Madinah adalah suatu kota yang menjadi sejarah transformasi gerakan umat islam secara eksponetial. Di kota inilah umat islam berhijrah dan menata barisan yang kemudian menjadi kekuatan baru dunia mengalahkan mengalahkan dominasi Romawi dan Persia. Terdapat pelajaran berharga dari pergerakan islam di Madinah, dimana masjid dijadikan sebagai pusat pembangunan peradaban bagi umat islam.
Demikian pentingnya peran masjid bagi tatanan sosial kehidupan umat Islam sehingga dalam sejarah hijrah dijelaskan bahwa sesampainya umat Islam di Madinah, maka yang pertama kali dilakukan adalah mencari lahan untuk membangun masjid. Setelahnya dengan cara gotong royong mereka bahu-membahu membangun masjid dengan tiang dan atap dari pohon maupun pelepah kurma serta hanya berlantaikan tanah.
Terdapat setidaknya dua peran masjid waktu itu, yakni fungsi ritual keagamaan dan fungsi sosial kemasyarakatan. Selain masjid digunakan sebagai tempat ibadah (mahdhah) seperti shalat fardlu berjamaah, tarawih, dzikir dan berdoa, masjid pun digunakan sebagai ibadah (ghairu mahdhah) seperti majelis ilmu, musyawarah, peradilan, mengatur strategi perang, merawat korban perang dan menerima tamu kenegaraan.
baca juga Saatnya Berdiam, Coba Dengarkan Suara Alam
Berangkat dari konsep historis tentang masjid di masa Rasulullah SAW. Fenomena dilapangan saat ini fungsi dan peranan masjid belum sesuai dengan harapan. Masjid tetap sebagai tempat penyelenggaraan ibadah, artinya berfungsi sebagai pusat pembinaan mental spiritual, akan tetapi masjid memiliki sisi lain yang mulai terlupakan yaitu peran strategis sebagai pusat pembinaan dalam upaya melindungi, memberdayakan, dan mempersatukan umat untuk mewujudkan umat yang berkualitas, moderat dan toleran.
Ditengah pandemi virus covid-19 fungsi masjidpun mulai tersorot sebagai pusat atau titik perkumpulan massa yang dapat dengan mudah memicu penyebaran virus ini semakin massif, dari ijtihad inilah muncul fatwa MUI yang menghimbau untuk melangsungkan shalat secara mandiri di rumah masing-masing.
Peran dan fungsi masjid seakan semakin tenggelam disini, masjid seharusnya mampu mengambil peran penting ditengah pandemi yang melumpuhkan semua sendi kehidupan ini, tidak hanya kesehatan, tetapi juga ekonomi. melalui saldo kas yang selama ini terkumpul, kita setidaknya harus berfikir untuk membuat program dan rancangan alokasi yang real sehingga masjid mampu menjadi imun bagi jamaahnya.
Peran Masjid dalam Menghadapi Pandemi
Melihat gejala yang sedang berkembang di tengah masyarakat mengenai kasus covid-19 maka diperlukan paradigma baru dalam memaksimalkan peran masjid bagi pemberdayaan umat. Setidaknya ada 2 problem besar dimana masjid dapat berperan ditengah kasus yang berkembang secara eksponelsial ini.
Pertama, problem ekonomi. Masyarakat yang bekerja di sektor formal mungkin masih bisa bekerja dari rumah atau work from home (WFH) akan tetapi mereka yang bekerja di sektor informal harus mengalami penderitaan karena menurunnya omset atau bahkan mengalami ancaman PHK dari atasan.
Disinilah peran kas masjid yang mengendap sampai saat ini harus mulai di tarik dan dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menjaga kehidupan masyarakat kelas bawah baik yang ada di desa ataupun yang ada di kota karena merekalah yang rentan terdampak dari kebijakan social distancing.
Kedua, problem pangan. Mereka yang bekerja di kota mengalami problem karena sepinya orang sehingga tidak memiliki banyak uang untuk makan contoh kasus seperti tukang becak atau ojek di daerah kota. Jangankan untuk memberi kiriman uang kepada keluarga di rumah, untuk biaya makan agar dapat bertahan hidup di perantauan pun mereka mungkin mengalami kesusahan karena pandemi ini, masjid harus ikut memikirkan nasib pekerja serabutan ini.
Masjid bisa disulap menjadi dapur umum dengan tetap mempertimbangkan kebersihan dan kesehatan. Masjid senantiasa membuat nasi-nasi kotak untuk dibagi ke kalangan ini (pekerja serabutan).
Belajar dari Masjid Jogokariyan
Belajar dari masjid Jogokariyan yang senantiasa membuat terobosan-terobosan program untuk mensejahterakan jamaahnya. Jika masjid lain senantiasa mengumumkan saldo infaknya setiap bulan dengan jumlah yang tidak sedikit. Maka masjid Jogokariyan di Yogyakarta malah sebaliknya. Masjid ini senantiasa berusaha keras agar saldo infaknya di angka nol rupiah setiap kali diumumkan di akhir bulan.
Terdapat alasan yang fundamental dari pengurus DKM untuk menyegerakan pemutaran uang jamaah tersebut. Jamaah sebenarnya menunggu infaknya menjadi pahala bukan mengendap di rekening. Pengumuman infak masjid yang tidak sedikit, setidaknya akan menyakitkan bagi warga sekitar masjid yang tidak memiliki biaya untuk kehidupan sehari-hari. Atau bahkan untuk berobat karena sakit yang diderita.
Penulis agaknya sepakat dengan alasan fundamental ini. Toh kebutuhan mendasar masjid setiap bulan berkaitan dengan kebersihan, listrik, air dan perawatan lainnya yang sifatnya bulanan. Jikalau kebutuhan tersebut sudah terselesaikan atau terakomodasi, maka uang sisa akan dimasukkan ke rekening. Kemudian akan diputar oleh pihak bank dimana kita menyimpan uang jamaah tersebut.
baca juga Imam Al-Ghazali: Dari Intelektualisme Hingga Spiritualisme
Oleh karenanya dana yang ada saat ini seyogyanya mampu dimaksimalkan agar masjid ikut ambil peran dalam permasalahan covid-19 ini. Masyarakat kelas bawah harus diposisikan sebagai subjek dalam pemberdayaan. Hal tersebut karena mereka merupakan bagian inklusif dan sentral dalam pembangunan, perlu dilakukan pola pendataan yang baik.
Pemerintah, organisasi masyarakat, dan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya perlu bekerja sama. Kerjasama dengan asas kesetaraan demi kepentingan kolektif untuk dapat memenuhi kewajiban masyarakat selama mereka kehilangan pekerjaan karena pengaruh global ini.