Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Rabiah: Maryam Kedua dari Basrah

Arif Saifudin Yudistira by Arif Saifudin Yudistira
Juni 12, 2020
in Narasi
0
Rabiah Maryam kedua dari Basrah
64
SHARES
379
VIEWS

Namanya menggema bahkan ribuan tahun setelahnya. Apa yang telah ia lakukan mengingatkan kita pada satu hadist nabi yang diyakini para darwis, ”Sesungguhnya manusia itu mati, dan saat ia mati, ia terbangun”. Ia dijuluki sebagai Maryam kedua dari Basrah. Rabiah Al- Adawiyah, ialah sufi perempuan paling agung. Ajaran dan juga teladannya menjadi teladan bagi para sufi setelahnya.

Ia telah mengajarkan konsep mahabbah, konsep isyq (cinta). Fariduddin Athar menulis dalam bukunya Tadzkirat Al- Auliya : “Rabiah adalah perempuan yang menghijabi dirinya dengan keikhlasan agama, seorang yang terpikat oleh kecenderungannya untuk selalu dekat dengan Tuhannya dan dilumatkan oleh keagungan Tuhannya, seorang perempuan yang telah menanggalkan dirinya guna menyatu dengan yang agung.”

Kelahirannya menjadi legenda yang tak bosan untuk dikisahkan. Saat menjelang kelahirannya, ibunya meminta ayahnya untuk mencari lentera kepada tetangganya. Akan tetapi ia teringat akan janji atau sumpahnya bahwa seorang sufi pantang untuk meminta bantuan kepada manusia.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Bermimpi Bertemu Nabi

Dalam keadaan tertekan itulah, ayahnya tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW, “janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, pengaruhnya akan dianut oleh tujuh ribu umatku.”

Seorang muslim percaya, mimpi dari nabi tidak pernah merupakan kebohongan. Maka dari itu bila seorang manusia bermimpi bertemu nabi, berarti hal itu adalah kebenaran. Kisah Rabiah pun membuktikan kebenaran mimpi ayahnya.

Baca Juga: Meraih Perdamaian Melalui Filosofi Tepo Sliro

Nama “Rabiah” diartikan sebagai anak perempuan yang keempat.  Al adawiyah adalah nama tempat di mana ia dilahirkan. Maryam kedua ini lahir dari Basrah, tahun 95-99 H (717M). Menjelang dewasa ia ditinggal ayah dan ibunya, yatim piatu. Saat itu Basrah dilanda kelaparan yang hebat. Ketika ia berjalan-jalan ke kota, ia ditemukan oleh seorang lelaki dan menjualnya dengan harga enam dirham. Rabiah pun harus bekerja terus-menerus di tempat tuannya.

Doa Sepanjang Hari

Suatu hari, tuannya menengok melalui jendela kamarnya. Dalam shalatnya itu, Rabiah berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhanku, Engkaulah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadat kepada-Mu, Ya Allah karena Engkaulah yang menciptakanku”.

Rabiah adalah sufi perempuan yang hidup dengan sikap asketis. Setelah lepas menjadi budak dari tuannya, ia menghabiskan dirinya hidup dengan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sahabat-sahabatnya berulangkali membujuknya untuk memberikan bantuan dan mengangkatnya dari kemiskinan, tetapi ia tidak pernah bersedia menerima uluran tangan dari sahabatnya.

Ia justru semakin menyibukkan diri melayani Tuhannya. Pengakuan Abda Binti Syiwal seorang pelayan yang melayani Rabiah menuturkan bagaimana Rabiah menyibukkan dirinya kepada Tuhan. “Rabiah biasanya melakukan shalat sepanjang malam, dan ketika pagi tiba ia tertidur lelap di atas tikar shalatnya, hingga sinar matahari pagi menyembul dari jendela kamarnya, menyinari wajahnya berkilau keemasan.

