Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pancasila Adalah Fikrul Islami

Ayik Heriansyah by Ayik Heriansyah
Februari 20, 2020
in Narasi
0
Radikalisasi Pancasila: Sumbangsih Kuntowijoyo
38
SHARES
223
VIEWS

Ketakutan kaum radikal yang mau mendirikan khilafah akan diberangus pemerintah sampai ke akar-akarnya karena gerakan mereka ingin mengganti ideologi negara, membuat mereka terus menerus melancarkan propaganda anti Pancasila, membenturkan Pancasila dan agama, mem-bully Pancasila serta mendelegitimasi Pancasila secara membabi buta.

Membabi buta karena mereka menolak Pancasila tanpa membaca, mengkaji, menghayati dan menjiwai Pancasila dengan objektif dan ilmiah terlebih dahulu. Mereka sebenarnya panik.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana M. Ismail Yusanto (Juru bicara HTI) gagap, gugup, salah tingkah dan serba salah ketika ditanya Aiman Wicaksono dari Kompas TV 15 Juni 2017, tentang apakah Pancasila tetap ada ketika khilafah tegak?

Bahasa tubuh M. Ismail Yusanto menjawab, “Pancasila akan lenyap”. Namun jawaban ini ditutupi dengan lisannya. Dia berkelit berusaha mengaburkan/mengabstrakkan masalah dengan mengatakan bahwa proses dialektis masyarakat yang akan menentukan Pancasila tetap atau lenyap ketika khilafah berdiri.

baca juga Kebersahajaan Rasulullah

Fanatisme kelompok (ashabiyah) terlalu membebani kaum radikal. Ditambah obsesi untuk menegakkan khilafah terlalu membuncah, membuatnya mereka kehilangan objektivitas dan selalu emosional dalam menyikapi narasi-narasi yang mendukung NKRI.

Seandainya mereka bersikap rasional, dengan paradigma tasyri’i, sejatinya sudah sangat jelas dan gamblang bahwa Pancasila adalah ajaran yang islami. Karena islami, Pancasila sebagai sebuah ajaran, sakti dan abadi.

Faktanya memang Pancasila bukan wahyu ilahi. Pancasila tidak tercantum dalam al-Qur’an dan hadits. Pancasila bukan nash. Cara berpikir kaum radikal yang wahabis, yaitu segala sesuatu harus ada nash, harus tertulis dan harus terbaca langsung dengan mata kepala adalah cara berpikir yang salah.

Jumlah ayat dan hadits terbatas. Al-Qur’an dan hadits tidak mencatat segala hal yang ada alam semesta ini. Al-Qur’an dan hadits juga tidak mencatat semua yang dipikirkan, dirasakan dan diperbuat oleh masing-masing orang. Kitab yang mencatat segala sesuatu itu namanya kitab Lauhul Mahfudz. Kitab ghaib, kita tidak bisa membacanya. Itu rahasia Allah swt. Saya yakin Pancasila tercatat dalam kitab tersebut.

Kaum radikal salah besar saat mereka menolak Pancasila dengan dalih, Islam itu hanya yang ada nash-nya. Dalih ini tidak nyambung, sesat menurut logika. Benar, Pancasila bukan nash. Sebab itu keliru kalau kita sebut Pancasila ajaran Islam. Akan tetapi sila-sila Pancasila digali dari nash (sumber ajaran Islam) yakni al-Qur’an dan hadits melalui proses ijtihad pemikiran.

Setiap sila dan butir-butirnya bersandar kepada dalil-dalil syara’. Tepat sekali kalau kita sebut Pancasila ajaran yang islami. Pancasila fikrul Islami. Sudah banyak ulama yang mengulasnya. Kaum radikal tinggal baca, kaji, pahami, jiwai dan adopsi. Bukan tempatnya kalau saya uraikan pada tulisan singkat ini.

Yang penting, kaum radikal yang katanya ingin menegakkan syariah dapat bersikap adil dan beradab terhadap Pancasila. Anggaplah kaum radikal tidak sependapat dengan penjelasan para ulama tentang Pancasila, tetap tidak mengubah Pancasila sebagai fikrul islami.

baca juga Minoritas Tapi Bukan Minoritas

Selama nash dan dalil syara’ yang dijadikan sandaran para ulama menerima Pancasila tidak berubah, maka status Pancasila tetap fikrul islami. Ketidaksetujuan kaum radikal tidak bisa mengubah Pancasila menjadi ide kufur atau ajaran thaghut.

Adab dan etika ikhtilaf dalam fiqih juga berlaku terhadap fikrul islami. Setiap orang harus sabar membiarkan orang lain berbeda pendapat dengannya. Jangan mencelanya, meruntuhkan kehormatannya apalagi menyebarkan fitnah.  Fikrul islami tidak boleh diserang secara terbuka dengan maksud provokasi.

Jika ingin dibahas, perbedaan pendapat tentang fikrul islami, dibahas dengan ilmiah secara terbatas sesama ulama dan tertutup untuk orang awam. Sangat disayangkan, isu agama dan Pancasila dijadikan bahan propaganda politik kaum radikal. Sangat tidak beradab dan tidak etis. Berhentilah menyerang Pancasila.

sumber: pecihitam.org

Terkait

Tags: gagasanislamikalimahsawapancasila
Previous Post

Kebersahajaan Rasulullah

Next Post

Dr. Phil. Sahiron, M.A. Jabat Plt. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ayik Heriansyah

Ayik Heriansyah

Pengurus at LDNU PWNU Jawa Barat Pemerhati Pergerakkan Islam Transnasional | Pernah menjadi Ketua HTI Bangka Belitung

Next Post
Dr. Phil. Sahiron, M.A

Dr. Phil. Sahiron, M.A. Jabat Plt. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.