Oleh: Imam Daffa Abdillah
Pendidikan Islam dalam Al-Qur’an dibangun di atas fondasi Tauhid. Artinya, Allah SWT adalah sumber segala ilmu dan tujuan akhir dari semua pembelajaran kita. Dengan dasar ini, semua bidang ilmu baik sains, matematika, sejarah, maupun sastra dipelajari sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah (Sunardi & Nurrohim, 2024). Pemikiran ini menyatukan antara wahyu dan akal dalam satu kesatuan kurikulum (Nurrohim, 2024). Allah berfirman “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhariyat: 56). Dari dasar Tauhid ini, tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang utuh dan seimbang. Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang menjalankan dua peran kehidupan (Nurrohim & Hidayat, 2025)
Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang menjalankan dua peran kehidupan yaitu Pertama Sebagai Hamba Allah (‘Abdullah)yaitu manusia diciptakan untuk beribadah dan tunduk kepada Allah selama hidupnya, seperti dalam firman nya “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).
Kedua Sebagai Khalifah di Bumi (Khalifah fil Ardh)yaitumanusia bertanggung jawab memakmurkan bumi. Visi ini adalah langkah awal menuju kebangkitan umat melalui penggabungan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas (Wijaya & Nurrohim, 2025), seperti yang Allah firmankan“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.'” (QS. Al-Baqarah: 30).
Penelitian tentang pendidikan Islam menunjukkan bahwa tujuan pendidikan tidak berhenti pada membentuk pribadi yang sholeh saja. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang bisa memajukan peradaban umat (Fatimah & Nurrohim, 2025). Hal ini penting untuk membangun visi “Generasi Rabbani” yang siap menghadapi tantangan zaman (Nurrohim, 2024). Jadi, pendidikan Islam bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk kebangkitan seluruh umat.
Cara dan Langkah Pendidikan menurut Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dan menerima ilmu . Metode pendidikan dalam Al-Qur’an sangat relevan untuk manusia baik secara akal maupun akhlak. Pendidikan Al-Qur’an sangat begitu penting di zaman sekarang. Al-Qur’an mengajarkan prinsip komunikasi yang penting dalam dunia pendidikan modern (Sukmaningtyas & Nurrohim, 2023).
Pertama qaulan sadidan perkataan yang benar, Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadidan).” (QS. Al-Ahzab: 70). Dalam pendidikan, kita harus jujur dan tidak perlu untuk berbohong. Menuntut kejujuran akademik dan akurasi fakta (Nurrohim, 2023).
Kedua qaulan ma’rufan perkataan yang baik, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an “Dan berkatalah kepada manusia dengan perkataan yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 83). Sampaikan ilmu dengan cara yang baik, lemah lembut, tidak kasar atau menyakiti perasaan orang lain. Terkadang kita ingin menyampaikan sebuah kebenaran tetapi orang lain tidak menerima dikarenakan salahnya diri kita dalam menyampaikan-nya.
Ketiga qaulan qariman perkataan yang mulia, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an“Dan ucapkanlah kepada keduanya (orang tua) perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23). Hormatilah orang yang lebih tua dari diri kita seperti bapak dan ibu, guru, dan siapapun dengan bahasa yang sopan dan penuh hormat. Maka perbuatan ini termasuk perbuatan yang mulia dan harus dilakukan bagi setiap insan muslim.
Keempat qaulan layyinan perkataan yang lemah lembut. Allah berfirman “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44). Bahkan kepada orang yang keras kepala sekalipun, gunakan kata-kata yang lembut dan bijaksana. Agar hati mereka tidak merasa tersakiti atau direndahkan.
Adapun langkah-langkah Pendidikan dalam berakhlak di masyarakat dari Surah Al-Hujurat ayat 6-12 memberikan panduan lengkap tentang etika dalam belajar dan berinteraksi (Pratama & Nurrohim, 2026).
Pertama tabayyun (Cek Kebenaran Informasi), Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyanu) kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6). Maksud dari ayat ini ialah jangan langsung percaya informasi tanpa mengecek kebenarannya dan sumber informasi tersebut dari mana. prinsip ini adalah senjata utama melawan hoax dan manipulasi informasi (Pratama & Nurrohim, 2026).
Kedua perdamaian dan keadilan, Allah berfirman“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang beriman berperang, maka damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al-Hujurat: 9). Maksud dari ayat ini jika ada sebuah konflik maka selesaikan secara damai dan adil tanpa berat sebelah. Dalam pendidikan, ini berarti menciptakan lingkungan belajar yang aman dan saling menghormati tanpa merendahkan satu sama lain. Menciptakan ekosistem belajar yang kolaboratif, bukan kompetisi yang menjatuhkan. Strategi pembelajaran ini harus berbasis pada akhlak yang kokoh (Nurrohim, 2023).
Ketiga persaudaraan, Allah berfirman“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10). Maksud dari ayat ini semua pelajar adalah saudara sesama muslim. Bangun solidaritas dan saling membantu, bukan persaingan yang tidak sehat apalagi saling menjatuhkan satu sama lain.
Keempat jangan menghina dan berprasangka buruk, Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurat: 11). Allah berfirman“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Maksud dari ayat ini jangan meremehkan, mengejek, atau berprasangka buruk kepada teman. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka sikap yang paling bijak Adalah dengan saling menghargai.
Cita-Cita Hasil Pendidikan yang Baik
Cita-cita dalam pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang seimbang dalam tiga hal.
Pertama berilmu, memiliki pengetahuan yang luas dan terus belajar. Allah berfirman “Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (QS. Az-Zumar: 9).
Kedua beriman, memiliki iman yang kuat dan taat kepada Allah. Allah berfirman “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketiga beramal shaleh, menggunakan ilmu dan iman untuk berbuat baik kepada sesama. Allah berfirman “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3). Bahaya jika ketidakseimbangan antara ilmu dan iman yaitu jika ilmu tanpa iman bisa membuat sombong dan ilmu digunakan untuk kejahatan, jika iman tanpa ilmu bisa membuat fanatik buta dan mudah ditipu, jika ilmu dan iman tanpa amal hanya jadi teori, tidak bermanfaat untuk Masyarakat. Ketidakseimbangan di antara ketiganya akan melahirkan pribadi yang sombong atau fanatik buta. Oleh karena itu, revitalisasi nilai-nilai Islam di perguruan tinggi menjadi sangat mendesak untuk dilakukan (Nurrohim et al., 2026).
Karakter Utama ialah kerendahan hati (Tawadhu’) (Sunardi & Nurrohim, 2024). Salah satu karakter penting yang ingin dicapai adalah kerendahan hati atau dalam Al-Qur’an disebut al-hun yaitu sifat lemah lembut dan tidak sombong. Al-hun bukan berarti lemah, melainkan kekuatan batin yang lahir dari pengetahuan yang mendalam (Ramadhani & Nurrohim, 2025). Kerendahan hati harus menjadi basis karakter bagi setiap pendidik maupun peserta didik muslim (Nurrohim, 2024). Dengan karakter ini, seseorang akan tetap membumi meskipun memiliki pencapaian intelektual yang tinggi karena menyadari bahwa ilmu adalah titipan Allah semata (Sari & Nurrohim, 2025).
Dengan demikian konsep Pendidikan islam dalam al-Quran begitu penting untuk kita perhatikan dari apa yang telah dipapar agar generasi penerus bisa berjalan sesuai dengan perintah Allah dan rasulnya, wallahu a’lam.
Editor: Arsy Sekar Kemuning