Oleh: Dariyana
Dalam perkembangan Islam, kita mengenal banyak sekali ulama dan pemikirannya. Di sini saya akan sedikit mengupas tentang salah satu tokoh intelektual muslim modrrn yang berasal dari Negara Turki. Dan mungkin di antara kita belum banyak mengenalnya. Dia adalah Said Nursi, atau yang lebih dikenal dengan Badiuzzaman Said Nursi, lahir pada 1293 H (1876 M) di desa Nurs, Bitlis Timur, Anatolia Turki.
Orang tuanya bernama Mirza dan ibundanya bernama Nuriye. Keluarga Said Nursi terkenal dengan keluarga yang selalu menjunjung tinggi agama Islam dalam hidup sehari-harinya. Ayahnya terkenal sebagai orang yang sangat tekun beribadah, sedangkan ibunya sudah dapat menghafalkan Al-Qur’an ketika masa mudanya.
Nah di sini kita akan membahas masa perjuangan dakwah dari Said Nursi. Dalam dunia pendidikan, untuk pertama kalinya Said Nursi belajar di Kuttab (madrasah) pimpinan Molla Mehmet Emin di desa Thag pada tahun 1885. Selain itu, ia menerima pendidikan dasar yang berasal dari para ulama terkenal di daerahnya.
Jejak Pengembaraan Intelektual Badiuzzaman Said Nursi
Karena ia mempelajari semua ilmu dengan cepat maka pada tahun 1891, ia bersama seorang temannya memutuskan untuk berkelana sembari mencari ilmu-ilmu lainnya. Tempat yang mereka jadikan tujuan adalah salah satu madrasah (sekolah) yang berada di wilayah Bayezid, Turki Timur. Di sinilah Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu dasar tentang agama.
Dalam waktu tiga bulan dia telah berhasil menguasai ilmu dan ia juga berhasil membaca seluruh buku yang pada umumnya dipelajari di sekolah-sekolah agama. Dalam waktu relatif sangat singkat ia mampu menguasai ilmu matematika, ilmu falak, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain.
Baca Juga: Cahaya di Tengah Tiga Lapis Kegelapan
Beliau terkenal sebagai anak yang cerdas terbukti dengan kemahirannya dalam menguasai beberapa ilmu bahasa Arab dengan baik terkait ilmu nahwu dan sharaf. Kecintaanya terhadap ilmu membuat beliau selalu berpindah-pindah ke berbagai daerah dan kota. Ia mendatangi sejumlah guru dan madrasah dengan mempelajari ilmu-ilmu keislaman dari beberapa buku dengan penuh ketekunan.
Daya Hafal yang Luar Biasa
Kerena kecintaannya terhadap ilmu beliau memiliki kecerdasan yang sangat cemerlang seperti yang diakui oleh seluruh gurunya setelah menerima beragam ujian sulit yang diberikan. Kecerdasan yang dimilikinya menyatu kuat dengat kekuatan ingatannya. Selain itu, Beliau melahap (membaca, menghafal dan menganalisis) kandungan kitab-kitab di masa mudanya.
Seperti kitab tafsir, hadist, ilmu kalam , fiqih dan mantiq. Kekuatan daya hafal yang sangat luar biasa membuatnya mampu untuk menghafal dan mengingat di luar kepala semua ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Ketika hari ini kita terlalu meremehkan kemampuan hafalan, maka Nursi membuktikan bahwa hafalan memiliki porsi yang sangat penting dalam dunia intelektual.
Risalah An-Nur
Pada tahun 1894, Said Nursi pergi ke Kota Van. Di sanalah ia mulai mendalami beberapa saintific yang berupa buku matematika, falak, kedokteran, kimia, fisika dll. Dari buah usahanya (perpaduan ilmu khazanah Islam dan ilmu sains) dia menelurkan beberapa karya yang ditulisnya sendirii. Salah satu yang mashur adalah Risalah An Nur.
Tulisan tersebut terdiri lebih dari 130 Risalah. Semua tulisannya dikumpulkan menjadi satu dan diberilah judul Kulliyat Rasa il an Nur (Koleksi Risalah An Nur). Di dalam buku tersebut berisi empat bagian (seri) utama yaitu: Al Kalimat, Al Maktubat, Al Lamaat dan Asy Syuaat.
Risalah An-Nur sangat unik karena berbeda dengan yang lain. Gaya tutur yang mudah dicerna dalam menyampaikan sejumlah pemahaman Islam dan menguatkan pilar-pilar iman.
