Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Relevansi Nilai Stoisisme dalam Buku Filosofi Teras terhadap Filsafat Ilmu Pendidikan Masa Kini

Qonita Fadhilah by Qonita Fadhilah
Maret 11, 2026
in Esai, Filsafat, Narasi
0
Relevansi Nilai Stoisisme dalam Buku Filosofi Teras terhadap Filsafat Ilmu Pendidikan Masa Kini
21
SHARES
122
VIEWS

Oleh: Qonita Fadhilah

Pendidikan masa kini menghadapi beberapa tantangan, di antaranya ketergantungan terhadap teknologi yang menurunkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, serta krisis moral, di mana sebagian peserta didik terkadang bersikap seenaknya dan melakukan tindakan tanpa mempertimbangkan akibatnya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga harus memperhatikan pengembangan karakter. Pendidikan seimbang antara kognitif dan karakter akan menciptakan peserta didik yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga cerdas dalam bertindak berdasarkan nilai moral.

Dengan demikian, peserta didik dapat siap melebur di tengah masyarakat dengan ketrampilan sosial atau softskill yang matang.

Dalam konteks tersebut, buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring menawarkan pandangan stoisisme yang menekankan pentingnya berpikir rasional, memahami hal-hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan, serta bersikap tenang dalam menghadapi tantangan.

Prinsip-prinsip ini bertujuan untuk membentuk pribadi yang bermental baja dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Nilai-nilai stoisisme relevan dengan filsafat ilmu pendidikan masa kini, karena pemahaman yang terkandung dalam buku tersebut mengenai kebijaksanaan hidup menekankan kemandirian dan pembentukan karakter tangguh peserta didik.

Nilai-nilai ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan kognitif, moral dan sosial di era modern seperti saat ini.

Dalam buku Filosofi Teras, Henry Manampiring menyebut aliran filsafat ini sebagai stoisisme, meskipun ia tidak memberikan definisi yang formal. Aliran ini bersifat practicaldan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Manampiring menjelaskan bahwa stoisisme membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih tenang, tenteram, serta tidak mudah terganggu oleh hal-hal negatif.

Prinsip-prinsip stoisisme yang diajarkan dalam buku memiliki kesamaan dengan nilai-nilai yang diperoleh melalui agama, orang tua, kakek-nenek, hingga budaya asli Indonesia, sehingga mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini menunjukkan bahwa filsafat Yunani kuno yang telah berusia lebih dari 2.000 tahun tetap relevan untuk kondisi manusia zaman sekarang, karena nilai-nilai stoisisme masih mampu membimbing manusia menghadapi tekanan, konflik, dan tantangan kehidupan modern.

Dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, terdapat beberapa prinsip utama stoisisme yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan pendidikan, di antaranya:

Prinsip pertama menekankan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam. Sebagai makhluk yang memiliki akal, manusia berbeda dengan binatang karena mampu bernalar. Hidup selaras dengan alam berarti menjadi manusia yang berrasio, sosial, dan berkeutamaan, bukan hanya mengikuti hawa nafsu.

Dalam konteks pendidikan, prinsip ini menekankan pengembangan karakter dan berpikir kritis peserta didik, sehingga mereka dapat mengambil keputusan bijak dan bertindak sesuai nilai moral, bukan sekadar menuruti dorongan emosi atau tekanan dari teman sebaya.

Prinsip kedua, yaitu dikotomi kendali, mengajarkan perbedaan antara hal-hal yang berada di bawah kendali kita seperti pertimbangan, keinginan, dan tujuan pribadi, dengan hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita, seperti pikiran, ucapan, atau tindakan orang lain.

Penerapan prinsip ini dalam pendidikan dapat membantu peserta didik untuk fokus pada usaha dan sikap mereka sendiri, tidak mudah terganggu oleh faktor eksternal, dan mengembangkan mental tangguh, disiplin, serta kemandirian.

Prinsip ketiga menekankan penguatan mental melalui prinsip STAR (Stop, Think and Assess, Respond). Dengan menerapkan STAR, peserta didik diajarkan untuk berhenti sejenak, berpikir dan menilai situasi, lalu merespons dengan tenang dan terkontrol terhadap segala tantangan yang dihadapi.

Dalam konteks pendidikan, prinsip ini membantu peserta didik mengelola emosi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi permasalahan, sehingga mental mereka semakin kuat dan tangguh.

Nilai-nilai stoisisme tersebut dapat diterapkan dalam pendidikan masa kini melalui peran pendidik sebagai teladan bagi peserta didik.

Dengan menerapkan prinsip stoisisme dalam perilaku dan cara mengajar, pendidik tidak hanya meningkatkan kualitas pengajaran, tetapi juga secara tidak langsung menjadi contoh yang baik bagi peserta didik dalam berpikir rasional, mengendalikan emosi, dan bersikap bijak.

Dalam menghadapi tantangan kognitif, peserta didik diajarkan untuk tetap belajar dengan tenang tanpa takut terhadap penurunan nilai atau peringkat, sehingga mereka dapat menjalani proses belajar dengan lebih fokus dan konsisten.

Untuk tantangan moral, prinsip stoisisme mendorong peserta didik untuk senantiasa bersikap baik, bertindak sesuai nilai yang benar, dan mengendalikan dorongan untuk berperilaku negatif.

Sedangkan dalam tantangan sosial, stoisisme membantu peserta didik membangun hubungan pertemanan yang harmonis, berinteraksi tanpa menimbulkan konflik, serta mampu bersikap rasional dalam menghadapi perbedaan.

Dengan demikian, penerapan stoisisme dalam pendidikan masa kini tidak hanya membekali peserta didik dengan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter tangguh, rasional, dan bermoral, yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan hidup modern.

Dapat disimpulkan bahwa, Stoisisme dapat menjadi pegangan prinsip dalam membentuk nalar yang kritis dan rasional, sekaligus membangun mental tangguh para peserta didik.

Aliran filsafat ini menekankan pentingnya berpikir rasional, mengendalikan emosi, dan fokus pada hal-hal yang dapat dikontrol, sehingga peserta didik mampu menghadapi tantangan kognitif, moral, dan sosial dengan lebih bijak dan tenang.

Penerapan prinsip-prinsip stoisisme dalam pendidikan, baik oleh pendidik maupun peserta didik, membantu membentuk karakter yang berkeutamaan, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta menyiapkan peserta didik untuk menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab.

Meskipun filsafat ini telah berusia lebih dari 2.000 tahun, nilai-nilai yang terkandung tetap relevan dan dapat menjadi pedoman bagi pendidikan masa kini, khususnya dalam membentuk generasi muda Indonesia yang rasional, bijaksana, dan tangguh menghadapi tantangan kehidupan di era modern.

Editor: Ahmad Muwaffiqul Choir

Terkait

Tags: pendidikan
Previous Post

Wujudkan Kepedulian di Bulan Suci, Lazismu dan Paragon Corp Salurkan 150 Paket Kado Ramadhan untuk Penyintas Banjir di Aceh

Next Post

Seni Membaca Pesan Tuhan: Mengapa Kita Butuh Tafsir?

Qonita Fadhilah

Qonita Fadhilah

Next Post
Seni Membaca Pesan Tuhan: Mengapa Kita Butuh Tafsir?

Seni Membaca Pesan Tuhan: Mengapa Kita Butuh Tafsir?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.