Oleh: Jovi Fernando Setiawan
Indonesia adalah negara yang unik, sebuah paradoks yang berjalan. Kita adalah salah satu pengguna internet teraktif di dunia, tapi sekaligus memiliki minat baca yang memprihatinkan. Ponsel pintar ada di setiap genggaman, dari kota hingga desa, namun seringkali “pintar”-nya hanya berhenti di perangkatnya saja, tidak menular ke penggunanya.
Data UNESCO yang sering dikutip menyebutkan minat baca kita hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang, hanya satu yang rajin membaca. Ini bukan sekadar angka statistik yang membosankan, melainkan lonceng kematian bagi akal sehat kita. Kita malas membaca teks panjang, tapi sangat rajin membaca judul berita yang provokatif.
Budaya “malas baca” ini menciptakan masyarakat yang berisik tapi kosong. Kita gemar berkomentar di media sosial tanpa memahami konteks. Kolom komentar penuh dengan caci maki yang didasari oleh kesalahpahaman. Orang merasa sudah tahu segalanya hanya bermodalkan membaca satu paragraf awal atau bahkan hanya thumbnail YouTube.
Akibat paling nyata dari rendahnya literasi ini adalah tumpulnya daya pikir kritis (critical thinking). Otak itu seperti otot; kalau jarang dipakai menganalisis bacaan berkualitas, ia akan lembek. Kita jadi sulit membedakan mana opini, mana fakta, dan mana propaganda. Semua informasi dianggap kebenaran mutlak.
Inilah karpet merah bagi merajalelanya hoaks. Berita bohong menyebar seperti api di padang rumput kering. Mengapa? Karena kita punya budaya “share” yang impulsif. Di grup WhatsApp keluarga, om dan tante kita dengan polosnya menyebarkan info kesehatan sesat hanya karena ada tulisan “Viralkan!” atau “Info Valid”.
Ketidakmampuan melakukan navigasi internet adalah masalah serius. Banyak orang tua kita memegang smartphone canggih, tapi mentalitasnya masih analog. Mereka tidak tahu cara verifikasi sumber, tidak tahu cara kerja algoritma, dan mudah sekali terjebak clickbait. Mereka adalah imigran digital yang tersesat tanpa peta.
Mereka sering kali tidak sadar bahwa apa yang mereka lihat di beranda Facebook adalah hasil kurasi algoritma yang mengurung mereka dalam echo chamber. Jika mereka suka berita konspirasi, maka internet akan menyuapi mereka konspirasi setiap hari. Akhirnya, mereka makin yakin bahwa dunialah yang gila, bukan mereka.
Namun, bencana yang lebih besar sedang mengintai di generasi bawah kita: Gen Alpha. Ini adalah anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, yang sejak bayi sudah disodori layar sentuh. Mereka adalah kelinci percobaan dari eksperimen digital raksasa yang tidak ada kontrolnya. Fenomena “iPad Kids” kini ada di mana-mana.
Orang tua milenial dan Gen Z awal seringkali menjadikan gadget sebagai “pengasuh digital”. Anak rewel sedikit, kasih HP. Anak tidak mau makan, kasih YouTube. Alasannya klise: biar anteng. Padahal, ini adalah bom waktu. Kita sedang membesarkan anak dengan dopamin instan tanpa jeda.
Masalahnya, orang tua ini juga sering kali buta literasi digital. Mereka tidak tahu fitur parental control, tidak mengecek history tontonan anak, dan membiarkan algoritma YouTube Autoplay mengasuh anak mereka. Akibatnya, anak-anak terpapar konten aneh, kekerasan, hingga seksual yang dikemas dalam animasi kartun.
Konten “brain rot” atau sampah otak seperti tren Skibidi Toilet atau video pendek dengan tempo super cepat merusak rentang perhatian (attention span) anak. Mereka jadi tidak bisa fokus lebih dari 15 detik. Jika disuruh membaca buku pelajaran, mereka akan bosan dalam satu menit karena buku tidak bergerak dan tidak bersuara.
