Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Cara Masuk Surga ala NU & Muhammadiyah

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Mei 17, 2020
in Narasi
0
NU dan Muhammadiyah
45
SHARES
267
VIEWS

Ini memang soal klasik dan Muhammadiyah jelas membantah, sebab nilai amal hanya dihitung dari hasil kerja individual bukan kolektif. Jadi jangan harap ada kiriman doa dari tetangga sebelah rumah atau teman seperjuangan setelah meninggal kelak. 

Masuk Surga ala Muhammadiyah

Bagi santri Muhammadiyah, prinsip “barang siapa mengerjakan amal kebajikan maka untuk dirinya sendiri” dan “seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain” dipegang kukuh. Inilah salah satu prinsip puritanisme di samping ta’awun: kerja keras, kompetitif, hemat, suka membantu, dan suka memberi.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Baca juga: Rabiah: Maryam Kedua dari Basrah

Belum ada kajian khusus apakah puritanisme di kalangan santri Muhammadiyah memiliki kemiripan dengan Protestan Ethics yang digagas Webber, satu sikap puritan yang melahirkan kapitalisme dan liberalisme di Eropa paruh pertama abad 20 kala itu.

Maka pertanyaan mengemuka: benarkah cara beragama Muhammadiyah sangat indvidualistik? Bahkan cenderung egois sebab apapun amal yang dilakukan cenderung berpulang pada dirinya sendiri.

Jargon berlomba-lomba berbuat kebajikan (fastabiqul khairat) dimaknai sebagai ikhtiar personal untuk mendapat banyak maslahat. Pun dengan prinsip sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya (khairun nas anfa’ahum lin-nas) juga kurang lebih sama, yaitu perbuatan-perbuatan individual yang diperuntukkan bagi banyak orang. Prinsip-prinsip puritanisme di kalangan santri Muhammadiyah memang melahirkan ghirah, semangat kompetitif, egaliter, dan menghapus kelas agama.

Karena itu puritanisme juga menghapus hierarki kepatuhan, status sosial, dan keistimewaan nasab. Sebab semua orang dilihat setara. Kedudukan seseorang dilihat dari ketaqwaan sebagai representasi prestasi tertinggi. Bukan atas dasar nasab atau keturunan.

Masuk Surga ala NU

Hal ini berbeda dengan fenomena keberagamaan umat Islam keseluruhan yang secara dialektik justru mengambil posisi berbalik. Di NU misalnya, prinsip jama’i dan tanggung renteng demikian kental mewarnai persepsi teologis yang dibangun secara utuh.

Prinsip saling memberi syafaat misalnya, bahkan termasuk prinsip (khusushan Ila ruuhi) adalah ikhtiar saling berkirim pahala kebaikan dan pemaafan kolektif agar bisa bergotong royong berbuat kebaikan dan masuk surga. NU juga menganut prinsip pahala yang tidak pernah terputus. Menjadi sesuatu yang sangat menarik bahkan mungkin menjadi promo yang menggiurkan untuk mendapat banyak pengikut.

Artinya, tradisi NU dan Muhammadiyah ibarat dua mata uang terpisah meski punya irisan yang saling berkait. Sebab prinsip merit sistem individualistik yang ditawarkan Muhammadiyah dan prinsip kolektif gotong royong yang ditawarkan NU adalah hal yang niscaya. Antum tak perlu khawatir sebab kedua cara itu bersanad dan punya sandaran teologis kepada dua pusaka utama Alquran dan Sunnah sahihah. Pada akhirnya, hidup memang pilihan. Wallahu Ta’ala a’lam.

Editor: Yusuf

Terkait

Tags: MuhammadiyahNUsurga
Previous Post

Haedar Nashir: Keimanan yang Membumi

Next Post

Kedekatan KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Kedekatan KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno

Kedekatan KH. Abdul Wahab Chasbullah dengan Presiden Soekarno

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.