Oleh: Muhammad Adam I.M.[1]
Di dalam dunia pendidikan, manusia sebagai kreator peradaban utamanya, baik sebagai subjek ataupun objek. pengetahuan dan keilmuan sebagai mediannya dan memanusiakan manusia sebagai tujuannya serta kemampuan untuk menjawab persoalan masa kini dan akan datang menjadi persoalan yang masih menjadi hal mesteri. Hakekat pendidikan memiliki makna memanusiakan manusia(humanizing the human being) karena merupakan bagian elemen terpenting yang memiliki nilai dalam mempersiapkan generasi emas (gold generation) yang berkompeten untuk menghadapi dinamika masa depan untuk kemajuan bangsa.
Konsep pendidikan karakter yang dibangun namun nampaknya belum mampu secara maksimal membentuk pribadi manusia yang bermoral dan beradab. Proses pendidikan yang berfokus dalam ranah kognitif tidak menjamin kualitas pelajar yang bermoral, maka dibutuhkan keseimbangan yang optimal antara kognitif dan afektif yang menjadi bekal kuat untuk hidup bermasyarakat.
Perubahan setiap generasi baik dari zaman pramodern, modern, postmodern memiliki karakteristik yang berbeda. Perkembangan zaman yang begitu cepat terutama dalam masalah pengetahuan, teknologi, sosial media ataupun Gadget menjadikan para pelajar, mahasiswa ataupun masyarakat belum bisa membendung dampak yang akan terjadi. Persoalan yang dihadapi tidaklah semakin sederhana tapi semakin kompleks. Mengapa? sebab penduduk dunia semakin besar.
Menurut laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, jumlah penduduk dunia saat ini tercatat sebanyak 7,6 miliar dan akan melonjak menjadi 9,8 miliar pada tahun 2050. Laporan yang disusun oleh Departemen Populasi Divisi Urusan Sosial dan Ekonomi PBB pada Rabu, 21 Juni 2017, memperkirakan bahwa populasi dunia saat ini mencapai hampir 7,6 miliar akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada tahun 2030, 9,8 miliar pada tahun 2050 dan 11,2 miliar pada tahun 2100. dengan jumlah penduduk dunia yang semakin meningkat ,maka akan berdampak pada kebutuhan dasar food, energy dan water (FEW) menjadi tantangan . dari kebutuhan dasar itulah akan berimplikasi pada prilaku pada peradaban manusia .
Mengambil Teori generasi menurut Manheim (1952) adalah suatu konstruksi sosial yang mana didalamnya terdapat sekelompok orang yang memiliki kesamaan umur dan pengalaman historis yang sama. Generasi milnieal atau generasi Y ini merupakan kelompok manusia yang terlahir sekitar tahun 1982 sampai kisaran 20 tahun setelahnya. Generasi yang tumbuh saat internet booming dan mulai dipakai pada editorial besar Amerika Serikat pada tahun 1993. Pada generasi ini lebih banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, sms, what apps, facebook, ataupun instagram yang membuat perilaku kehidupan generasi ini menjadi Instan. Semua kebutuhan disulap dalam teknologi.
Instan Generation
Dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan manusia baik kemudahan dalam komunikasi, mencari informasi ataupun memperbanyak coneksi dengan manusia di dunia yang tak perlu face to face langsung. Semua sudah ibarat dunia sudah ada dalam genggaman. Hal ini yang menyebabkan banyak mahasiswa tak pernah fokus untuk berkonsentrasi belajar ataupun ibadah. Sebab, setiap mau melakukan aktivitas pasti yang namanya handphone selalu menjadi teman sejati yang dibawa kemana-mana.
Suatu fenomena yang tak lagi asing dimata kita melihat banyak mahasiswa ketika dalam perkulihan, mereka asik dengan media sosialnya dan dosenpun tak mampu berkutik, dalam melaksankan sholatpun hal yang sama terjadi, hp selalu dibawa, selesai sholat bukannya melanjutkan untuk dzikir tapi membuka media sosialnya. Tak cukup sampai itu, ketika dosen memberikan tugas untuk membuat makalah, artikel atau mencari sumber pengetahuan, mahasiswa tak mau dibuat pusing dan repot.
