Oleh: Sigit Wijayanta[1]
Jujur Saya kaget, tanpa ada tanda-tanda hobbi menulis, kok tiba-tiba senior Saya ini menulis buku, tebalnya tidak baen-baen (tanggung-tanggung) mendekati 500 halaman. Saya mengenal Beliau ini sebagai seorang Tokoh dan penggiat kemanusiaan dan kesehatan masyarakat yang tidak banyak berteori tetapi action oriented yang berorientasi pada perubahan segera yang dapat dirasakan langsung Masyarakat.
Sangat kaget kok tiba-tiba Beliau menulis buku yang tebalnya melebihi desertasi, pada bidang yang berbeda dan setelah Saya baca isinya sangat lengkap bak bunga rampai sejarah gereja dan perjumpaannya dengan Islam. Untuk itu dalam kesempatan ini, Saya akan share tiga point tanggapan tentang buku “Dunia Barat dan Islam” dari sisi Paradigma penulisan, content atau isi, dan kemanfaatan dalam konteks masa kini dan yang akan datang.
Di masa SMP dan SMA ada satu mata pelajaran favorit Saya yaitu sejarah. Guru Saya seorang story teller yang luar biasa, menceritakan peristiwa demi peristiwa pada sejarah Eropa termasuk perjumpaan dengan Islam tanpa teks sambil mengilustrasikan dalam gambar peta lokasi black board di kelas. Jam pelajaran terasa cepat, tiba-tiba Pak Guru menyudahi ceritanya dan memberi kesempatan untuk menyimpulkan apa makna kisah itu bagi kehidupan kita kini dan kelak.
Positif-Optimis
Rupanya aliran sejarah Pak Guru SMP Saya adalah Positif-Optimis, berani mengungkap fakta dan peristiwa secara jujur, namun dipahami secara positif, kontekstual dan penuh respect terhadap apapun realita sejarah yang terjadi. Sejarahwan yang positif-optimis selalu move on ke depan secara optimis dengan menambang intangible asset pembelajaran masa lalu untuk masa depan dan selalu mengedepankan “compassion” (istilah Karen Amstrong) atau “tepo sliro” dan melihat segala segala sesuatu yang pernah terjadi dengan penuh respect.
Saya menghindari membaca tulisan-tulisan persimis yang membuat orang lain dan diri kita panas hati atau kehilangan muka, karena mengorek luka lama. Penulisan sejarah yang baik adalah bukan berorientasi pada masa lalu, tetapi berorientasi pada masa depan. Seperti dikatakan Eddie Vedder bahwa “Life moves fast. As much as you can, learn from your history, you have to move forward”. Sejarah adalah nabi pengarah masa depan: The best prophet of the future is the past sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Lord Byron.
Judul buku “Dunia Barat dan Islam: Cahaya di Cakrawala”. Merefleksikan bahwa penulis adalah sejarahwan yang positif-optimis. Walau content yang ditulis banyak bercerita tentang sejarah kelam gereja, tetapi judul yang dipilih adalah “Dunia Barat” yang berkonotasi lebih luas bukan hanya sekedar agama Kristen. Diberi tambahan “Cahaya di Cakrawala”, menunjukkan sikap optimis bahwa ada harapan karena fajar telah datang, kegelapan telah ditinggalkan dan dikalahkan oleh cahaya di cakrawala, yang kalau tidak “mendung” akan menyinari dan menghangati seluruh bumi di sepanjang hari.
Ini judul yang positif-opitimis, buku seperti ini yang wajib dibaca, dan rugi kalau teman-teman tidak membacanya. Kalau kita menggunakan kacamata negatif pesimis, orang Kristen khususnya Katolik akan panas hati ketika penulis membeberkan fakta atau praktek-praktek negatif gereja termasuk dalam perjumpaan dengan Islam, termasuk framework negatif para orientalist.
Cahaya di Cakarawala
Namun karena penulis berparadigma positif-optimis, pembaca tidak marah dan panas hati karena mengharapkan ada “cahaya di cakarawala” yang akan dihadirkan penulis. Demikian juga bagi pembaca Islam, dia tidak panas hati dan makin menjadi reaktif terhadap orang Barat dan Kristen, karena dengan cool dia memahami konteks yang terjadi saat itu.
Tidak ada satupun agama yang tidak ofensif terhadap pendatang baru. Yahudi memberangus kekristenan, Katolik menghantam Islam, Katolik memberangus Lutheran/Protestant, Protestant memberangus aliran-aliran baru (Menonite, Evangelism dll). Ini semua merupakan ekpresi ketakutan akan digerogotinya degradasi power yang dimiliki agama oleh pendatang baru. Sejarahwan positif tidak serta merta menyimpulkan bahwa agama adalah “sumber masalah” tetapi mencari terobosan lain yang bebas power play yaitu faith atau iman.
Dalam hubungan antar Iman, yang bermain adalah hati, sedang bahasa komunikasi bukan ajaran atau dogma agama yang berusaha dicocok-cokan dan dicari batas-batas eksistensinya, tetapi melalui aksi nyata apa yang menjadi kepentingan bersama (Common Word). Issue kemanusiaan termasuk di dalamnya kesejahteraan, kelestarian dan perdamaian adalah A common world between Us and You yang perlu diperjuangkan bersama. Itulah cahaya di cakrawala dalam hubungan Dunia Barat dan Islam yang dihadirkan Penulis.
