Oleh: Ngadiyo
Membangun budaya literasi membutuhkan energi besar dan peran dari berbagai pihak. Tidak hanya institusi pendidikan dan negara, tetapi yang paling utama adalah keluarga sebagai kehidupan awal berkomunikasi antarmanusia.
Ketika kita menikmati bacaan dari apa saja terutama media cetak. Berupa majalah, koran, buku sebagai sumber informasi dan melakukan proses berliterasi akan mendapatkan kesenangan, kebahagian dan kemewahan intelektual.
Secara sederhana literasi itu “keberaksaraan”. Literasi mencakup kemampuan membaca dan menulis. Pencapaian kemampuan atau keahlian ini membutuhkan waktu, kesabaran, kengototan, keuletan dan laku dalam kehidupan sehari-hari. Usaha untuk mendapatkan kemahiran literasi ini memerlukan pembelajaran literer.
Memulai Latihan Literasi
Baik dimulai di rumah sebagai basis pemerolehan bahasa lisan, di mana mulut bercerita. Pendengaran anak sejak bayi menyimak ujaran kata demi kata. Memberikan pemerolehan bahasa dari bunyi-bunyi yang terdengar di telinga anak.
Keberlangsungan kebahasaan bermula di rumah. Orangtua sebagai penutur utama pengenalan bahasa menjadi kebermulaaan mendapakan pelbagai tuturan. Mulai dari pujian, pemberian ungkapan sayang, usaha meninabobokan dengan nyanyian dan doa. Serta tangis bayi sebagai bahasa awal komunikasi sebelum anak mengenal keberaksaraan secara visual di sekelilingnya.
Baca Juga: Menjadi Pakar di Era Matinya Kepakaran
Bunyi-bunyi dari mulut yang berbicara berusaha merangsang pemahaman berbahasa. Tindak tutur dari penutur itu merasuk dalam otak bahasa yang kemudian dicerna secara mekanis kepada lisan untuk menjawab dengan gerak bibir. Keberlangsungan waktu berkomunikasi lisan ini membersamai kelancaran bercakap, saling menciptakan cerita-cerita lisan satu sama lain.
Kekuatan Kata-Kata
Pendengar dari bunyi-bunyi terucap dari mulut berbicara menjadikan kekayaan pencapaian kosakata yang akan terus bertambah. Demikianlah pemerolehan bahasa lisan secara alamiah manusia dari bermula menyimak.
Terlebih menirukan dan membahasakan dengan alat bunyi katup bibir dan seperangkat organ tubuh lain. Gerak raga dan suara bisa didengar dan dirasakan bersama ketegangan serta menerima rangsangan informasi antarmanusia yang terus menjalin interaksi verbal.
Setyaningsih (2017) menyampaikan bahwa lisan melibatkan gerak tubuh yang alamiah atau sering tanpa rencana. Mereka memiliki keyakinan besar bahwa kata-kata yang diucapkan dan dituturkan memiliki kekuatan magis.
Dihidupkan oleh dorongan kuat; disampaikan dengan menawan dan penuh daya hidup. Tubuh sekaligus bunyi keluar dari mulut itu terkenang tetapi tidak mungkin terulangi dengan cara yang sungguh sama.
Menyimpan Pengetahuan
Visual benda tertangkap mata memahamkan makna untuk mengenali dan memfungsikannya. Gerak bola mata terhadap apa yang dilihat berusaha membahasakannya dalam ujaran. Munculah penamaan benda-benda.
Aktivitas memberikan keterangan proses membuat, menjadikan sesuatu, mengembangkan dan terus berinovasi dalam menjelaskan apa saja. Usaha memahatkan apapun itu memerlukan aksara untuk dieja dan dibaca manusia. Keberaksaraan dibutuhkan untuk mempermanenkan pengetahuan sehingga bisa digunakan oleh siapa saja.
Para penggumul aksara berusaha merangsang diri memamahi kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, dan sampai ke teks komprehensif. Baik ketika membaca penggalan informasi dengan beragam jenis teks, maupun bergerak membuka lembaran-lembaran buku. Mereka adalah pembaca aksara yang menghampiri tulisan untuk menyerap pengetahuan.
Melalui Media dalam Berliterasi
Media literasi memiliki peranan penting untuk mengakses pengetahuan, memajukan daya pikir atau mentalitas, kreativitas, komunikasi, kerjasama dan membangun peradaban. Kita bisa memperoleh pengetahuan dengan proses membaca serta menulis yang memaksa kerja otak lebih keras dan cerdas. Tentu ini tetap peristiwa literasi yang senantiasa bergeser dari bermula kelisanan ke keaksaraan.
Tataran literasi mulai dari literasi dini (early literacy), literasi dasar (basic literacy), literasi perpustakaan (library literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), dan literasi visual (visual literacy).
Menurut Walter J. Ong (2013) pergeseran kelisanan menuju keaksaraan terjadi pada aneka seni verbal (sajak, narasi, wacana, deskriptif, seni berpidato, drama, historiografi, biografi, karya-karya filosofis maupun ilmiah).
Etos literasi membangkitkan diri untuk bergerak bersama kata-kata dalam berbagai media: buku, majalah, koran, buletin, poster, leaflet, mural, mading, papan informasi, televisi, radio, corong, situs, media daring dan lain sebagainya.
Baca Juga: Kisah Nabi Musa Sebagai Titik Temu “Tiga Agama Ibrahim”
Ketika menggerakan mata di hadapan aksara, imajinasi akan terbangun melalui proses biokimia di otak dan sekujur tubuh. Seperti dituturkan kembali oleh Pamusuk Eneste (1987) sebagaimana dikutip oleh GP Sindhunata dalam sambutannya di acara seminar 100 Tahun HB Jassin bahwa imajinasi adalah hakikat seni.
Imajinasi itu berkenaan dengan seniman ataupun peminatannya. Tanpa imajinasi tak ada seni, tak ada penghayatan estetis oleh peminat. Yang ada hanyalah intelek, pikiran, dan gagasan dikutip dari Kompas, 23 September 2017.
Penulis adalah CEO Penerbit Diomedia