Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pandemi Covid-19 dan Ambyarnya Ritual Keagamaan

Mochamad Iqbal by Mochamad Iqbal
April 17, 2020
in Report
0
Fokus PFH
23
SHARES
134
VIEWS

Tiba-tiba harus berubah, dari anjuran berjamaah, bersilaturahmi, berbalik arus harus sendiri-sendiri. Tanpa kata, tanpa  jabat tangan apalagi cipika-cipiki berpelukan. Ibadah lebih baik di rumah bersama keluarga. Jaga jarak tidak boleh berdekatan dan hindari kontak langsung satu dengan lainnya.

Meski fiqh (Hukum Islam) menyediakan perangkat-perangkat dalam keadaan darurat, memperbolehkan atau bahkan menganjurkan untuk tidak berjamaah, tidak mengadakan sholat jumat dan yang lainnya, rasanya masih belum terima keadaan seperti sekarang ini.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Baca Juga: Di Atas Semuanya Adalah Ukhuwah Islamiyah

Seketika tradisi keagamaan yang sudah demikian lama mengakar harus berubah. Aneh saja ketika sehabis sholat yang biasanya saling berjabat tangan ke kanan dan ke kiri, sekarang era covid, tidak ada lagi yang melakukan. Tiba-tiba semua menghindar.

Sehabis salam, para jamaah langsung menjauh satu dengan lainnya. Barisan sholat yang sebelumnya berdempet-dempetan, sekarang merenggang dengan kesadaran masing-masing. Para imam yang biasa memperingatkan “rapat dan luruskan barisan, karena yang demikian bagian dari kesempurnaan sholat’’ juga tidak lagi mengucap demikian. Semua terasa hambar. Ritual ibadah penuh tata cara dan tradisi lenyap seketika.

Ambyarnya Ritual Ibadah

Sajadah yang biasanya jarang-jarang dibawa saat sholat jamaah, sekarang hampir semua membawanya. Meski karpet di masjid masih baru dan halus. Pihak masjid masih menggunakan karpet, sebagaimana sebelum masa pandemi covid-19. Mungkin Bengkulu masih dianggap daerah aman, sehingga tidak perlu berlebihan dan masih menggunakan karpet.

Di masjid saya biasa jamaah, meski tidak penuh-penuh amat, biasanya selalu melimpah jamaah. Maklum kesadaran masyarakat belakangan semakin meningkat. Seiring dengan maraknya majelis taklim di masjid. Di rumah-rumah warga dan media sosial yang bertebaran dengan ceramah para ustad.

Ketika pandemi Covid-19 menerpa, para jamaah mundur teratur. Termasuk saya yang sering dihinggapi rasa was-was bila berdekatan dengan orang lain atau jamaah lain. Baris sholat semakin menyusut. Orang-orang para jamaah yang bisanya kumpul-kumpul setelah sholat rawatib, juga banyak yang memilih langsung pulang. Masjid tidak lama kemudian lengang.

***

Jamaah taklim juga demikian, sebulan belakangan tidak nampak diadakan. Biasanya ibu-ibu seputar masjid, rame solawatan atau mengundang penceramah. Pun saya lihat tayangan pengajian yang bisanya live dengan menghadirkan banyak jamaah, juga tidak nampak. Semua menjadi berubah.

Jamaah tabligh yang biasanya wira-wiri berdakwah dari masjid ke masjid, dan tinggal di masjid beberapa hari di masjid biasa saya jamaah, juga bakalan tidak akan ada lagi. Terlebih lagi Jamaah Tabligh dalam beberapa kasus dianggap sebagai mata rantai penyebaran virus.Tentu hal ini akan sangat mengubah pemandangan dakwah di Bengkulu yang kental dengan kegiatan Jamaah Tabligh.

Pasalnya, orang pertama di Bengkulu juga aktif dalam kegiatan dakwah keliling. Artinya pemerintah kota sangat mendukung dakwah yang menggunakan masjid sebagai basis utama, dengan “gerilya” dari rumah ke rumah untuk mengajak masyarakat ke masjid. Entah akan masih ada lagi atau tidak, setelah kasus covid 19 ini dan angin politik Bengkulu berubah.