Seorang sejarahwan yang positif optimis selalu tepo seliro dan apresiatif. Misalnya negara mana di dunia yang terbuka menerima jutaan imigran Islam yang berbeda agama yang banyak merebut kesempatan kerja warga negara asli. Untuk itu kita harus memberi apresiasi negara-negara Eropa dan juga dewan gereja-gereja dunia yang melakukan advokasi melawan arus ultranasionalisme Eropa yang secara ekstrim melawan imigrasi seperti yang dipraktekan Presiden Trump di USA.
WCC/ACT juga mengalokasikan banyak dana untuk kegiatan relief bagi imigran. Pembaca positif juga tepo sliro terhadap perasaan warga Kristen Eropa yang makin sedikit yang datang ke gereja, dan melihat masjid lebih banyak dari gereja, serta prediksi-prediksi pertumbuhan pesar Islam di Eropa. Pembaca Kristen juga tidak terlalu sensi meresponse sekelompok oknum Muslim yang sangat anti Kristen dan melakukan tindakan kekerasan, karena Kristen sendiri di abad pertangahan juga demikian.
Agar cahaya di Cakrawala ini tidak memudar maka diperlukan upaya-upaya yang tidak cukup berhenti pada level membuat statement, tetapi benar-benar aksi di lapangan. Aksi-aksi kemanusiaan bersama antar iman di lapangan ini akan memberikan pengalaman atau experince bagi para pelaku. Makin banyak mengalami perjumpaan antar iman, makin mempertebal karakter inklusif dan positif. Aksi antar Iman yang dilakukan Penulis secara nyata baik sebagai Pendiri Humanitarian Forum Internasional maupun Indonesia yang saat ini beranggotakan 15 organisasi antar iman.
Selain itu, penulis juga merupakan Koordinator Program EMAS untuk mengurangi angka kematian ibu saat melahirkan, Perang melawan rokok untuk mengurangi kematian akibat syndrome metabolisme (47% penyebab kematian di Indonesia), membangun jembatan damai untuk Moro, Rohingnya dan Muslim China. Semua memberikan ekxperince kebersamaan antar iman dengan tekat tidak akan mengulang tragedi sejarah di masa lalu. Buku ini akan mengantar kita bersama ke cahaya di cakrawala tersebut.
Interfaith Experience
Yang terakhir Saya ingin share tentang interfaith experience Saya yang membuat saya inklusif bahkan selalu rindu hidup dalam keberbedaan. Siswa Kristen atau Katolik di SMA Boyolali tempat Saya belajar dulu tidak lebih dari 11 orang, tapi dengan mentor dan dukungan dari kakak-kakak IMM dan pembimbing guru agama Islam, Saya yang minoritas dipilih menjadi ketua OSIS bahkan selanjutnya menjadi Pelajar Teladan.
Itu interfaith experience yang luar biasa; Interfaith experience itu berlanjut saat saat mahasiswa di Yogya selaku Ketua GMKI Yogya kita merasakan persaudaraan yang luar biasa dengan teman-teman kelompok Cipayung, baik HMI, PMII dan lainnya yang saat ini banyak menjadi tokoh di negeri ini.
Menjelang akhir Orde Baru ada peristiwa pembakaran gereja-gereja di Situbondo, dan Pemerintah US akan mengeluarkan Bill yang memberikan kewenangan bagi militer US untuk melakukan invasi kepada negara-negara yang mempersekusi minoritas dan Indonesia masuk di dalamnya. Saya diminta NCC USA menghadirkan tokoh agama Islam yang bisa bersaksi di hadapan kongres untuk meyakinkan bahwa Indonesia tidak terjadi persekusi dan minta Indonesia dikeluarkan dalam list tersebut.
Semua orang merekomendasikan Cak Nur (Nurcholis Majid) dan Gus Dur (Abdurrahman Wahid), tetapi justru Saya setuju usul tokoh Pluralis Pdt.Th. Sumarthana untuk memilih tokoh Islam yang pada waktu itu dicap progressive, yakni Amin Rais untuk berangkat bersaksi di hadapan konggres US. Kesempatan ini juga dipakai untuk meyakinkan Pemerintah US untuk tidak kukuh mendukung rezim Orde Baru di era Reformasi, dan menjadi modal Pak Amin sebagai tokoh Reformasi Indonesia. Setelah itu ada banyak pekerjaan antar iman yang berdampak besar termasuk yang kami lakukan bersama Pak Sudibyo Markus ini.
Kesaksian ini untuk lebih menguatkan misi penulisan buku “Dunia Barat dan Islam” ini agar kita lebih banyak mempunyai aksi-aksi bersama antar iman untuk kemanusiaan dan pembangunan yang berkelanjutan. Jangan biarkan cakarawala di fajar pagi redup karena mendung akibat polusi pola pikir ekslusif-sectarian pada kita, tetapi tetaplah bersinar cerah di pagi hari melalui kerja kongkrit wujudkan common world between us and you. Dengan membaca buku ini, berarti Anda sedang berinvestasi untuk masa depan dunia yang lebih baik.[]
[1] Ketua Badan Pertimbangan PELEKSI dan Dosen di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta