KALIMAHSAWA.ID, SLEMAN – Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menggelar agenda intelektual Bahas Literasi 1 Lembar (BAHL1L) Batch #2 pada Ahad, 22 Februari 2026, bertempat di Omah Tinom, Godean, Sleman. Kegiatan ini menjadi ruang dialektika kader dalam merespons isu-isu aktual dan strategis, baik dalam lingkup fakultas, organisasi, maupun persyarikatan Muhammadiyah.
Forum BAHL1L kali ini secara khusus membahas perubahan nomenklatur Fakultas Agama Islam menjadi Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP). Perubahan tersebut dipandang bukan sekadar pergantian nama administratif, melainkan transformasi paradigma keilmuan dan arah gerak institusi. Hadir sebagai narasumber utama, Dekan FSIP, Bapak Nurwanto, S.Ag., M.A., M.Ed., Ph.D., menyampaikan arah kebijakan serta fondasi filosofis dari perubahan tersebut.
Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa realisasi visi FSIP harus tetap berlandaskan pada Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), yakni pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK).
Pada pilar pendidikan, FSIP diharapkan mampu memperluas cakupan studi dengan menghadirkan pendekatan interdisipliner yang responsif terhadap perkembangan zaman. Studi Islam dan Peradaban tidak hanya bertujuan memahami khazanah keislaman klasik, tetapi juga membaca dinamika peradaban global sebagai bahan refleksi dan pembelajaran bagi umat Islam. Dengan demikian, fakultas diharapkan mampu melahirkan generasi yang berwawasan luas, kritis, dan adaptif terhadap perubahan sosial.
Di bidang penelitian, FSIP didorong menjadi ruang lahirnya inovasi dan gagasan progresif. Semangat menjemput kembali kejayaan peradaban emas masa lalu harus diwujudkan melalui riset yang kontekstual dan solutif. Penelitian tidak berhenti pada tataran konseptual, melainkan diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi pengembangan keilmuan dan kehidupan masyarakat.
Sementara itu, dalam aspek pengabdian masyarakat, institusi pendidikan dituntut hadir sebagai pelayan umat. Spirit Al-Maun menjadi fondasi dalam membela kelompok marginal dan memastikan akses terhadap pendidikan serta kesehatan dapat dirasakan secara lebih adil. Pengabdian bukan sekadar program formal, tetapi manifestasi nyata dari nilai keberpihakan Islam terhadap kaum mustadh’afin.
Adapun pada pilar Al-Islam Kemuhammadiyahan, internalisasi nilai ideologis menjadi penopang utama gerak akademik. Dakwah amar ma’ruf nahi munkar harus tercermin dalam sikap ilmiah, etika akademik, serta kontribusi sosial para kader. Identitas Muhammadiyah tidak hanya menjadi simbol, tetapi ruh yang menghidupkan seluruh aktivitas akademik.
Dalam sesi dialog, Bapak Nurwanto juga menekankan pentingnya memahami Islam sebagai Dinul Rahmah (agama kasih sayang) dan Dinul Adaalah (agama keadilan). Islam tidak boleh dipersempit sebatas identitas formal, melainkan harus tampil sebagai solusi atas problem ketimpangan sosial. Kader IMM dituntut memiliki kepekaan sosial dan keberpihakan terhadap mereka yang hak-haknya belum terpenuhi secara optimal.
Lebih lanjut, forum ini menyoroti transformasi kader dari sekadar akademisi menjadi intelektual transformatif. Akademisi cenderung berkutat pada rutinitas administratif dan pencapaian akademik personal, sedangkan intelektual transformatif mampu menjembatani teori dengan realitas sosial. Mereka tidak hanya berdiskusi tentang sejarah peradaban, tetapi aktif menuliskan sejarah baru melalui gagasan, advokasi, dan aksi nyata.
Visi FSIP menuntut lahirnya kader yang mampu mensintesiskan kedalaman studi Islam dengan keluasan perspektif peradaban. Intelektual transformatif harus berani menyuarakan kebenaran di ruang publik secara argumentatif dan beradab, serta menjadikan ilmu sebagai instrumen perubahan sosial.
Dalam konteks manajemen organisasi, sistem kepemimpinan kolektif-kolegial di IMM ditegaskan sebagai instrumen penguatan solidaritas dan efektivitas gerakan. Pemetaan potensi kader dan strategi diaspora menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi. IMM harus menjadi “rumah” yang hangat, yang tidak hanya dipenuhi agenda formal, tetapi juga diskusi mendalam, empati, dan semangat kekeluargaan.
Sebagai penutup, BAHL1L Batch #2 menghasilkan komitmen bersama bahwa perubahan menjadi Fakultas Studi Islam dan Peradaban adalah panggilan sejarah untuk membangun menara peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang inklusif dan berkeadilan. Kader IMM FAI UMY menegaskan kesiapan mereka untuk menjadi aktor perubahan—menggerakkan nalar kritis, memperluas kolaborasi, serta menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat.
Forum ini pun menjadi titik awal konsolidasi gagasan dan gerakan, menuju transformasi akademisi menjadi intelektual penggerak yang mencerahkan semesta dan meneguhkan peran strategis IMM dalam membangun peradaban.
Kontributor: Arsy Sekar Kemuning