Malam nanti, jika umat manusia sedang tidak dilanda pandemi covid-19, umat Islam sedunia akan melaksanakan salat tarawih. Salat sunnah berjamaah yang fenomenal, yang sebagian merindukannya, sebagian membencinya karena terlalu lama. Konon, salat tarawih ini adalah salat tahajjud yang dimodifikasi, dijalankan setelah salat isya’ langsung, dan dijalankan dengan berjamaah, semenjak era Umar dan masih lestari hingga hari ini.
Euforia Ramadhan: Oase Spiritualitas
Pada bulan yang mulia ini, para khatib dan ustadz menjadi lebih sibuk. Mengisi kajian disana-sini, mengkhotbahkan tentang betapa mulianya bulan Ramadhan ini. Bulan yang didalamnya Alquran diturunkan. Padahal Alquran adalah mukjizat terbesar seluruh nabi yang pernah ada. Selain itu, pada bulan ini ada malam yang lebih mulia daripada 1000 bulan. Lebih mulia daripada 83 tahun. Jadi, ketika kita salat pada malam hari ini, kita sama saja dengan salat selama 83 tahun! Fenomenal.
baca juga: Kebetulan-Kebetulan dalam Novel The Pelestine Prophecy
Pada bulan ini pula, setan-setan tak tahu diri yang memiliki hobi menggoda manusia dikurung di kerak neraka. Hal ini menjadi keunggulan mereka atas manusia karena terlebih dahulu merasakan siksa api neraka daripada manusia. Manusia yang penasaran dengan api neraka saja harus mengantri hingga kiamat yang dijanjikan itu datang.
Pada bulan ini pula, masyarakat mendadak menjadi dermawan. Mereka dengan ringan tangan memberikan nasi buka puasa secara cuma-cuma, dengan iming-iming dari para pengkhotbah bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang sama dengan yang mereka beri makan buka puasa. Infaq-infaq masjid mendadak naik berlipat ganda. Adik-adik TPA yang biasanya harus dibentak oleh orang tua agar mau berangkat ke masjid untuk TPA, sekarang dengan ringan hati berjalan ke masjid. Alasannya klise: teman yang banyak dan nasi gratis yang enak. Apalagi jika mendapatkan nasi dengan lauk ayam.
Konon, Allah juga mengobral pahala besar-besaran. Barangkali lebih besar daripada Gramedia ketika sedang cuci gudang. Dengan mengharap obralan pahala itu, masyarakat dengan ringan hati membuka lembaran Alquran yang sudah berdebu. Kemudian mereka baca dengan terbata-bata, sambil mengingat-ingat cara yang benar, yang barangkali mereka terakhir membacanya ketika Ramadhan tahun lalu.
Singkatnya, Ramadhan adalah semacam oase ditengah gersangnya spiritualitas masyarakat Indonesia yang semakin materialistis.
Euforia Ramadhan: Transformasi Manusia dari Jahat menjadi Baik
Para pengkhotbah tak lupa mengatakan bahwa dengan memasuki bulan Ramadhan, kemudian melewati hari suci idul fitri, masyarakat seolah-olah terlahir kembali menjadi bayi yang suci tanpa dosa. Tuhan sedang melakukan pemutihan massal terhadap dosa-dosa gelap manusia. Seperti narapidana yang dibebaskan melalui program asimilasi karena corona, masyarakat sangat bersyukur menyambut bulan ini.
Analogi lain yang tak luput dari para pengkhotbah tamatan pesantren itu adalah bahwa ketika keluar dari bulan Ramadhan dan melalui hari suci idul fitri, masyarakat menjadi seperti ulat bulu yang berubah menjadi kupu-kupu. Indah sekali. Ulat yang sebelumnya menjijikkan, yang rasanya harus segera dimusnahkan dari muka bumi, tiba-tiba berubah menjadi kupu-kupu cantik yang menggoda. Yang membuat bayi segera lupa akan mainan yang ia minta kepada ibunya.
Ramadhan, sebagaimana kita tahu, adalah tempat berproses manusia bengis yang harus dimusnahkan menjadi manusia murah senyum yang indah. Seperti kupu-kupu.
