//Bapak Pucung dudu watu dudu gunung / Sabane ing sebrang / Titihane sri Bupati / Yen lumaku si pucung lembehan grana//
Tembang Macapat merupakan warisan budaya Jawa yang banyak ilmuwan menyatakan bahwa Macapat muncul pada era kewalian. ternyada ada lho tafsir Qur’an dalam bentuk macapat.
Jika dilihat dari makna bahasa Ma (Menuju), Capet (Ghaib atau maya).Mungkin malah lebih dari sebelum Wali dengan agama Islamnya datang ke tlatah nusantara ini. Karena kita tahu sebelum Islam dan agama-agama besar hadir di Nusantara ini sosiokultural masyarakat kita dikenal telah mengenal unsur animisme dan dinamisme.
Secara umum tembang macapat kita kenal 11 macam (pupuh), yaitu Asmaradana, Dhandang Gula, Durma, Gambuh, Kinanti, Maskumambang, Megatruh, Mijil, Pangkur dan Pucung. Setiap macam macapat ini mewakili proses kehidupan manusia dari lahir sampai mati. Paugeran macapat Setiap macam macapat memiliki aturan susunan (paugeran) sendiri sendiri.
Baca Juga: Din Syamsuddin: Wasatiyyatul Islam yang Terlupakan
Paugeran terdiri dari jumlah-jumlah baris tiap bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap baris (guru wilangan) bunyi akhir suku kata terakhir tiap baris (guru lagu). Kesemuanya sudah ditentukan jumlah guru lagu, guru gatra dan guru wilangannya. Yang jika dilagukan akan membentuk nada dengan feeling sesuai dengan tema sebelas macam macapat itu.
Mini Tafsir Juz ‘Amma
Sekar Sari Kidung Rahayu merupakan buku Sekar MAcapat yang mengambil dari surat-surat dalam Juz ‘Amma untuk selanjutnya di buat mini tafsir dan dilagukan menggunakan skema macapat itu. Pengarangnya ialah Achmad Djuwahir Anomwidjaja dari tlatah kolopaking di Banjarnegara.
Buku yang diterbitkan oleh Masyarakat Puitika bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan di tahun 1992 dan dicetak ulang di tahun 2003 ini mendapatkan pengantar dari Kiyai AR. Fakhruddin yang dikenal luas sebagai Pimpinan di Organisasi Muhammadiyah.
Pak AR dalam pengatarnya menyebutkan bahwa “Muhammadiyah sendiri dalam menyampaikan dakwah ke pelosok desa masih menggunakan tembang Macapat ini. Penggunaan tembang dimaksudkan agar apa yang disampaikan oleh Muballigh Muhammadiyah mudah diterima oleh masyarakat setempat. Jadi berdakwah dengan menggunakan tembang tidak bertentangan dengan maksud ajaran agama kita”.
Sinyalemen akulturasi antara agama dan budaya memang baik untuk dilakukan agar agama itu dekat dengan masyarakat. Pengantar tersebut memang tendensius kepada dakwah Muhammadiyah namun secara luas sebenarnya buku “Sekar Sari Kidung Rahayu”. Ini bukan sekedar buku macapat. Namun sudah dapat kita katakan sebagai bagian dari khasanah tafsir Al-qur’an dengan konstruksi budaya jawa.
Kerja Intelektual Agama, Budaya dan Seni
Pada buku “Sekar Sari Kidung Rahayu” yang menggunakan Al- Qur’an (Juz 30) dan macapat sebagai ide dasar pembuatan tembang tafsir. hal ini tentunya merupakan kerja intelektual yang langka. Karena kebanyakan tafsir Al-qur’an melakukan pengalihbahasaan dari teks arab menjadi teks berbahasa Indonesia. Dan diberi pemarkah makna yang terkandung di dalam teks quran tersebut.
Namun berbeda dengan “Sekar Sari Kidung Rahayu” yang ia mencoba mengelaborasi antara Teks Agama, Budaya Jawa dan Kesenian Macapat Jawa. Elaborasi tiga konteks ini jelas membutuhkan kerja intelektual yang kuat. Apalagi ia harus menggubah sebuah teks agama yang memiliki kesan kaku menjadi teks sastra yang luwes dan lentur ini bukan perkara mudah.