Kiprah dalam Politik
Tepat pada tanggal 23 Juli 1908, konstitusi kedua ditetapkan dalam sistem pemerintahan di kerajaan Turki Utsman. Untuk pertama kalinya, Said Nursi terlibat dalam dunia politik dan menjadi pendukung pemerintahan konstitusional. Pada masa inilah disebut dengan Said Qadim yakti keterlibatan aktif beliau dalam politik.
Sumbangsih dan perhatian yang ia miliki difokuskan pada kegiatan orasi ilmiah dan menulis beberapa makalah yang digunakan sebagai media atau alat untuk menjelaskan makna kebebasan dalam Islam.
Selain itu pula, tulisannya mengandung Hukum atau Syari’at Islam mulai diterapkan dalam pemerintahan dan ikut berperan aktif memberikan peringatan bagi yang menyalahgunakan makna kebebasan berpolitik.
Pada tahun 1910, muncul beberapa gagasan penting tentang politik. Ide itu muncul ketika kepulangnya ke Turki Timur dan berkeliling berbagai kota dan kawasan pedesaan termasuk kabilah-kabilah dalam rangka mensosialisasikan pemerintahan konstitusional dan makna kebebasan menurut Islam kepada masyarakat.
Dialog-dialog yang dilakukan antara Badiuzzaman Said Nursi dan masyarakat dikumpulkan menjadi satu risalah yang berjudul Munazarat (Debat-debat). Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1913. Selain karya tersebut, dia menerbitkan beberapa karyanya berjudul Divan’i Harbi Orfi ve Said Nursi, Sunuhat, Isharat, Tuluat yang berisi tentang permasalahan politik, kemasyarakatan, peradaban dan lain-lain.
Khutbah Badiuzzaman Said Nursi Yang Menggelorakan
Dalam kiprah lainnya, Badiuzzaman Said Nursi pergi mengunjungi kota Damaskus untuk menyampaikan khutbah di Masjid Umayyah tentang kondisi umat Muslim dan cara mengatasi masalah-masalahnya. Khutbah ini, beberapa tahun kemudian diterbitkan dengan berjudul Hutbe-i Samiye.
Dalam beberapa karya-karya yang sudah ditulis tersebut dapat disimpulkan bahwa, Nursi tidak sepakat dengan pemerintahan absolute (otoriter). Oleh karena itu, dia mendukung pemerintahan konstitusional dan kebebasan yang sesuai dengan Islam. Menurutnya, tugas para pejabat adalah melayani masyarakat, bukan untuk tirani. Ia menerima nasionalisme Islam yang meliputi semua aspek kehidupan umat Islam.
Nampaknya, pemikiran nasionalisme Nursi senada dengan pemikiran pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani. Pernyataan ini diungkapkan oleh Nursi bahwa ia sepakat dengan pemikiran al-Afghani tentang pan-islamisme. Di samping itu, menurutnya, sebab kelatarbelakangan umat Islam adalah kebodohan, kemiskinan dan persilisihan. Untuk mengatasi problem tersebut ada tiga cara, yaitu meningkatkan pendidikan, kerja keras dan kemajuan, dan persatuan umat Islam.
Dari Penjara ke Penjara
Setelah keterlibatannya yang lumayan lama dalam dunia politik, Badiuzzaman Said Nursi menyadari bahwa kehidupan politik tak sesuai dengan kodrat hidupnya. Sehingga beliau memutuskan untuk keluar dari dunia tersebut yang memilih untuk aktif dalam aktifitas Inqadz al-Iman (menyelamatkan keimanan).
Pada tahun 1925, ada satu pemberontakan terjadi di Turki Timur di bawah pimpinan seorang pemimpin Thariqah Naqsyabandiah kepada pemerintahan Turki sebagai perlawanaan terhadap politiknya yang memusuhi Islam.
Baca Juga: Imam Al-Ghazali: Dari Intelektualisme Hingga Spiritualisme
Walaupun ia tidak terlibat dalam pemberontakan tersebut, ia diasingkan ke Burdur, Turki Barat. Sejak itu, kehidupan Nursi berada di penjara atau pengasingan selama 24 tahun. Hidup dari satu penjara ke penjara yang lain. Meskipun dia di penjara tapi pikirannya tetap bebas dalam berfikir.
Selama periode ini pula, dia mengarang karangannya yang berjudul Risalah An-Nur. Badiuzzaman Said Nursi wafat pada tanggal 25 Ramadhan 1379 (23 Maret 1960) di Kota Urfa. Walaupun jasadnya telah tiada, namun pemikiran-pemikiran beliau tetap abadi di seluruh negeri dalam Kumpulan Risalah An-Nur. Risalah An-Nur sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yakni bahasa Arab, bahasa Inggris dan termasuk bahasa Indonesia.