****

Dan sering aku mendengar ia mengucapkan doa ketika ia terbangun dari tidurnya, “Wahai jiwa yang terbakar rindu ini, berapa lama engkau akan tertidur dan berapa sering engkau terbangun?Wahai jiwa, bilakah engkau akan tertidur dan tidak akan pernah terbangun lagi hingga tiba saatnya terdengar terompet sangkakala di Hari Perhitungan nanti.”

Di Indonesia, syair Rabiah menjadi nyanyian yang sempat populer oleh Hadad Alwi. Syair itu yang sering menjadi doa-doa dalam keseharian Rabiah. “Ya Allah jika aku beribadat hanya karena rasa takutku pada neraka, maka bakarlah aku di dalam api neraka-Mu. Dan jika aku beribadat hanya karena mengharap Jannah-Mu, maka tutuplah rapat-rapat pintu Jannah itu bagi diriku. Tetapi apabila aku beribadat hanya karena mencari keridhaan-Mu, jangan Engkau sembunyikan Keindahan Abadi-Mu itu dari pandanganku.”

Apa yang dilakukan Rabiah dengan puasa dan shalat membuktikan apa yang dulu dituntunkan nabi. Nabi mencontohkan bahwa hijab atau pemisah antara Tuhan dan hambanya akan lenyap saat ia shalat. Nabi Muhammad sendiri pun memberikan teladan itu atas perintah Tuhan dengan menurunkan perintah shalat. Di shalat itulah, seorang hamba bisa berjumpa dengan kekasih-Nya, bercakap-cakap dengan-Nya, dan juga mengungkapkan segala yang menjadi kesulitan-kesulitan-Nya.

Karomah Rabiah 

Para Sufi dan orang yang dekat dengan Tuhan seringkali mendapatkan karomah dari-Nya. Dalam Islam sendiri, konsep ini lekat dengan hadist qudsi : “ Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah aku wajibkan kepadanya.

Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunnah, niscaya aku akan mencintainya. Jika aku telah mencintainya maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya. (Aku) menjadi penglihatan yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya.

Baca Juga: Pemuda Ashabul Kahfi Dikarantina 309 Tahun Terasa Sehari

Jika dia memohon kepada-Ku, nisacaya aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan aku lindungi.”

Rabiah pun dikaruniai karomah sebagaimana orang suci lainnya. Karomah yang amat berkesan adalah saat ia beranjak hendak menunaikan haji ke Mekkah menggunakan Unta. Untanya mati di tengah perjalanan. Di tengah jalanan itu ia berdoa. Kemudian selang beberapa saat, maka unta itu pun hidup kembali. Ini mengingatkanku pada kisah para wali di Jawa yang sering dikenal dengan sebutan Wali Sanga.

Seperti Para Wali di Jawa

Dikisahkan di waktu Sunan Kalijaga belum bertobat, ia adalah perampok dan pencuri ulung. Ketika ia hendak merampok, Sunan Bonang sudah tahu apa yang diniatkannya. Lalu dipanggilah pemuda itu, Sunan Bonang bertanya kepadanya : “Apakah yang kau inginkan anak muda?”,

Lalu Sunan Kalijaga menjawab : “Aku ingin kaya”. Benarkah?, lalu seketika Sunan Bonang menunjuk ke arah pohon kelapa, dan berkata kepada Sunan Kalijaga : “Lihatlah pohon kelapa itu, ia adalah emas”.

Lalu pohon kelapa itu jatuh dan menjadi emas murni. Seketika itu juga Sunan Kalijaga berlutut dan memohon untuk diangkat menjadi murid Sunan Bonang. Karomah para Wali Allah bukanlah dicapai dengan tiba-tiba. Tetapi dengan ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Sehingga doa para kekasih Allah ini dikabulkan.

Kisah yang lain adalah saat Rabiah memasak hendak mengiris bawang dan bawang di rumahnya habis. Dan tiba-tiba ada seekor burung yang menjatuhkan bawang kepadanya. Rabiah mengajarkan ketundukan, zuhud yang luar biasa, serta ibadah yang tidak kenal lelah. Atas usahanya itu pula, ia memperoleh apa yang dicitakannya, yaitu kedekatan dan cinta dari Tuhan.

