Oleh: Elsa Amalia Putri (Mahasiswa Sistem Informasi, Universitas Muhammadiyah Gresik)
Muhammadiyah: Gerakan Islam yang Mengalami Reformasi di Indonesia
Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam yang paling besar di Indonesia, didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Didirikan pada tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah berfungsi sebagai gerakan yang memiliki peran penting dalam kemajuan sosial, pendidikan, dan keagamaan di Indonesia. Tujuan utama Muhammadiyah adalah melakukan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, serta tajdid dalam komunitas Muslim.
Gerakan ini menekankan pentingnya reformasi dan pemurnian praktik Islam agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman, sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip ajaran agama yang mendasar.
Identitas dan Tujuan Utama
Di dalam pokok identitas Muhammadiyah terdapat komitmennya untuk menjadikan Islam sebagai dasar dalam aspek spiritual dan sosial. Dalam Muqodimah dokumen organisasinya, Muhammadiyah menegaskan bahwa keyakinan kepada Allah, pengamalan ajaran Islam, dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad adalah hal-hal mutlak yang harus dipatuhi oleh anggota.
Muhammadiyah percaya bahwa tiada sistem kehidupan yang lebih baik daripada yang telah ditentukan oleh Tuhan dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu, tujuannya adalah untuk menyebarluaskan, melindungi, dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, agar umat Islam meraih kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Gerakan Muhammadiyah dapat dijelaskan melalui tiga aspek utama yang saling terkait:
1. Aksi Islami: Muhammadiyah berupaya untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dalam berbagai sisi kehidupan, baik dalam ibadah maupun aspek duniawi. Aksi Islami ini meliputi bukan hanya ibadah ritual, namun juga aspek sosial, ekonomi, dan politik, yang selalu berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam.
2. Dakwah: Fokus utama Muhammadiyah adalah mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan menghindari kemungkaran, dengan sasaran utama adalah masyarakat luas. Dakwah tersebut dilakukan dengan cara yang bijak dan penuh kesopanan, menggunakan pendekatan yang sesuai dengan konteks sosial serta budaya masyarakat Indonesia. Melalui dakwah, Muhammadiyah berusaha membangun masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki budi pekerti yang tinggi dan bermartabat.
3. Tajdid: Muhammadiyah mendorong inovasi dalam cara berpikir, pemahaman, dan praktik Islam agar agama ini tetap aktual seiring dengan perkembangan zaman. Inovasi ini mencakup pemahaman terhadap teks-teks agama, yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya terkini, serta mengajak umat untuk bergerak bersama waktu tanpa kehilangan esensi ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa Islam harus sesuai untuk setiap zaman dan tempat.
Keanggotaan dan Struktur
Keanggotaan Muhammadiyah terbuka bagi semua Muslim yang menerima prinsip dan tujuan organisasinya. Untuk menjadi anggota, seseorang harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan, antara lain beragama Islam, menerima prinsip dan tujuan Muhammadiyah, serta bersedia mengikuti keputusan organisasi.
Ada dua tipe anggota dalam Muhammadiyah:
1. Anggota Biasa: Muslim yang memenuhi syarat dan terdaftar secara resmi sebagai anggota.
2. Anggota Kehormatan: Individu yang dianggap memiliki kontribusi signifikan terhadap Muhammadiyah meskipun tidak tergabung sebagai anggota biasa.
Anggota Muhammadiyah memiliki hak untuk ikut dalam musyawarah, mengemukakan pendapat, memilih dan dicalonkan dalam kepengurusan, serta mendapatkan pembinaan dari organisasi. Di samping itu, mereka juga memiliki kewajiban untuk menjaga citra baik organisasi, aktif dalam kegiatan, dan membayar iuran keanggotaan.
Struktur organisasi Muhammadiyah memiliki hierarki yang dimulai dari tingkat paling dasar di ranting, lalu berlanjut ke cabang, daerah, wilayah, dan akhirnya menuju pimpinan pusat di tingkat nasional. Sistem ini menjamin bahwa setiap keputusan yang diambil mampu dimengerti dan diterapkan dengan baik di semua tingkatan.
Pimpinan pusat bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan dan keputusan strategis organisasi, sedangkan pimpinan di wilayah, daerah, dan cabang berfungsi untuk melaksanakan keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat.
Organisasi Otonom
Untuk meningkatkan pengaruhnya, Muhammadiyah memiliki berbagai organisasi otonom (Ortom) yang fokus pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. Setiap organisasi otonom memiliki ciri dan bidang kegiatan masing-masing, namun tetap berada di bawah naungan Muhammadiyah.
Beberapa organisasi otonom yang terkenal di Muhammadiyah adalah:
1. Aisyiyah: Organisasi perempuan yang berdedikasi untuk memberdayakan dan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam masyarakat. Aisyiyah aktif di bidang pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi perempuan.
2. Pemuda Muhammadiyah: Organisasi yang mengakomodasi dan mengorganisir generasi muda dalam peran sosial dan spiritual mereka. Pemuda Muhammadiyah juga berkontribusi dalam pengembangan potensi kepemudaan dan memperjuangkan kemajuan bangsa.
3. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM): Organisasi pelajar yang berfungsi untuk mengembangkan kepemimpinan dan kecerdasan akademik pelajar Muslim. IPM menjadi tempat bagi pelajar untuk menumbuhkan semangat belajar dan meraih prestasi.
4. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM): Organisasi mahasiswa yang berfokus pada pengembangan potensi kepemimpinan dan akademik mahasiswa Muslim. IMM berperan dalam membentuk karakter mahasiswa yang berintegritas dan siap menghadapi berbagai tantangan.
Setiap organisasi otonom memiliki kontribusi yang signifikan dalam mencapai visi dan misi Muhammadiyah di berbagai bidang serta mendukung dakwah dan pembaruan dalam masyarakat.
Kesimpulan
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah, bertujuan untuk menegakkan ajaran Islam secara menyeluruh dan relevan dengan tantangan zaman. Gerakan ini aktif dalam berdakwah, mengajak masyarakat menuju kebaikan, dan melakukan pembaruan pemikiran agar Islam tetap relevan dan mampu beradaptasi.
Keanggotaan Muhammadiyah terbuka bagi seluruh Muslim yang menerima prinsip dan tujuannya, serta mempunyai hak dan kewajiban untuk ikut dalam kegiatan dakwah dan program sosial.
Struktur organisasinya yang teratur dari pusat sampai ranting memastikan adanya koordinasi yang efektif dan terus-menerus, sementara organisasi otonom seperti Aisyiyah, IMM, IPM, dan Pemuda Muhammadiyah memperkuat peran dakwah di masyarakat. Dengan semangat tajdid dan pembaruan, Muhammadiyah tetap berkomitmen untuk membangun masyarakat Islam yang maju, adil, dan bermoral.
Editor: Arsy Sekar Kemuning