Oleh : Affan Hidayat
Kurang lebih 2 bulan sudah Indonesia di landa virus Covid-19 (terhitung mulai 1 Maret). Awalnya pemerintah tidak seketat sekarang dalam membuat kebijakan. Walaupun tidak memberlakukan lockdown seperti beberapa negara di Dunia. Sudah ada himbauan sosial distancing, physical distancing.
Lewat kajian yang mendalam sekarang sudah di berlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak pro-kontra dari masyarakat atas himbauan dari pemerintah untuk memutus rantai Virus Covid-19.
Virus yang berawal dari Wuhan China ini memiliki banyak dampak, salah satunya ekonomi. Banyak yang kehilangan pekerjaan di saat pandemi seperti sekarang ini contohnya para pedagang. Ada yang di dilarang dalam berdagang ada juga yang memang sepi dari para pembeli karena dilarang berkerumun.
Selain itu banyak juga pekerja yang kena PHK dan pemerintah menghimbau untuk beraktifitas di rumah saja. Selama ini Sudah banyak kreatifitasyang di lakukan di rumah saja, minimal harus bisa mencari aktivitas untuk di rumah saja asalkan positif.
Ramadhan di tengah Pandemi
Sekarang sudah memasuki Ramadhan, aktivitas ramadhan kali ini berbeda dengan ramadhan-ramadhan kemarin. Karena himbauan dari pemerintah soal physycal distancing tertuju kepada semua kalangan masyarakat termasuk tempat Ibadah. Bahkan himbauan dari presiden Jokowi untuk beraktivitas dirumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah, termasuk MUI beserta Ormas Islam, dan semua Agama.
Walaupun tidak diikuti seluruh masyarakat khususnya umat Islam atas berbagai pertimbangan. Sudah banyak tempat ibadah seperti masjid dan mushola yang tidak menyelenggarakan sholat berjamaah, sholat jumat, dan sholat tarawih termasuk buka bersama jelang maghrib ataupun sahur bersama, kajian-kajian ataupun tablig akbar pun kini tidak sesemarak dulu. Pedagang-pedagang yang biasanya berjejer di pinggir jalan juga kini tak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Muhammad Abduh: Teolog Post-Muktazilah
Suasana kini tampak sunyi, tentu sebagai seorang muslim sangat merindukan suasana bulan Ramadhan sebagai mana tahun-tahun sebelumnya. Sudah saatnya kita tafakur kepada Allah Swt, dengan tafakur kita akan menjadi tasyakur. Penulis sependapat dengan Quraisy Shihab bahwa Dunia di landa virus Corona, kejadian ini jangan di anggap sebagai siksa ilahi, tetapi dia adalah peringatan.
Sebuah Peringatan
Dan peringatan bisa menjadi nikmat, peringatan agar manusia jangan angkuh, dan merasakan kelemahannya di hadapan Tuhan. Kita harus berdo’a kepada Allah Swt semoga wabah ini cepat berakhir, selain berdo’a kita juga harus berusaha, sudah ada edukasi dari pemerintah.
Misalnya sering-sering mencuci tangan dengan sabun atau handsanitazer, hindari kerumunan atau physical distancing. Jika keluar harus menggunakan masker. Berusaha tanpa berdoa itu sombong sedangkan berdoa tanpa berusaha itu bohong.
Jika dalam sejarah orang-orang saleh ada Pemuda Ashabul kahfi di karantina dalam gua selama 309 tahun. Ditidurkan Allah karena Raja dzalim yang melarang untuk beribadah kepada Allah. Tetapi yang dirasakan mereka tidur hanya sehari.
****
Memang penulis tidak akan menyamakan kita saat ini dengan para pemuda Ashabul Kahfi. Karena sudah jelas berbeda konteks tetapi setidaknya untuk situasi seperti saat ini penulis ingin mencobamengulas kembali atau mencoba belajar pada kisah tersebut untuk di ambil Ibrahnya.
Maka kita harus berikhtiar sekuat tenaga untuk melawan virus corona. berusaha tanpa berdoa itu sombong sedangkan berdoa tanpa berusaha itu bohong, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melawan virus corona, mari berdo’a dan berikhtiar semoga pandemi virus corona ini cepat berakhir.