Baca Juga: Dari Didi Kempot: Cowok Menangis itu Sah-Sah Saja
Kita ambil contoh pada halaman 3, dengan judul “Kinathi (Ngemot suraosipun surat An-nass)” beliau menuliskan pada bait keempat dan kelima. //Surat An-naas yektosipun / tumurun ing Mekah nagri / Ana enem ayatira / tegese An-nas puniki /Basa Jawane manungsa / Ayo konco den wiwiti //, //Nyinau suraosipun / “Qul” jarwane tembung iku / Dhawuhe sira Muhammad / Angayom kula ing Gusti / Gustining para manungsa / Iya Ratuning Sujanmi //.
Pada teks macapat bait empat dan lima ini memberikan kita sedikit gambaran bahwa di buku tersebut bukan sekedar mengalihbahasakan makna teks qur’an ke dalam bahasa jawa. Namun oleh penulis ditafsirkan dengan menurut pada arti teks dan digubah menjadi susunan lagu dengan paugeran Kinanthi.
Memahami Kalam Tuhan
Islah Gusmian (2013) dalam bukunya “Memahami Kalam Tuhan” juga mengemukakan bahwa teknis penulisan sekar sari menarik sekaligus langka. Karena adanya pemanfaatan teknik sekar macapat yang dalam tradisi penulisan terjemah. Dan tafsir Al-qur’an di jawa model tersebut sangat jarang dipakai. Apalagi pada setiap sekar macapat dimulai dengan bait-bait khusus yang menjelaskan terkait dengan surah yang diterjemahkan dan bersifat variatif antara satu surat dengan surat lainnya.
Sekar Sari Kidung Rahayu juga dijadikan sebagai teks wajib perlombaan macapat di jawa tengah yang diadakan oleh Departemen Agama kepada sekolah-sekolah Islam di Jawa Tengah. Tentunya ini bukan perkara enteng untuk menyingkirkan buku tersebut dan meletakkannya saja teronggok di rak buku kita.
Mungkin ada tanggung jawab kebudayaan untuk menjadikan karya tersebut langgeng. Terutama jika ingin buku tersebut menjadi salah satu buku besar.
Karena kabarnya Mbah Djuwahir biasa orang memanggilnya masih terus menulis dan berniat merampungkan ke 30 Juz yang ada di Al-qur’an.
Mungkin ke depan kita yang muda perlu mengapresiasi lebih. Sekalipun kita tak memiliki kemampuan menembangkan lagu-lagu macapat. Namun menjaga dan mungkin menjadikan karya ini menjadi besar adalah salah satu cara terpuji untuk mengabadikan karya ini.
Kritik Buku
Dalam benak saya seandainya ketigapuluh Juz itu selesai dan diberi tambahan teks arab dan bahasa Indonesia seperti masukan Pak AR di pengantar beliau. “Saya hanya menyayangkan, buku tembang macapat ini tidak dilengkapi dengan teks Arab dan teks Latin dari ayat-ayat yang terjemahannya ditulis dalam bentuk tembang ini. Seandainya buku ini dilengkapi dengan teks arab dan latin akan lebih bagus lagi. Saudara-saudara yang ingin mengkaji tembang ini dapat memperoleh kemudahan”.
Dalam bayangan saya ada sebuah karya besar dari salah satu aktivis Muhammadiyah yang terkenal dengan gerakan modernnya. Ternyata mampu membentuk sebuah karya tafsir Qur’an berkonsep macapat yang merupakan bagian dari budaya (dalam hal ini jawa).
Baca Juga: Hikmat Hidup: Harmoni Artistik Nicolaus Cusanus
Terlebih mampu menjadi panduan untuk pelajar-pelajar atau kaum muda bahkan kaum tua. Untuk bersama mempertahankan eksistensi macapat yang tak banyak kaum muda sekarang mampu mengembangkannya. Sekaligus nanti mampu memahami dan mengambil berkah dari kita belajar Al-qur’an.
Sumber Ilustrasi: suaramuhammadiyah.id
Menurut pengetahuan saya. Pada bait ke 5 tertulis Qul jarwane tembung iku*
Seharusnya akhir hurufnya jatuh suara (
i ). sesuai gurul agu tembang Kinanti. Maka seharusnya ” iku” diganti dengan kata ” kuwi ”
Mohon maaf.
Assalamualaikum .. Saya sangat tertarik tafsir mocopat ini, untuk dijadikan skripsi .. bolehkah saya dihubungkan dengan penulis ini no. wa nya? nuwun