Oleh: Fearlyta Melania Sutrisno
Apakah kalian tahu? Jika pikiran disebut magnet. Iya betul sekali magnet! Benda yang memiliki kemampuan menarik benda di sekitarnya. Kalian pasti penasaran kan kenapa sih pikiran disebut magnet? Apakah pikiran kita bisa menarik sesuatu? Mari kita cari tau lebih lanjut tentang frekuensi pikiran ini.
Pikiran adalah Magnet. ingat kunci itu. Hidupmu tidak akan berubah jika frekuensi yang dipancarkan melalui pikiran tidak kita ubah. Einsten pernah berkata “everything is energy, if you want of the reality match the frequency and you’ll get that reality”. Jadi seperti ini, hidup kita mirip dengan menara suar. Sinyal yang diberikan akan mengidentifikasi siapa atau apa yang akan menghampiri. Jika menginginkan hasil yang berbeda kita bisa mengubah “frekuensi” pikiran.
Di buku “THE SECRET”, apa yang kamu pikirkan dalam keseharianmu, itulah yang akan kamu tarik dalam kehidupan.
Menurut John Assaraf, sering tidak dipahami banyak orang bahwasanya pikiran mempunyai frekuensi. Jadi jika Anda berulang memikirkan pikiran tersebut, maka pikiran kita akan ter-setting untuk yakinn bahwa kita semakin dekat dengan pikiran tersebut. misal; Jika dalam benak anda membayangkan bahwa anda memiliki handphone baru, prestasi segudang juga memiliki uang banyak. pikiran akan ter-setting, sehingga lebih mudah merealisasikan pikiran tersebut.
Jika anda membayangkan seperti apa yang terpikirkan, secara konsisten anda memancarkan frekuensi tersebut. Maka kita harus sering memancarkan energi seolah sudah berada diposisi yang kita bayangkan. Percaya saja dulu pada pikiran kita, jangan berpikir “gimana caranya” atau “kira-kira aku bisa ngga sih?”. hentikanlah pikiran seperti itu dan lalu percayalah bahwa nanti semesta akan membuka jalan menuju angan itu dan memantulkan kembali frekuensi yang dipancarkan mindset kita.
Bagi John Assaraf, cara sederhana memahami hukum tarik menarik ini adalah memposisikan diri sebagai magnet dan tahu bahwa sesuatu akan tertarik ke arah magnet. Ketika seseorang memusatkan pikirannya pada suatu destinasi, tanpa disadari akan lebih peka terhadap peluang yang berkaitan juga. Pikiran berfungsi seperti penyaring hal-hal yang sesuai dengan fokus kita akan lebih mudah diperhatikan, sementara yang tidak relevan cenderung diabaikan.
Dalam hal ini, pikiran dapat dianalogikan sebagai magnet yang menarik perhatian, tindakan, dan keputusan ke arah tertentu. Namun, magnet pikiran bukan berarti segala sesuatu terjadi secara otomatis tanpa usaha.
Pikiran positif tidak serta-merta mendatangkan kesuksesan, tetapi dapat membentuk sikap mental yang lebih terbuka, percaya diri, dan gigih. Sikap inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk bertindak, belajar dari kegagalan, dan terus mencoba. Sebaliknya, pikiran negatif dapat membuat seseorang ragu, takut mengambil risiko, dan akhirnya menjauh dari peluang.
Dengan demikian, konsep pikiran sebagai magnet lebih tepat dipahami sebagai hubungan antara cara berpikir dan pola perilaku. Pikiran memang memiliki pengaruh besar, tetapi hasil nyata tetap membutuhkan tindakan dan kerja keras. Tanpa usaha, perencanaan, dan kemampuan beradaptasi, fokus hanya akan berhenti sebagai niat. Pikiran positif memang dapat mendorong keberanian dan optimisme, tetapi hasil nyata muncul dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Keseimbangan antara fokus mental yang positif dan usaha yang nyata merupakan kunci agar “daya tarik” pikiran dapat bekerja secara realistis dalam kehidupan.
Dr. Joe Vitale mengatakan, “Bila menyerahkannya kepada semesta. Kamu akan terkejut dan merasa bingung ketika melihat hasil yang terlihat. Di sinilah terjadinya keajaiban.” Contohnya, daripada berkata “semoga ngga ketemu teman jahat kaya dia deh”, lebih baik diganti dengan “semoga ketemu teman yang baik, perhatian, selalu mengarahkan ke hal positif dan mendengarkan cerita tentang masalah kita.” kenapa harus seperti itu? karena semesta tidak berfokus pada kata “tidak”, melainkan pada inti pemikiran yang kita pancarkan.
Ketika ingin hidup perlahan berubah, penting untuk memperhatikan fokus pikiran kita. Masalahnya, banyak orang fokusnya terhadap hal yang keliru. Semesta tidak bisa membedakan mana yang baik atau buruk, hanya merespons energi yang dikeluarkan oleh kita. Jika pikiran dipenuhi rasa takut gagal secara berlebihan, tidak percaya diri, atau insecure, maka yang datang justru hal-hal yang memperkuat rasa takut. Sebaliknya, bila pikiran penuh dengan keyakinan, rasa syukur, dan energi positif, maka semesta akan menghadapkan pengalaman yang setimpal.
Dengan mengubah pola pikir, seseorang dapat melampaui kegagalan dan hambatan. Pikiran yang terarah pada hal positif memberi kekuatan untuk terus melangkah mendekati pijakan optimis yang di renungkan setiap harinya, meski harus melalui jalan panjang dan perjuangan berat. Namun pada akhirnya, akan mampu meraih cita-cita karena fokusnya bukan lagi pada ketakutan, melainkan pada impian dan keyakinan.
Pola pikir positif membentuk kebiasaan berpikir jangka panjang, kebiasaan ini membantu menghadapi masa depan. Sikap untuk bertumbuh ini membuat seseorang lebih mudah mencapai masa depan yang dia inginkan. Jadi, untuk mencapainya kita harus berpikir positif disertai konsistensi untuk mencapai hidup yang dituju.
Editor: Astyra Gita Kinanti