Pemuda Ashabul Kahfi
Konon, orang-orang Nasrani telah melakukan kesalahan-kesalahan besar dan Raja-raja merekapun berbuat durhaka. Mereka menyembah patung-patung dan memeriksa rakyatnya untuk menyembahnya. Asdar, Raja mengeluarkan perintah-perintah mengandung ancaman, akan menghukum siapa saja yang melanggarnya.
Ada beberapa pemuda yang tergolong orang-orang terpandang di kalangan kaumnya, yang hendak dipaksa oleh raja untuk menyembah patung. Bahkan Raja mengancam mereka dengan pembunuhan, namun mereka tetap berpegang teguh pada agama mereka. (Tafsir Al-Maraghi)
Baca Juga: Takwil Lailatul Qadar menurut Muhammad Syahrur
Adapun pemuda-pemuda itu kemudian pergi ke sebuah gua. Pada sebuah gunung yang disebut tikhayus dekat kota mereka “Afasus.” Ephesos adalah sebuah kota lama di pantai Asia kecil, di dekat kota smyrna. Di zaman Yunani dan Romawi kota ini amat ramai termasuk salah satu kota perniagaan. Jumlah mereka tujuh orang. Di tengah perjalanan ke gua, mereka disertai oleh seorang pengembala anjingnya.
Waktu berjalan terus, zaman silih berganti, Raja Decyanus sudah dilupakan orang sudah tidak lagi berkuasa. Seorang Raja yang saleh bernama Bidrus memerintah raja itu selama 68 tahun. Sementara itu pengembala kambing bernama ulyas bermaksud membangun kandang kambingnya di gua itu. Maka dipecahkannyalah tutup yang menutup gua itu.
Sebuah Mukjizat
Seketika itu juga, pemuda-pemuda yang beriman terbangun serentak dari tidurnya. Mereka duduk dengan wajah yang berseri-seri kemudian saling bertanya, berapa lama kalian tidur? Kemudian di jawab satu sama lain: “sehari atau setengah hari.” Yang lain mengatakan : “tuhan lebih mengetahui berapa lama kalian tidur”.
Berangkatlah Tamlikha sebagai mana biasanya untuk berbelanja secara sembunyi-sembunyi karena takut terhadap Raja Decyanus. Sewaktu dia berjalan terdengar orang menyeru Al-Masih di segala penjuru kota. Tamlikha merasa heran, kenapa orang mukmin itu tidak di bunuh Decyanus.
Tamlikha masih merasa heran, kemudian bertanya kepada seorang laki-laki tentang nama kota itu. Dijawab : “Ini kota afsus.” Setelah itu membeli dengan uang logam dan penjual merasa heran dengan uang tersebut dan memberi tahu orang-orang. Kini Raja Decyanus sudah tidak lagi berkuasa.
Di bawalah Tamlikha ke dua hakim yang bernama Areyus dan Tanteyus, sesudah terjadi pembicaraan antara mereka, maka Tamlikha menceritakan kisah para pemuda itu denga Raja Decyanus. Dan dia mengajak kedua hakim untuk ke gua tersebut.
Pemuda-Pemuda Mulia
Setelah sampai kedua hakim tersebut merasa heran ketika mengetahui para pemuda hidup di gua selama 309 tahun. Lalu kedua hakim tersebut melaporkan Raja Bidrus agar cepat datang untuk menyaksikan kekuasaan Allah yang ada pada pemuda-pemuda itu.
Sewaktu Raja melihat pemuda-pemuda itu, sujudlah dia kepada Allah kemudian dipeluklah pemuda-pemuda itu lalu menangis. Pemuda-pemuda itu terus memuji tuhan. Berkatalah pemuda-pemuda itu kepada raja: wahai raja, selamat tinggal, semoga Allah melindungi kamu dari kejahatan manusia dan jin.”
Baca Juga: Kitab Tafsir Qur’an Macapat “Sekar Sari Kidung Rahayu”
Lalu mereka kembali ke pembaringan mereka dan ketika itu Allah Swt mencabut rohnya. Untuk memberikan penghormatan kepada arwah hamba-hamba Allah yang suci ini, raja memerintahkan agar setiap orang dari mereka di buatkan peti jenazah dari emas.
Sumber Ilustrasi: hidayatullah.com
Editor: Dartim I.R.