaf dengan Benar

Ia membacakan surat Al-Hadid ayat 20 yang mengatakan bahwa dunia ini sangat fana, sedangkan akhiratlah yang abadi. Ayat ini berbunyi i’lamu annamal hayata dunya la’ibun wa lahwun wa zinatun wa tafakhurun bainakum wa takatsurun fil amwal wal aulad. 

“Hidup di dunia itu hanya la’ib, permainan. Wa lahwun, sendau gurau, lagho, tidak banyak manfaatnya, yang membawa manusia terbahak-bahak dan lupa akan kehidupan, lawak-lawak di muka bumi. Indonesia menjadi negara yang unggul dalam lawakan. Inilah hakikat dunia”, ujarnya menafsirkan ayat tersebut.

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa makna wa tafakhurun bainakum berarti saling mengungguli satu sama lain. Mengungguli dalam hal keluarga, partai, bangsa, dan lain-lain. Ini hal yang sangat manusiawi. Takatsurun fil amwal wal aulad berarti saling memperbanyak, berlomba-lomba untuk menjadi yang paling banyak. Semua itu bagaikan hujan yang turun ke muka bumi, pada saatnya menyuburkan tanah, menumbuhkan tanaman yang indah, kebun rindang, kemudian menguning, dan hancur habis karena sudah tua dan lapuk. Dunia ini hanya Al-ghurur (kesenangan yang palsu).

Di sisi lain, menurut Amien, untuk membangun bangsa semangat jihad harus tetap ditanamkan didalam tubuh umat Islam. Menurutnya tiket untuk masuk surga itu tidak mudah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 214 Allah berfirman: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”.

****

“Jadi orang yang ingin masuk surga harus mendapatkan tempaan yang berat, Wa zulzilu, diguncang-guncangkan. Sampai-sampai rasul dan para sahabat berkata mata nasrullah, kapan datang pertolongan Allah?Kita perlu mengetahui bahwa inna nasrallahi qarib (sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”, tambahnya.

Rumus untuk memenangkan dunia dan akhirat sekaligus adalah agama tanpa IPTEK itu tidak bisa berjalan, lumpuh. Sedangkan IPTEK tanpa wahyu akan menghancurkan, buta. Muhammadiyah sebagai salah satu elemen umat Islam termasuk yang sudah memiliki pemahaman agama dan IPTEK secara seimbang, sehingga memiliki beban untuk menjadi ummatan wasatan.

Amien bercerita bahwa ia telah melalang buana di dunia Islam. Di Mesir ada Ikhwanul Muslimim. Mereka dianggap sebagai kelompok yang terdepan dari kelompok Islam lain. Namun, amal konkretnya masih kalah dibandingkan dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah dari masa ke masa tidak semakin kecil tapi semakin besar, makin tinggi menjulang, memberikan manfaat. Itu yang harus dikembangkan. Muhammadiyah punya peluang banyak universitas yang cukup terkemuka. Ini harus dikelola dengan baik agar menggalakkan semangat untuk mencetak ilmuwan yang memahami IPTEK dengan baik, disamping memahami Alquran.

Inti dari pesan Pak Amien antara lain, pertama, membenahi moral. Kalau moral buruk berarti tidak bisa membedakan baik buruk. Kedua, membangun semangat. Ketiga, memperkuat ruhul jihad. Keempat, memahami wahyu ilahi sebagai pegangan yang tidak pernah usang. Salah satu hikmah di tengah-tengah pandemi corona yang sepertinya sudah menggilas segala kekuatan di muka bumi ini adalah bahwa banyak umat yang sadar bahwa dan membuat mereka kembali kepada sesuatu yang esensial.

Meskipun umat Islam terlihat statis, tetapi di lubuk hati mereka ada inti, yaitu berupa cita-cita Islam. Amien Rais memberitahu contoh bagaimana orang yang ingin naik haji  harus antri belasan tahun. Ia sendiri naik haji pertama kali pada tahun 1973. Waktu itu jamaah haji dari kalangan pemuda sekitar usia 30 sangat jarang. “Sekarang banyak sekali masyarakat usia 30 tahun berbondong-bondong naik haji. Ini arahnya sudah benar. Tinggal bagaimana ormas-ormas Islam pelan-pelan duduk bersama, bicara yang lebih luas, what is to be done. Apa yang bisa kita kerjakan. Untuk membangun bangsa, sekaligus jangan sampai jadi umat pinggiran”, tutupnya. 

Reporter: Yusuf R Yanuri

Terkait

Tags: Amien RaisIslamreformasi
Previous Post

Titik Temu Islam & Budha

Next Post

Haris Amir Falah: Hijrahnya Mantan Ekstrimis

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Haris Amir Falah: Hijrahnya Mantan Ekstrimis

Haris Amir Falah: Hijrahnya Mantan Ekstrimis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.