Oleh: Tria Andre Yani
Gerakan perempuan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran besar tokoh-tokoh Islam yang berjuang untuk mengangkat derajat kaum perempuan melalui pendidikan dan dakwah. Salah satu tokoh sentral perempuan dalam sejarah tersebut adalah Nyai Siti Walidah (1872–1946), istri pendiri Muhammadiyah yaitu K.H. Ahmad Dahlan.
Kiprahnya tidak hanya dikenal sebagai pendamping suami yang setia, tetapi juga sebagai pemikir dan aktivis perempuan yang membentuk wajah baru peran perempuan dalam Islam.
Lahir dari keluarga ulama di Kauman Yogyakarta, Siti Walidah membawa semangat Islam berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah. Ia menyadari bahwa kebodohan dan keterbelakangan perempuan pada masa itu bukan berasal dari ajaran Islam melainkan dari tafsir sosial yang mengekang potensi perempuan.
Dari kesadaran inilah lahir ‘Aisyiyah pada tahun 1917, organisasi perempuan Muhammadiyah yang menjadi pionir kebangkitan perempuan Muslim Indonesia.
Biografi Intelektual Siti Walidah
Nyai Siti Walidah dilahirkan dalam lingkungan religius di Kauman, pusat kegiatan Islam di Yogyakarta. Pendidikan formal bagi perempuan saat itu sangat terbatas. Namun, ia mendapatkan pengetahuan agama dari keluarganya, khususnya ayahnya Kyai Muhammad Fadil seorang ulama dan anggota ulama keraton.
Ketika menikah dengan K.H. Ahmad Dahlan, ia tidak hanya berperan sebagai istri, tetapi juga mitra intelektual dan ideologis dalam perjuangan dakwah Muhammadiyah. Bersama suaminya ia aktif dalam pengajian perempuan, mengajarkan Al-Qur’an dan tafsirnya secara kontekstual. Melalui aktivitas dakwah ini, Nyai Siti Walidah menumbuhkan kesadaran bahwa perempuan memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang sama dengan laki-laki.
Ia juga dikenal sebagai pendidik organisator dan pemimpin yang visioner. Pada tahun 1926 ia diangkat menjadi Ketua Kongres Perempuan Indonesia pertama, menunjukkan pengakuan nasional atas kepemimpinannya. Dedikasinya terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan menjadi bukti bahwa Islam sejatinya mendukung kemajuan kaum perempuan.
Latar Historis Gagasan Pemikiran Nyai Siti Walidah
Pada awal abad ke-20, masyarakat Indonesia masih berada dalam cengkeraman feodalisme dan kolonialisme kaum perempuan, khususnya di lingkungan tradisional menghadapi berbagai keterbatasan rendahnya pendidikan pernikahan dini, serta minimnya ruang partisipasi publik. Dalam konteks inilah gagasan Nyai Siti Walidah muncul sebagai reaksi terhadap stagnasi sosial dan kultural. Ia melihat bahwa Islam bukanlah agama yang menindas perempuan melainkan agama yang menuntun manusia menuju kemuliaan dan kesetaraan dalam peran. Pandangannya sejalan dengan semangat pembaruan.
Islam yang dibawa Muhammadiyah yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan semangat rasional dan progresif.
‘Aisyiyah didirikan sebagai wadah bagi perempuan untuk berperan aktif dalam dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial. Melalui organisasi ini perempuan tidak lagi sekadar menjadi objek tetapi juga subjek perubahan sosial. Nyai Siti Walidah mengajarkan bahwa perjuangan perempuan harus berlandaskan nilai-nilai Islam, etika, dan ilmu pengetahuan.
Bagi Nyai Siti Walidah, pendidikan bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi jalan pembebasan bagi perempuan dari kebodohan dan ketidakadilan sosial. Ia yakin bahwa dengan ilmu, perempuan bisa menjadi pendidik utama bagi generasi bangsa dan ikut serta dalam pembangunan masyarakat.
Melalui ‘Aisyiyah, yang didirikan pada tahun 1917, ia membuka sekolah sekolah bagi perempuan Muslim, sesuatu yang saat itu tergolong berani dan revolusioner. Di sekolah ‘Aisyiyah, murid-murid diajarkan ilmu agama, membaca Al-Qur’an, ilmu pengetahuan umum, hingga keterampilan hidup.
Namun lebih dari itu, Nyai Siti Walidah ingin menanamkan nilai-nilai kemandirian, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Ia percaya bahwa perempuan yang cerdas dan beriman akan melahirkan masyarakat yang kuat. Pemikirannya sejalan dengan prinsip Muhammadiyah tentang islam berkemajuan, bahwa kemajuan umat hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Dengan gagasannya, Nyai Siti Walidah menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan dan pembebasan perempuan. Mengubah paradigma bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan mitra sejajar dalam membangun bangsa dan agama.
Jejak perjuangan Nyai Siti Walidah membuktikan bahwa gerakan perempuan bukanlah bentuk perlawanan terhadap agama, melainkan perwujudan dari nilai Islam yang sejati keadilan, ilmu, dan kemajuan. Melalui ‘Aisyiyah ia mewariskan pemikiran bahwa pendidikan adalah kunci kemerdekaan sejati bukan hanya bagi perempuan, tetapi bagi seluruh umat manusia. Pemikirannya tetap hidup hingga kini menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk terus belajar, berdaya, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Editor: Arsy Sekar Kemuning