Jika para pembaca telah menonton film “Sang Pencerah”, dalam film tersebut digambarkan bahwa ajaran Kiyai Dahlan sangatlah merujuk dari surat Al-Ma’un. Saat ini lebih akrab disebut “Teologi Al-Ma’un”. Sejak ditafsirkan oleh Raden Ngabehi Muhammad Darwisy pada abad 20-an tepatnya di tahun 1912. Nilai-nilai semangat dari surat Al-Ma’un begitu masif terpatri pada diri Muhammadiyah hingga dewasa ini.
Kolonialisme, feodalisme, bahkan diskriminasi-diskriminasi masyarakat yang berasal dari kultur dan budaya masyarakat Indonesia sendiri begitu mencolok masif dikala itu, abad 20-an. Sistem kolonialisme yang menimpa Bangsa ini memaksa masyarakat untuk sengsara, baik secara finansial, bahkan dalam aspek kemerdekaan diri.
Zaman dimana pendidikan begitu minim memaksa masyarakat pribumi melanggengkan kebodohan atas pembodokan kaum oligarki dan barat. Ditambah lagi dengan kultur budaya dan tatanan sosial masyarakat yang tidak memerdekakan manusia tetapi dipandang ideal dan haram hukumnya untuk diubah.
Era Digital
Zaman dan keadaan menuntut gerakan kongkrit lagi membumi untuk segala permasalahan yang sedang terjadi. Tafsir sura Al-Maun kemudian gerakan amal kongkrit oleh Kiyai Dahlan dan para muridnya adalah bentuk gerakkan sosial-praktis guna mengatasi problematika tersebut.
Konflik dan realitas masyarakat saat itu yang melatar belakangi Kiyai Dahlan memilih mengajarkan materi Surah Al-Ma’un sebagai materi awal dengan semangat pengentasan kemiskinan dibanding memilih materi-materi ayat yang mengundang argumentasi bahkan perdebataan teoritis-teologis.
Seiring bergantinya zaman, konflik yang terjadi telah berganti, sistem, tatanan masyarakat, budaya, sudah tentupula karaker masyarakat turut berganti berevolusi. Ditambah lagi zaman digitalisasi yang begitu menuhankan teknologi, Maya begitu digemari, game online menghegemoni para penerus generasi, ditambah sistem Kapitalisasi yang merajai.
baca juga Rahmah El-Yunusiyah: Mendidik Perempuan untuk Membangun Peradaban
Tidak dinafikan pula manfaat dari hasil pengetahuan makhluk tuhan ini, tapi perlu juga disadari bahwa beberapa konflik masyarakat yang terjadi di abad ini adalah implikasi kelalaian dan kekurang bijakan kita memanfaatkanya. Berangkat dari yang di atas, saya ingin sedikit menstrukturkan beberapa gerakan dan pemikiran dari beberapa tokoh hasil manifestasi kontekstualisasi Tafsir surah Al-Ma’un lintas generasi.
Kiyai Dahlan & Etos Al-Ma’un
Dalam film Sang Pencerah, diceritakan bahwa materi awal yang disampaikan Kiyai Dahlan pada murid-muridnya kala itu adalah Surat Al-Ma’un yang diejawatkan dengan realitas masyarakat pada saat itu. Pada intinya, Surah ini membahas dan mengajarkan bahwa ritus-ritus agama tidaklah ada artinya jika kaum muslim tidak melakukan ibadah amal kemanusiaan.
Lebih jauh, dalam surah ini bahkan dikatakan bahwa mereka-mereka yang tidak berupaya mengentaskan kemiskinan, mengabaikan fakir miskin dan anak yatim dianggap sebagai pendusta agama.
Dalam film maupun dalam berbagai literatur diceritakan bahwa Kiyai Dahlan menahan materi pembelajarannya pada surah Al-Ma’un hingga berbulan-bulan. Sampai-sampai beberapa muridnya merasa bosan dan menyajukan pertanyaan pada Kiyai, “mengapa Kiyai menahan materi ngaji hingga berlarut lama dan tidak segera pindah pada materi selanjutnya?”.
***
Mendengar pertanyaan tersebut kiyai Dahlan mengatakan, “apakah kalian sudah benar-benar paham dengan materi ini? apakah kalian sudah mempraktekkan nilai-nilai yang terkandung dalam surah ini?. Kiyai Dahlan lantas segera memerintahkan murid-muridnya untuk mencari orang paling miskin yang ditemui, kemudian memandikannya, memberikannya pakaian layak dan menyuapinya.
Selain itu, dalam mengamalkan Surah Al-Ma’un Dahlan juga menggandeng Kraton dan Budi Utomo dalam rangka memperluas dan percepatan pengentasan problematika yang terjadi. Gerakan Dahlan pada saat itu diantaranya, membangun sekolah, panti asuhan, rumah sakit dan pemberdayaan-pemberdayaan masyarakat. Inilah pemahaman Teologi Al-Ma’un pada fase awal.