Sosialisasi dalam Diam

Di luar lingkungan masjid, masyarakat juga sebagian besar sudah menggunakan masker, sebagaimana himbauan pemerintah bila keluar rumah. Hal ini juga menjadi hal baru dalam kontek pola bersosialisasi di masyarakat. Masyarakat Indonesia yang humble, mudah bergaul dan akrab, tiba-tiba harus mengubah haluan sebagaimana masyarakat maju.

Corak masyarakat Indonesia adalah paguyuban (gemeinchaft), yang akrab dan tulus  satu sama lain. Suka menolong dan gotong royong. Masyarakat negara-negara maju pola hubungan sosialnya lebih bercorak patembayan (gechelchaft), dimana pola hubungan lebih berbasis profesionalisme kepentingan.

Baca Juga:  Perempuan, Islam dan Feminisme

Fenomena masyarakat patembayan sangat terasa semenjak pandemi Covid-19 melanda. Masyarakat tidak lagi berbincang akrab, hanya sekedarnya dengan penutup hidung dan mulut (masker) dengan rasa takut akan terjadi sesuatu yang buruk nantinya. Kumpul-kumpul yang biasanya ada di masyarakat, entah itu hajatan sosial kemsyarakatan atau ritual keagamaan, berhenti secara total.

Dari Ritual ke Subtansial

Kini masyarakat agama dihadapkan pada situasi baru, di mana ibadah-ibadah keagamaan tidak lagi bisa dilakukan secara demonstratif. Dengan menghadirkan massa dalam skala besar, atau pengeras suara yang memekik telinga. Masyarakat agama dianjurkan lebih dianjurkan ibadah dalam sunyi dengan keluarga dekat di rumah atau di tempat masing-masing.

Hal ini juga dianjurkan dalam Islam. Perintah bangun di sepertiga malam, untuk sholat malam (tahajjud) adalah bernilai pahala yang sangat tinggi. Bukankah Muhammad Saw juga menerima wahyu untuk pertama kali dalam kesunyian Gua Hiro?

Kondisi pandemi ini harus menjadi “madrasah” bagi peningkatan kualitas dalam agama. Bila sebelumnya hanya sibuk pada ritual keagamaan, dengan ibadah “sunyi” ini diharapkan menemukan pesan utama agama yang agung, yaitu membangun peradaban mulia.

***

Terlebih ramadhan sudah di depan mata, yang tentu suasananya sangat berbeda. NU dan Muhammadiyah sudah mengeluarkan fatwa, agar tidak mengadakan ibadah-ibadah yang bersifat mengumpulkan masa. Seperti tarawih atau takbir keliling dan bahkan mudik pulang kampung.

Pandemi Covid-19 adalah bencana umat manusia, tanpa memandang suku, negara atau kelompok agama. Ritual keagamaan boleh ambyar, tidak lagi diadakan. Paling tidak untuk sementara waktu. Tidak perlu bekecil hati, karena  masih bisa beribadah dengan leluasa, meski dengan tradisi yang berbeda.

Di sinilah umat beragama itu diuji, apakah keberagamaan selama ini otentik atau pura-pura? Apakah ada perbedaan, ibadah yang dilihat oleh orang banyak, dengan ibadah dalam sunyi? Tentu yang mengetahui adalah Tuhan dan diri umat beragama masing-masing. Wallahua’lam

Penulis adalah Dosen IAIN Bengkulu dan Pengurus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bengkulu

Terkait

Tags: Coronacovid-19Keagamaanpencegahan
Previous Post

Di Atas Semuanya Adalah Ukhuwah Islamiyah

Next Post

Membaca Tafsir Syair Cak Nun

Mochamad Iqbal

Mochamad Iqbal

Next Post
Membaca puisi atau syair memang membutuhkan beberapa perangkat untuk mamahaminya. Setidak-tidaknya, dalam menafsirkan karya sastra puisi kita membutuhkan tafsir teks dan tafsir konteks. Tafsiran teks, di dalamnya termasuk logika, pencitraan bahasa, rasa, dan intuisi. Sementara tafsir konteks, di dalamnya termasuk kehidupan si pengarang dan realitas seperti apa yang membentuknya.

Membaca Tafsir Syair Cak Nun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.