Gradasi Nilai Buruk Manusia
Namun, dalam hadits yang banyak diajarkan di pesantren-pesantren pula, nabi SAW mengatakan bahwa khoirukum qorni, tsumma alladziina yaluunahum, tsumma alladzina yaluunahum, tsumma alladzina yaluunahum. Yang artinya kurang lebih bahwa sebaik-baik generasi adalah generasiku, kata Nabi. Kemudian setelah itu adalah yang generasi selanjutnya, kemudian setelah itu adalah generasi selanjutnya lagi. Artinya, secara gradasi, umat Muhammad mengalami penurunan kualitas seiring dengan berjalannya waktu. Jika generasi Muhammad waktu itu mendapatkan nilai 10 oleh Allah atas kinerjanya menjadi khalifah di muka bumi, maka generasi selanjutnya mendapatkan nilai 9,5. Generasi selanjutnya mendapatkan nilai 9, kemudian 8,5, kemudian 8, dan seterusnya entah sampai berapa.
Namun tentu juga tidak baik menjadi jabariyah, pasrah menerima keadaan bahwa kita ini adalah orang yang mendapatkan nilai 2 dari Allah misalnya. Sebagai siswa yang baik, masyarakat harus berusaha bagaimanapun caranya mendapatkan nilai sempurna, sekalipun dikatakan bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Namun, hadits ini sedikit banyak bisa menjadi cerminan bagi kita dalam menjalani bulan yang suci ini. Bahwa pada bulan ini kita mendapatkan animo spiritualitas yang luar biasa. Namun, setelah Ramadhan pergi, ia menyisakan luka layaknya seorang kekasih yang ditinggal pergi ketika sedang sayang-sayangnya. Manusia kembali pada habitatnya yang asli. Manusia kembali pada sifat purbanya yang menyembah dunia dan mencintai hawa nafsu, meskipun seribu kali mengucap ikrar penyembahan kepada Tuhan semata.
Bahkan, Ramadhan sebenarnya belum menjadi momentum bagi masyarakat untuk peduli kepada lingkungan, untuk berusaha sedikit saja mengurangi sampah plastik misalnya. Bahkan, budaya konsumerisme manusia di malam hari pada bulan Ramadhan, menyisakan duka sampah plastik yang mendalam atas para aktivis ekologi.
Spirit Yang Dilupakan
Coba kita lihat, dari Ramadhan demi Ramadhan, apakah sampah plastik itu berkurang? Apakah kesadaran untuk merawat alam itu bertambah? Bahkan, apakah kesadaran membuang sampah pada tempatnya, suatu budi pekerti baik yang selalu diajarkan di Taman Kanak-kanak, itu bertambah? Tidak saudara. Padahal, itu adalah perintah Alquran. Dan kapan Alquran diturunkan? Terlalu miris untuk menjawabnya.
Ramadhan juga belum dimaknai sebagai spirit dimana kita harus memajukan peradaban melalui budaya ilmu. Padahal, Alquran, kitab suci yang diturunkan pada bulan ini, mendorong dengan sangat kuat agar orang yang percaya terhadap lembar-lembarnya itu mendalami ilmu pengetahuan. Benar bahwa masyarakat menjadi rajin membaca Alquran secara lisan. Tapi perintah Alquran untuk membaca buku, belajar, bertafakkur, dan berdiskusi rasanya juga tidak mendapat porsi yang baik di hati umat muslim.
Coba kita lihat, dari Ramadhan ke Ramadhan, apakah kesadaran masyarakat untuk membaca buku itu bertambah? Apakah kesadaran masyarakat untuk menulis itu berkembang? Apakah kesadaran masyarakat untuk memperbaiki literasi media dengan menghentikan penyebaran hoaks itu tumbuh? Tidak saudara. Padahal, itu adalah perintah Alquran. Dan kapan Alquran turun? Terlalu miris untuk menjawabnya.
baca juga: Ibu: Refleksi untuk Hari Kartini
Ramadhan selalu kita maknai dengan ueforia keberagamaan yang indah. Tumpah ruah pahala, tumpah ruah jamaah, tumpah ruah makanan buka puasa, tumpah ruah adik-adik TPA, tumpah ruah ucapan selamat berbuka dari kekasih maupun kolega, dan tumpah ruah-tumpah ruah yang lain. Namun, spirit pembelaan terhadap lingkungan dan ilmu pengetahuan yang diperintahkan oleh Alquran, kita lupakan tanpa merasa berdosa sama sekali.
Barangkali kita sengaja melakukan dosa karena tahu sebentar lagi kita akan mendapatkan grasi dari Tuhan sehingga bersih seperti bayi yang baru saja lahir. Maka, barangkali, Tuhan memberikan kita Ramadhan yang berbeda tahun ini, agar kita memaknai ulang spirit Ramadhan dengan benar. Barangkali. Barangkali juga, Ramadhan memang suci, namun kita penuh dosa. Barangkali.