Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tirani Tidak Selalu Datang dengan Senjata

AdminKS by AdminKS
Agustus 27, 2026
in Esai, Narasi
0
Tirani Tidak Selalu Datang dengan Senjata
11
SHARES
63
VIEWS

Oleh: Simin, Sahabat Buku

Ketika mendengar kata tirani, bayangan yang muncul pasti mengenai seorang diktator militer, penjara yang keras bagi para tahanan, dan rakyat yang hidup dalam bayangan ketakutan. Di sini tirani seakan-akan hadir dengan bentuk kekerasan tanpa ampun yang tampak jelas. Padahal, kekuasaan yang menindas tidak selalu berjalan melalui senjata; terkadang ia justru tumbuh dari kepatuhan buta manusia yang secara perlahan kehilangan keberanian untuk berpikir kritis dan mempertanyakan setiap kebijakan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Dalam Panduan Melawan Tirani, Abdurrahman Al-Kawakibi menggambarkan tirani sebagai kekuasaan yang berjalan berdasarkan keinginan tanpa tanggung jawab terhadap hak-hak masyarakat. Seorang tirani tidak hanya merampas kebebasan tetapi juga menginginkan rakyatnya jinak dan patuh seperti domba, atau rendah diri dan suka menjilat seperti anjing. Kita sering mengira penindasan rakyat yang terjadi di suatu wilayah adalah mereka yang dipaksa untuk diam. Padahal, ada bentuk ketundukan yang tidak selalu membutuhkan paksaan. Al-Kawakibi menggambarkan rakyat yang diinginkan oleh pemimpin tiran adalah rakyat yang jinak dan patuh seperti domba dan suka menjilat seperti anjing.

Gambaran itu menunjukkan bahwa manusia bisa saja tetap memiliki mulut untuk berbicara, tetapi tetap memilih diam karena sudah terbiasa mengikuti tanpa mempertanyakan yang diperintahkan. Pada titik tertentu, yang membuat tirani bertahan bukan lagi karena kekuatan penguasa, melainkan karena kepatuhan orang-orang untuk bersedia melakukan perintah tanpa bertanya.

Ketika Ketaatan Berubah Menjadi Kepatuhan Buta

Hidup ditengah masyarakat di mana tingkat religiusitasnya tinggi tidak selalu berarti setiap orang memiliki pemahaman agama yang baik. Kita bisa menemukan orang yang mengikuti ucapan seorang tokoh agama hanya karena menganggapnya sebagai sosok yang paling tahu soal agama. Apa yang disampaikan diterima begitu saja, bahkan ketika mereka sendiri tidak memahami dasar dan maksudnya. Dalam keadaan seperti ini, ketaatan menjadi mudah diarahkan ke mana saja, termasuk untuk membenarkan kepentingan tertentu.

Penafsiran agama pun dapat digunakan untuk kepentingan di luar tujuan ajarannya, terutama ketika masyarakat tidak memiliki ruang atau keberanian untuk mempertanyakan apa yang disampaikan. Al-Kawakibi melihat persoalan semacam ini sebagai salah satu jalan yang dapat membuat tirani bertahan. Menurutnya, tirani sering mengadopsi atribut ketuhanan atau memanfaatkan para tokoh agama untuk menindas rakyat atas nama Tuhan demi mendapatkan kepatuhan buta.

Karena yang paling didambakan para tiran ialah kepatuhan total: rakyat menerima setiap keputusan dan perintah tanpa pertanyaan, tanpa perdebatan. Untuk itu kebiasaan tunduk dibentuk sejak awal, bahkan perintah-perintah tertentu dapat diselimuti atau dibenarkan dengan dalil agama. Ketika dalil digunakan untuk menenangkan orang yang hendak mempersoalkan ketidakadilan, agama tidak lagi hadir sebagai kekuatan yang membebaskan, tetapi dapat berubah menjadi alat untuk mempertahankan kepatuhan. Dari sinilah Al-Kawakibi melihat adanya hubungan erat antara tirani dan agama: bukan karena agama mengajarkan tirani, melainkan karena agama dapat disalahgunakan untuk membuat kekuasaan terlihat seolah-olah memiliki legitimasi yang tidak boleh dipertanyakan.