Semuanya dicari melalui handphone. Rasa keinginan membuka sumber pengetahuan dibuku semakin menurun dratis. Menyebabkan literasi baca di indonesia mengalami penuranan. hal ini dinyatakan oleh data UNESCO pada tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001, itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Sementara, pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014.
Tak hanya masalah dalam pengetahuan umum dicari melalui media sosial, masalah pengetahuan agamapun dicari cukup dengan melihat ceramah di youtube, instagram, terlebih mencari dalil-dalil agama di google. Menjadikan rasa khawatir jika belajar agama hanya lewat media sosial menyebabkan putusnya pemahaman tentang sanad dan dalil yang shoheh.
Collective dan Kultur Sharing
Perilaku instan tak hanya dilakukan individu seseorang saja, tetapi adanya jaringan kelompok ataupun komunitas juga melakukan hal yang sama. Nampaknya fenomena ini sudah menjadi budaya yang menjamur di masyarakat. Kesempatan yang dilakukan melalui komunitas langsung atau berkelompok seharusnya menjadi peluang tersendiri untuk bisa mengembangkan ide kreatif dan inovatif melalui media sosial. Adanya aplikasi transportasi Go Car, Grab, Go Jek, aplikasi menu makanan Go food ataupun aplikasi jaul beli baju dan lain sebagainya. Hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi generasi milienal yang kreatif mengembangkan idealismenya. Tak hanya menciptakan peluang usaha tapi membentuk keharmonisan komunitas.
Apa yang Harus Dilakukan?
Persoalan yang semakin kompleks diatas, tentu anak muda (mahasiswa) sebagai agent of change dan pemerintah sebagai jembatan penyedia sarana dan prasarana pendidikan tidak hanya diam membisu melihat persoalan yang terjadi. Diperlukan karakter yang berkualitas yang memiliki ciri:
- Pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran mahluk hidup dan sebagai hamba Tuhan yang Maha Esa. Dengan kesadaran ini akan menumbukan nilai transendental dan nilai keagamaan yang kuat. Implikasi dari hal ini menjauhkan diri dari sifat destruktif dan anarkis dan malu kepada Tuhannya.
- Pendidikan karakter dengan keilmuan. Untuk bisa membangun generasi yang memiliki pemikiran yang tidak instan, diperlukan metodologi dan materi pembelajaran yang merangsang tumbuhnya rasa penasaran generasi untuk selalu mempelajarinya. Budaya keilmuan bagian yang terpenting untuk dijadikan rasionalitas dalam menyelesaikan berbagai peluang dan tantangan.
- Pendidikan yang menumbuhkan rasa nasionalisme dan memiliki sinergitas yang kuat, solid dan harmonis antara pemerintah dan masyarakat untuk bisa mencetak generasi yang mampu berpikir kritis (Critical thiking), kreatif dan inovatif. Berkarakter nasionalisme (rasa mencintai negara dan bangga) terhadap empat pilar, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI adalah hal yang harus didoktrin terus menurus pada generasi milienal.
Generasi milenial yang berkualitas. Berdasarkan ilmu yang penulis pernah dapat dalam sebuah acara seminar, setidaknya ada 4 nutrisi untuk menjadikan generasi milenial yang berkualitas yaitu critical thinking (berfikir kritis), creative (kreatif), collaboration (mampu bekerjasama), dan communication (mampu berkomunikasi).
Oleh karena itu implikasi pendidikan karakter terhadap generasi milenial sangat penting. Pendidikan karakter sebagai landasan awal membentuk kesholehan pribadi dan sosial terutama untuk keseimbangan perubahan keadadaan era digital yang semakin memberikan freedom kepada siapa saja.
Pendidikan karakter sebagai upaya mentransmisikan nilai-nilai kebaikan kerja peradaban terutama mewariskan kebaikan-kebaikan masyarakat sosial-budaya terhadap generasi milenial, sehingga bisa membentengi diri dari kemorostan moral di era milenial. Dan terpenting lagi adalah menumbuhkan semangat berpikir kritis dan semangat nasionalisme yang tinggi. Apalagi di tengah kekalutan bangsa dengan berbagai pandangan politik yang terjadi.
[1]Ketua Umum IMM Komisariat Muhammad Abduh FAI-UMS