Daya juang anak-anak ini menjadi sangat rendah. Di dunia digital, semua serba instan. Mau hiburan tinggal scroll, mau ganti tontonan tinggal swipe. Ketika menghadapi kesulitan di dunia nyata yang butuh proses, mereka mudah frustasi dan tantrum. Mereka kehilangan seni bersabar dan menikmati proses.
Kemampuan sosial mereka juga tergerus. Kita sering melihat pemandangan miris di restoran: satu keluarga duduk semeja, tapi semuanya menunduk menatap layar masing-masing. Anak tidak diajarkan cara berinteraksi, membaca ekspresi wajah, atau berempati, karena lawan bicara mereka adalah layar kaca yang dingin.
Sekolah pun kewalahan menghadapi fenomena ini. Guru mengeluh murid makin sulit diatur, tidak bisa menyimak penjelasan, dan emosinya meledak-ledak. Tapi guru juga tidak bisa berbuat banyak karena di rumah, pola asuh orang tua tetap membiarkan internet menjadi raja. Sekolah kalah bersaing dengan TikTok.
Ironisnya, orang tua yang membiarkan anak kecanduan gadget ini sering kali adalah orang yang sama yang malas membaca tadi. Ini adalah lingkaran setan kebodohan. Orang tua yang tidak literat membesarkan anak yang hyper-koneksi tapi minim substansi. Kebodohan diwariskan secara estafet melalui serat optik.
Penurunan daya pikir ini membuat bangsa kita mudah sekali diadu domba. Isu sara sedikit saja bisa memicu kerusuhan daring. Kita menjadi bangsa “sumbu pendek”. Logika dikesampingkan, emosi didewakan. Debat kusir menjadi olahraga nasional, di mana yang menang bukan yang benar, tapi yang paling “ngegas”.
Kita juga melihat degradasi bahasa. Kosa kata anak-anak makin miskin, bercampur aduk dengan bahasa gaul internet yang tidak baku. Kemampuan menulis narasi panjang dan runtut makin langka. Esai atau surat digantikan oleh stiker dan singkatan. Bahasa adalah alat berpikir; jika bahasa rusak, cara berpikir pun rusak.
Pemerintah seringkali hanya fokus pada infrastruktur fisik internet, memperluas sinyal 5G, membagikan laptop, tapi lupa membangun “infrastruktur nalar” manusianya. Memberi internet cepat pada orang yang tidak suka membaca ibarat memberi mobil Ferrari pada orang yang tidak bisa menyetir: berbahaya dan fatal.
Solusinya tidak bisa instan, harus radikal. Gerakan literasi harus dimulai dari meja makan di rumah. Orang tua harus tega mengambil gadget anak dan menggantinya dengan buku atau mainan fisik. Orang tua juga harus “sekolah lagi” tentang internet, supaya tidak jadi bahan tertawaan atau korban penipuan.
Kita harus berhenti menormalisasi kebodohan. Berhenti memviralkan orang-orang bodoh yang melakukan hal konyol. Berhenti men-share berita tanpa baca isinya. Kita perlu kembali memuja ilmu pengetahuan dan diskusi yang sehat, bukan memuja sensasi dan drama murahan yang tidak ada habisnya.
Jika kita tidak segera mengerem laju degradasi ini, Indonesia Emas 2045 hanya akan jadi mimpi siang bolong. Yang akan kita hadapi adalah “Indonesia Cemas”, yang diisi oleh angkatan kerja yang tidak punya skill, tidak punya fokus, dan mudah dimanipulasi oleh siapa saja yang memegang kendali algoritma.
Literasi bukan sekadar hobi membaca novel di waktu senggang. Literasi adalah kemampuan bertahan hidup (survival skill) di abad 21. Tanpa literasi, kita hanya akan menjadi buih di lautan informasi; terombang-ambing, tidak punya arah, dan akhirnya pecah menabrak karang realita yang keras.
Mari kita letakkan ponsel sejenak. Lihatlah sekeliling. Ajaklah anak atau adik kita bicara. Bukalah buku. Karena satu-satunya cara melawan algoritma yang memperbodoh adalah dengan menyalakan kembali nalar kritis yang sudah lama kita istirahatkan di dalam kepala. Sebelum semuanya terlambat.
Editor: Dwi Kurniadi