Kamis, Oktober 15, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Pengalaman Mondok di Pesantren Muhammadiyah

RedaksiKS by RedaksiKS
Desember 10, 2019
in Narasi
1
Pengalaman Mondok di Pesantren Muhammadiyah
66
SHARES
390
VIEWS

Oleh: Ahmad Norma Permata[1]

Pondok di Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai sebuah model pendidikan yang baru, karena berbeda dengan konsep pendidikan yang dicetuskan oleh Kiyai Dahlan. Namun terkait dengan itu ada satu pandangan baru terkait dengan Pondok Muhammadiyah. Apalagi ada satu terobosan baru dari salah satu pimpinan Muhammadiyah, yakni Mohamad Djazman (saat itu sebagai seorang Rektor UMS) dengan mendirikan pondok di lingkungan perguruan tinggi.

TulisanTerkait

Ketika Kritik Menjadi Bagian dari Kekuasaan: Kooptasi Intelektual dan Matinya Jarak Kritis

Hidup Tanpa Rem: Akselerasi Sosial Postmodern dan Kelelahan Manusia

Dari Keberagaman Menuju Ketulusan Sejati

Yang kemudian hari Pondok Muhammadiyah itu dikenal dengan nama Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran, atau lebih populer dikenal dengan Pondok Shabran. Di mana secara kelembagaan dan struktural terkait langsung dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Melalui kesempatan ini Saya ingin sedikit bercerita terkait dengan pengalaman saat mondok di Shabran.

Menariknya di sana atau di Shabran itu, adalah adanya nuansa akademis dan pelatihan keberanian yang ditonjolkan sebagai jati diri pada mahasiswa. Pondok Shabran itu bukan sistemnya. Sistem tetapi bukan teknis pengajaran di mana lebih kepada sebuah lingkungan (envirountment) untuk menciptakan sebuah mentalitas. Sistem untuk menciptakan lingkungan sosial psikologis yang menjadikan seseorang itu tangguh dan berani untuk diadu.

Anak Shabran itu sebenarnya tidak bisa apa-apa. Saya misalnya. Ijazah Saya saja nilai akumulatifnya tidak sampai lima. Tetapi Shabran itu dibuat dengan niat yang sangat serius dan beban yang sangat berat yaitu untuk melahirkan kader-kader persyarikatan yang tangguh dan berani. Sehingga membuat anak-anak Shabran itu unggul setidaknya dalam masalah keberanian dan semangatnya.

Kebebasan dan Tanggung Jawab

Anak-anak dari seluruh Indonesia, mereka dididik di sana dengan beban-beban yang sangat berat tetapi dengan cara yang sangat cerdas dan sangat arif. Ada dua hal yang Saya ingat ketika Saya pertama kali datang ke Shabran. Seingat Saya, saat itu Pak Djazman memiliki kredo, Shabran itu hanya memiliki satu aturan yaitu “tidak ada aturan”.

Aturan itu lebih kepada kesepakatan-kesepakatan yang dibuat oleh kita bersama. Di mana filosofinya adalah anak Shabran itu diajari menjadi orang baik dan diberi wawasan bahwa hidup itu sangat luas, kemudian tugas itu sangat berat.

Di sanalah mereka dididik untuk menderita. Mereka itu anak-anak muda, maka jangan dibatasi, biar mereka dibatasi oleh tanggung jawab mereka. Berikan mereka kesempatan, berikan mereka peluang untuk berkembang. Kita tidak perlu khawatir, nanti jadi seperti ini atau seperti itu. Semakin banyak batasan, maka mereka akan semakin banyak kehilangan kesempatan.

Kemudian, setelah mereka siap menjadi orang yang sangat menderita, mereka siap terjun kembali ke masyarakat. Penderitaan itu mulai dari jumlah perkuliahan yang tidak masuk akal, diberi tugas-tugas tanpa diberi bimbingan. Sebagai contoh, dahulu selama 10 tahun pondok Shabran tidak mempunyai masjid.