Etos Al-Ma’un & Konflik Masyarakat Modern
Selain memberikan manfaat yang tidak terhitung, kemajuan zaman juga menyisakan tidak sedikit konflik. Mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, sosial-bidaya, politik, bahkan agama memiliki konfliknya masing-masing yang pastinya lebih pelik dibanding konflik-konflik masa lalu. Dari realitas yang terjadi saat ini, sudah seyogyanya muncul sebuah tafsiran konsep baru “fresh ijtihad” tentang pengentasan kemiskinan, khususnya perspektif Surah Al-Ma’un yang telah lama menjadi pondasi gerakan Muhammadiyah.
Moeslim Abdurrahman atau lebih akrab dipanggil Kang Moeslim menawarkan pemaknaan sekaligus pengamalan baru dari surah Al-Ma’un. Bagi Kang Moeslim, yang pertama harus diubah adalah definisi miskin itu sendiri. Menurut Kang Moeslim Pemaknaan miskin tidak boleh dibatasi hanya mereka yang mengalami masalah ekonomi saja.
Orang miskin adalah mereka yang mengalami marginalisasi sosial, seperti petani, buruh, nelayan, pemulung, pelacur. Bahkan hingga mereka yang mengalami diskriminasi karna minoritas (Ahmadiyah, Syiah dan beberapa lainya) meminjam istilah Said Tuhulelley “Humanitarian non-sektarian” the new mustad’afin.
Kedua, adalah bagaimana pengaplikasian Al-Ma’un bagi orang-orang miskin di era moderen ini? Tentu tidak dengan memberikan pakaian, makan dan memandikanya seperti yang dilakukan Kiyai Dahlan dan murid-muridnya dahulu. Karna sekarang banyak orang bekerja hampir 24 jam setiap harinya dan tujuh hari setiap minggunya tapi tetap miskin.
baca juga Menyambut Bulan Suci yang Tidak Suci-Suci Amat
Samasekali bukan karna mereka malas, tetapi karna mereka ada pada sebuah sistem nasional bahkan internasional yang melanggengkan kemiskinan dan tidak memberi kesempatan mereka bangkit dari kesengsaraan. Dalam menerapka etos Al-Ma’un di era modern ini, Muhammadiyah bukan lagi melakukan apa yang dilakukan Kiyai Dahlan dulu.
Tetapi dengan melawan sebab-sebab yang membuat mereka miskin dan termarginalisasi seperti kapitasisme, korupsi, dan kolusi. Melawan dengan jihad konstitusi, membrantas kebodohan, pemberdayaan, dan perbaikan sistem-sistem yang sering dimanfaatkan oleh para oportunis. Semua usaha ini adalah bentuk kongkrit dari kontekstualisasi surah Al-Ma’un.
Manifestasi “Fresh Ijtihad”
Diantara berbagai bentuk upaya gerakan dan hasil kongkrit dari manifestasi “Fresh Ijtihad” surah Al-Ma’uan adalah dirumuskannya “Fikih Mustad’afin”. Pengadvokasian mereka yang tergilas ketidak adilan, keikut sertaan Muhammadiyah dalam penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya. Peran Muhammadiyah diantaranya, dukungan secara penuh pada pemerintah untuk penutupan lokalisasi tersebut.
Muhammadiyah memberikan pendidikan pada anak-anak pekerja seks komersial atau PSK di sekolah Muhammadiyah tanpa diskriminasi, pemberian modal usaha dan pelatihan bagi para mantan PSK. Bhakan hinnga mencarikan suami bagi para mantan PSK sebagai upaya pragmatis Muhammadiyah menghentikan kegiatan prostitusi.
Amin Rais ikut andil dengan sumbangsihnya tentang konsep “tauhid sosial” dan high politics. Ahmad Syafii Maarif dengan “gerakan antikoripsi dengan semangat keagamaan”. LazisMu lembaga yang membidangi zakat dengan visinya “Menjadi Lembaga Amil Zakat Terpercaya”.
Digagasnya lembaga penanggulangan bencana atau biasa disebut dengan MDMC. Dengan visinya: “Berkembangnya fungsi dan sistem penanggulangan bencana yang unggul dan berbasis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) semakin mampu meningkatkan kualitas dan kemajuan masyarakat yang mengerti dan tangguh terhadap pembangunan yang mampu mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan bermartabat”.
Pertajam Kreasi
Selain itu, pengaplikasian Teologi Al-Ma’un ini juga dikemas dalam konsep (schooling, healing, dan feeding) yang sekarang kurang lebih Muhammadiyah mempunyai amal usaha di bidang pendidikan dasar dan menengah dijumpai 7.651 sekolah dan madrasah. Kemudian di bidang pendidikan tinggi 174 universitas, sekolah tinggi, institut, dan akademi.
Di bidang pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat terdapat rumah sakit 457. Serta panti asuhan 318 buah, panti jompo 54 buah, dan rehabilitasi cacat 82 buah. Untuk bidang sarana ibadah terdapat masjid dan musalla sebanyak 11.198. Dan tidak terhitung lagi amal-amal Fresh Muhammadiyah yang didedikasikan bagi kemanfaatan umum.
Harapanya kita sebagai generasi muda mulailah mempertajam inovasi dan kekreatifan masing-masing dalam bergerak. Pupuklah dengan basis keilmuan yang mumpuni dan jangan takut untuk aksi, tapuk kepemimpinan kemudian adalah amanah kita.