Oleh: Nisrina Dwi Septiyani
“Usia 25 tahun sudah punya rumah.”
“Gajinya sudah dua digit.”
“Sudah tiga kali ke luar negeri tahun ini.”
Kalimat-kalimat tersebut begitu mudah kita temukan ketika membuka media sosial. Dalam hitungan detik, kita dapat melihat berbagai pencapaian orang lain yang tampak begitu sempurna. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan mereka. Yang semula kita syukuri perlahan terasa kurang, dan yang semula merupakan kebutuhan berubah menjadi keinginan yang harus dipenuhi.
Hari ini, kita hidup di tengah dunia yang selalu mengatakan bahwa kebahagiaan dapat diukur dari banyaknya yang dimiliki. Rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, hingga gaya hidup yang lebih mewah seakan menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Akibatnya, rasa cukup menjadi sesuatu yang semakin sulit ditemukan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada generasi muda, tetapi juga hampir di setiap lapisan masyarakat. Banyak orang bekerja lebih keras dari sebelumnya, tetapi tetap merasa kurang. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan yang lain. Ketika satu target berhasil dicapai, standar kesuksesan pun ikut meningkat. Pada akhirnya, kita tidak hanya sibuk mencari harta, tetapi juga sibuk mengejar pengakuan melalui harta yang dimiliki.
Padahal, persoalan terbesar manusia hari ini mungkin bukanlah sedikitnya harta yang dimiliki, melainkan sulitnya hati untuk merasa cukup. Sebab, rasa cukup tidak selalu lahir dari banyaknya yang kita miliki, tetapi dari cara kita memaknai nikmat yang telah Allah Swt. titipkan dalam kehidupan.
Harta dalam Perspektif Islam
Islam tidak pernah melarang umatnya untuk memiliki harta yang banyak. Bahkan, Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras, berikhtiar, dan mencari rezeki yang halal. Karena itu, menjadi kaya bukanlah sesuatu yang tercela dalam Islam. Yang menjadi persoalan adalah ketika harta tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi berubah menjadi tujuan utama dalam kehidupan.
Allah Swt. berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia sering kali terlena oleh banyaknya harta yang dimiliki hingga lupa bahwa seluruh kenikmatan dunia hanyalah sementara. Islam tidak melarang kita memiliki harta yang banyak, tetapi mengingatkan agar harta tidak menguasai hati dan menjauhkan kita dari tujuan utama kehidupan sebagai hamba Allah Swt.
Allah Swt. juga berfirman: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak menafikan pentingnya harta dalam kehidupan. Harta merupakan perhiasan yang dapat menghadirkan manfaat apabila dikelola dengan baik. Namun, harta bukanlah sesuatu yang menentukan kemuliaan seorang manusia di hadapan Allah Swt.
Belajar Memaknai Harta dengan Benar
Rasulullah saw. bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan dalam Islam memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar banyaknya harta yang dimiliki. Seseorang yang memiliki sedikit harta dapat hidup dengan penuh ketenangan karena hatinya dipenuhi rasa syukur. Sebaliknya, seseorang yang memiliki harta berlimpah pun dapat terus merasa kurang apabila hatinya tidak pernah merasa cukup.
Rasulullah saw. juga bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut mengajarkan pentingnya membangun rasa syukur dan qana’ah dalam kehidupan sehari-hari. Merasa cukup bukan berarti berhenti berikhtiar ataupun menolak menjadi lebih baik. Qana’ah adalah kemampuan untuk tetap bersyukur dan tenang atas apa yang dimiliki tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha dalam kebaikan.
Harta sebagai Amanah dan Jalan Kemaslahatan
Muhammadiyah melalui Manhaj Tarjih memandang bahwa harta merupakan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan. Semangat Al-Ma’un yang menjadi salah satu ruh gerakan Muhammadiyah mengajarkan bahwa keberadaan harta tidak boleh berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi juga harus menghadirkan manfaat sosial bagi sesama.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya terletak pada banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga pada keberkahan dan manfaat yang mampu dihadirkannya. Harta yang dimiliki seyogianya menjadi sarana untuk memperkuat ibadah, membantu mereka yang membutuhkan, serta mewujudkan kesejahteraan umat dan masyarakat.
Belajar merasa cukup hari ini bukanlah perkara yang mudah. Sebab, kita hidup di tengah dunia yang selalu mengatakan bahwa kita harus memiliki lebih banyak dari hari ini. Akan selalu ada barang yang lebih baru, pencapaian yang lebih tinggi, dan standar kesuksesan yang terus berubah.
Karena itu, salah satu bentuk qana’ah yang dapat kita latih hari ini adalah mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan, tidak menjadikan media sosial sebagai ukuran kebahagiaan, serta membiasakan diri untuk mengalokasikan sebagian harta yang dimiliki bagi kemanfaatan sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Dengan demikian, harta tidak hanya menghadirkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi jalan untuk menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Penutup
Pada akhirnya, tantangan kita hari ini mungkin bukan lagi tentang bagaimana mencari harta, tetapi bagaimana memaknainya dengan benar. Dunia akan selalu mengatakan bahwa kita harus memiliki lebih banyak dari hari ini. Akan selalu ada rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, dan pencapaian yang lebih tinggi untuk dikejar.
Namun, Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kebahagiaan tidak selalu lahir dari banyaknya yang dimiliki, melainkan dari hati yang mampu bersyukur dan merasa cukup atas apa yang Allah Swt. titipkan dalam kehidupan. Merasa cukup bukan berarti berhenti berikhtiar, tetapi mampu menempatkan harta pada posisinya sebagai amanah dan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.
Maka, yang perlu kita kejar bukan hanya banyaknya harta, tetapi juga keberkahannya. Sebab, harta yang paling berharga bukanlah yang paling banyak jumlahnya, melainkan harta yang diperoleh dengan cara yang halal, digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama, dan menjadi jalan untuk meraih ridha Allah Swt.