Ketika Kepatuhan Menghilangkan Kemanusiaan

Ketika seseorang terlalu percaya kepada kelompok atau tokoh masyarakat yang diikutinya, di saat ia dihadapkan dengan orang yang memiliki perbedaan dalam pandangan, orang tersebut mudah dianggap sebagai ancaman. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang biasa dalam kehidupan manusia, tetapi sebagai tanda bahwa seseorang berada di pihak yang salah. Pada titik ini, persoalan tidak lagi hanya soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Cara kita melihat manusia ikut berubah.

Orang lain mulai dipandang berdasarkan label yang melekat padanya, bukan sebagai manusia yang memiliki pengalaman, perasaan, dan martabat setara. Dalam psikologi, proses semacam ini dikenal sebagai dehumanisasi. Perbedaan pendapat sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat. Namun, ketika perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan dan membuat seseorang merasa lebih berhak merendahkan kelompok lain, keadaan menjadi berbeda. Dehumanisasi berawal dari sesuatu yang terlihat sederhana, seperti pemberian label pada seseorang. Jadi, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang memiliki cerita dan alasan tersendiri, tetapi cukup dilihat dari kelompok mana ia berasal. Ketika label telah diberikan, penilaian terhadap dirinya pun menjadi lebih mudah.

Apa pun yang ia katakan dianggap salah karena siapa yang mengatakannya, bukan karena apa yang sebenarnya ia sampaikan. Dalam keadaan seperti ini, rasa iba dan keinginan untuk memahami orang lain semakin mudah hilang. Di saat itu kita tidak lagi berusaha untuk memahami mengapa seseorang memiliki pandangan yang berbeda, tetapi sibuk mencari alasan untuk membenarkan bahwa ia memang pantas disalahkan.

Masyarakat yang terpecah seperti ini justru memberi ruang bagi kekuasaan untuk bertahan, sebab orang-orang yang seharusnya saling mengawasi akhirnya sibuk saling mencurigai dan memusuhi satu sama lain. Perhatian masyarakat pun bergeser dari mempertanyakan kekuasaan menjadi mempertahankan kelompok masing-masing. Pada saat itulah perbedaan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan bersama dapat berubah menjadi alat yang membuat masyarakat mudah diarahkan dan diadu domba.

Melawan Tirani, Mempertahankan Akal dan Martabat Manusia

Melawan tirani tidak selalu berbentuk turun ke jalan atau berhadapan langsung dengan kekuasaan. Ada bentuk perlawanan yang jauh lebih sederhana, yaitu mempertahankan akal dari doktrin kekuasaan agar tidak mudah diserahkan kepada siapa pun. Al-Kawakibi mengingatkan bahwa salah satu bentuk tirani yang paling buruk adalah ketika kebodohan menguasai pengetahuan dan hawa nafsu mengalahkan akal. Oleh sebab itu, ketaatan tidak semestinya membuat manusia kehilangan keberanian untuk bertanya, termasuk kepada mereka yang dianggap memiliki otoritas. Agama semestinya menjadi jalan yang menjaga manusia supaya tetap bermartabat dan bukan menjadi alasan untuk merendahkan orang lain yang berbeda.

Sebab, ketika seseorang mulai menganggap orang lain tidak layak didengar hanya karena berbeda kelompok, keyakinan, atau pandangan, di situlah sebenarnya kita sedang ikut memelihara bentuk tirani yang sama. Tirani memang tidak selalu datang dengan senjata. Ia bisa hadir melalui ketakutan, kepatuhan, bahkan melalui keyakinan yang tidak diberi ruang untuk dipikirkan. Barangkali, cara yang paling mendasar untuk melawannya adalah memastikan bahwa kita berani untuk menggunakan akal dan tetap mampu melihat manusia lain sebagai manusia.

Editor: Arsy Sekar

Terkait

Tags: adu dombamartabat manusiaotoritas
Previous Post

Runtuhnya Narasi Besar IMM: Membaca Senyap Sebuah Gerakan dalam Perspektif Jean-François Lyotard

Next Post

Piagam Madinah, Utopia Al-Farabi, dan Darul ‘Ahdi Wa Syahadah: Apakah Indonesia Sudah Ideal dalam Perspektif Islam?

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Piagam Madinah, Utopia Al-Farabi, dan Darul ‘Ahdi Wa Syahadah: Apakah Indonesia Sudah Ideal dalam Perspektif Islam?

Piagam Madinah, Utopia Al-Farabi, dan Darul ‘Ahdi Wa Syahadah: Apakah Indonesia Sudah Ideal dalam Perspektif Islam?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.