Satu-satunya pondok yang tidak mempunyai masjid ya Pondok Shabran. Mengapa? Mahasiswa dipaksa keluar dan berinteraksi dengan masyarakat. Dan 10 tahun kemudian setelah anak Shabran datang, maka di sekitar Shabran sudah ada sekitar 20 masjid.

Jadi nanti lihat cara kerja anak Shabran. Mereka seperti “Pasukan Khusus”. Di dalam situasi yang tidak menentu, ketika mereka harus merintis mereka itu hebat.  Tetapi ketika harus menjadi pejabat mereka tidak terlalu hebat. Kehebatan mereka adalah dilatih untuk menderita kemudian dilepas dan menderita bersama umat. Mereka siap, mereka bisa menghayati penderitaan umat, dan mereka bisa membimbing umat lewat penderitaan itu untuk setidaknya menciptakan transformasi sosial menjadi lebih baik.

Kembali ke Masyarakat

Cita-citanya selalu membangkitkan umat, kembali ke masyarakat. Karena memang Shabran pada awalnya tidak menyediakan ijazah, sehingga mereka dikuliahkan di kampus untuk mendapatkan efek sipil saja. Jadi secara psikologis perpaduan antara memahami hidup yang luas, lalu menghayati bahwa hidup itu bebannya berat, oleh karena itu harus berani.

Dan yang dijadikan modal untuk berani ini adalah interaksi rutin dengan tokoh-tokoh pimpinan pusat. Jadi kalau sudah pernah nongkrong dengan PP, maka dengan pimpinan wilayah, pimpinan daerah itu nampaknya kecil. Itu yang menjadikan mental anak Shabran menjadi sangat berani.

Interaksi dengan Pak AR., Buya Syafii, Pak Amin, dengan Menteri Agama itu menjadi sangat biasa. Jadi meskipun Saya itu di Shabran tetapi temen-temen Saya itu di UGM, UIN Kalijaga, UNY, dan lain sebagainya. Bahkan anak yang paling tidak berprestasipun di Shabran, mereka menjadi orang yang mampu berprestasi di daerahnya masing-masing.

Salah satunya Ibnu Hiban Pasaribu, ia menjadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Padang Lawas, Muklis menjadi Kepala Sekolah, Rusydi menjadi seorang yang bantu-bantu Gubernur (Pembantu Gubernur).

Jadi mentalitas itu yang menjadi ukuran anak Shabran, karena input-nya tidak bagus, maka harus berani. Dan justru malah kebanyakan anak-anak yang pintar, itu terkadang tidak jadi berkembang. Mereka dari seluruh Indonesia, tetapi ada sebuah lingkungan yang membuat mereka itu menjadi berani. Karena di banyak tempat mengatakan, who dare he win, siapa yang berani maka dia akan menang.

Namun, yang Saya justru sekarang ini khawatirkan dari anak Shabran adalah ketika para pimpinan Shabran itu tidak lagi mampu menciptakan suasana yang membuat anak-anak bebas. Mereka terlalu khawatir anak-anak nanti begini dan begitu, maka menjadi terlalu banyak batasan.

Saya khawatir mereka akan kehilangan keberaniannya. Karena siapa yang kehilangan keberanian maka mereka akan kehilangan banyak kesempatan. Justru anak muda nakal itu tidak masalah. Kapan lagi kita nakal kalau bukan saat muda. Dari pada nakal saat sudah tua.

Kunci Mentalitas Keberanian

Keberanian itu lahir dari pemahaman-pemahaman diri atau dari ketidaktahuan diri. Kata kuncinya adalah berani, eksploratif dan membaca. Sampai terkait dengan ilmu tenaga dalam itu bagian dari sumber keilmuan yang perlu dieksplor. Jadi dahulu tidak ada yang ini boleh, dan ini tidak boleh.

Semua itu adalah pengembaraan-pengembaraan masa muda yang dilatarbelakangi oleh rasa keingintahuan dan difasilitasi oleh para pembimbing. Kalian masih muda, kesempatan itu harus dicari, kehidupan itu sangat luas.

Seingat Saya para senior itu tidak menggurui, tetapi menuntut saja. Ada satu ungkapan, yang Saya ingat itu, “kalian itu di Shabran harus jadi”. Terserah jadi apapun tidak masalah. Anak Shabran harus memiliki prestasi. Karena kalau orang punya prestasi, maka akan dihargai.

Jadi pengkaderan itu bukan seperti mencetak roti. Pengkaderan itu adalah menciptakan manusia-manusia yang memiliki visi kehidupan dan keberanian menjalani hidup. Oleh karena itu, Saya memiliki pesan untuk generasi Shabran yang akan datang, secara historis keunggulan mereka ada pada keberanian mereka. Keberanian itu di satu sisi, dibangun dari wawasan, lalu interaksi yang sangat bebas.

Kalau ada kesalahan ya sudah peringatan kesatu, kedua dan ketiga, kemudian setelah itu keluar, tidak perlu pakai hukuman-hukuman, karena itu bukan pondok anak kecil. Di mana di Shabran itu kan andragogie, pendidikan untuk orang dewasa. Kemudian yang ketiga, sesering mungkin didatangkan tokoh nasional ke Shabran, hal itu penting untuk meningkatkan mentalitas anak Shabran.

Pondok Shabran ke Depan  

Masalah sekarang karena ada rezim akreditasi, sehingga mahasiswa tidak memiliki beban. Saran Saya di Shabran itu harus ada ruang yang memfasilitasi pemikiran seliar apapun, karena di tangan manusia-manusia liar itu dunia dibangun. Dan jangan terlalu takut dengan ijazah.

Karena hakikatnya dunia dibangun oleh para pengusaha dan entrepreneur, bukan oleh para pejabat. Karena, ternyata kelebihan dari anak Shabran itu bukan pada intelektualitasnya, tetapi keberaniannya dan adanya “lingkungan untuk menderita”. Jadi orang harus distimulasi mental dengan situasi yang sangat menderita itu.

Satu cerita juga, bahwa senior-senior yang sukses bukan karena orang pintar, kaya, atau punya segala hal. Tetapi adanya mental untuk bergerak. Jadi modal utama, adalah “nyali”. Kata kunci untuk menggenggam duni adalah nyali. Dan kita tidak perlu takut dengan kata takut, tetapi kita harus lebih takut dengan malu. Selain itu bacaan buku-buku juga sangat mendukung. Kalau Saya dahulu buku-buku sejarah, filsafat dan sosiologis. Itu sangat penting.

Selanjutnya, adanya kesederhanaan akan membuat orang menjadi tulus. Yang perlu diajarkan nanti adalah anak Shabran itu berkreasi, punya visi dan punya keberanian, juga anak-anak muda cari tahu apapun supaya anak muda menjadi berani. Carilah situasi, kondisi, agar kita tidak takut.

Karena satu-satunya hal yang menghalangi kesusksesan adalah ketakutan. Carilah prestasi dan reputasi, caranya adalah kemanapun berada selalu bertanya, “apa yang bisa dibantu”. Karena Itu artinya menandakan bahwa kita menjadi orang yang tulus dan berkontribusi.

Saat orang melihat prestasi, maka akan melihat reputasi. Kalau kita meminta kita akan diminta. Tapi kalau kita memberi, maka kita akan diberi. Tetapi akan lebih elegan jika kita ingin diberi, maka memberi terlebih dahulu. Dan terakhir, “guru yang akan Anda temukan, adalah seukuran dengan kapasitas kemuridan yang Anda siapkan”.

Karena mencari ilmu itu tidak tergantung tempatnya. Kehebatan seseorang bukan pada di mana dia belajar, tetapi bagaimana meraka belajar. Demikian sekiranya mudah-mudahan ada manfaatnya.

[1] Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Terkait

Tags: NyantripendidikanPondok Muhammadiyah
Previous Post

Meraih Perdamaian Melalui Filosofi Tepo Sliro

Next Post

Pemuda dan Hilangnya Identitas Nasional

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Pemuda dan Hilangnya Identitas Nasional

Pemuda dan Hilangnya Identitas Nasional

Comments 1

  1. Budi Nurastowo Bintriman says:
    6 tahun ago

    Kyai ANP sangat cocok memimpin Shabran sekarang untuk kebaikan Shabran sekarang dan ke depan…

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.