Filsafat Cinta

Margareth Smith dalam bukunya Rabiah : Pergulatan Spiritual Perempuan (1999) menuliskan tentang cinta yang diamalkan oleh Rabiah. Cinta menurut Rabiah yang sering diajarkan adalah cinta seorang hamba kepada Allah, Tuhannya. Ia mengajarkan bahwa yang pertama, cintai itu harus menutup yang lain selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta, yaitu bahwa seorang Sufi harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.

Ia harus memisahkan dirinya dari sesama makhluk ciptaan Allah, agar tidak dapat menarik diri dari Sang Pencipta. Menurut Rabiah, Tuhan dipandang penuh dengan kecemburuan-Nya, di mana hanya Dia sendiri yang harus dicintai.

Rabiah telah menunjukkan cinta yang tak terbatas pada materiil. Ia telah memberi keteladanan akan cinta haqiqi. Hidup dan kehidupannya dipenuhi dengan kesibukan ibadah dan tanda cinta kepada Tuhannya.

Laku cintanya dilakukan hanya demi kasih dan sayang Tuhan, bukan berdasarkan motif surga atau neraka. Setiap mendengar adzan, Rabiah teringat terompet sangkakala di saat hari kiamat. Ia menangis begitu dalam saat mengingat dosa dan kesalahan-kesalahannya.

Kematian yang Indah

Kematian sang Maryam kedua dari Basrah menjadi kisah yang indah bagi seorang hamba yang mencintai Tuhannya. Pada saat menjelang kematiannya, ia memanggil pembantunya Abda binti Abi Syuwal dan berkata kepadanya, “Wahai Abda jangan beritahu orang lain bahwa kematianku telah dekat, apabila saatnya tiba tutuplah aku dari ujung rambutku hingga kaki dengan kain ini.” Seorang penulis riwayat hidupnya dari Persia mengisahkan di saat jelang kematiannya sebagai berikut :

“Pada masa menjelang akhir hayatnya, banyak sekali orang-orang alim duduk mengelilinginya. Rabiah meminta kepada mereka, ‘Bangkit dan keluarlah; berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung!’ maka semua orang bangkit dan keluar.

Baca Juga: Umair Fahmiddin: Peradaban Berbasis Akhlak

Dan pada saat mereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabiah mengucapkan kalimat syahadat dan mereka mendengar sebuah suara. ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, berpuas-puaslah dengan-Nya. Maka masuklah bersama golongan hama-hambaKu dan masuklah ke dalam surga-Ku (Q.S. 89 : 27-30).

****

Rabiah telah memperoleh cinta yang indah di akhir hayatnya. Ia menjadi simbol sufi perempuan yang mengajarkan jalan cinta dan zuhudnya. Puasa dan shalat menjadi jalan spiritual untuk mendekat pada Tuhan.

Kehidupannya yang asketis dan tidak terlena kepada dunia, menunjukkan betapa visioner hidupnya. Ia lebih memilih Tuhan dan keridoaannya, dan ketakutannya diarahkan kepada hari akhir dan pengadilan Tuhannya. Jalan hidup Rabiah, adalah jalan yang didamba oleh setiap hamba yang rindu akan Tuhannya. Maka tak heran bila ia disebut Maryam kedua dari Basrah.

Sumber Ilustrasi: wikipedia.id

Editor: Dartim I.R

Terkait

Tags: Filsafat CintakebahagiaanRabiah
Previous Post

Penting! Tabayyun Terhadap Bahan Makanan Yang Akan Dibeli

Next Post

Haedar Nashir: Keimanan yang Membumi

Arif Saifudin Yudistira

Arif Saifudin Yudistira

Kepala Sekolah Smk CITRA MEDIKA (2018-2019), Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Penulis Buku Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2020), pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Next Post
Liberalisme

Haedar Nashir: Keimanan yang Membumi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.