Oleh: Filza Zuan Nabila (Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UMS)
Beberapa waktu lalu, media sosial ramai oleh unggahan video dari konten kreator Kadam Sidik yang memperlihatkan suasana pengajian di dalam gim Roblox. Dalam video itu, sejumlah pemain duduk sebagai avatar di ruang masjid virtual, menyimak tausiah. Fenomena tersebut awalnya mungkin tampak lucu, namun di baliknya tersimpan sebuah gerakan kultural baru yakni mengaji di dunia maya.
Era digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam hal beribadah dan belajar agama. Roblox, yang mulanya dikenal sebagai ruang bermain, kini menjelma menjadi arena dakwah bahkan belajar yang interaktif. Anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu di dunia virtual mulai mengenal nilai-nilai Al-Qur’an melalui pendekatan yang menyenangkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa dakwah bisa hadir di ruang mana pun, termasuk di dunia yang penuh warna dan piksel.
Pembelajaran Al-Qur’an di dunia virtual bukan lagi konsep yang mustahil. Dengan pendekatan gamifikasi, nilai-nilai Qur’ani dapat dikemas dalam bentuk interaktif, seperti beberapa waktu lalu, beberapa player roblox mau menyetorkan hafalannya yakni surah An-Naba’ kepada beberapa konten creator yang sedang live steaming di salah satu Podcast Map di Roblox, yang diakhiri dengan refleksi spiritual. Pola ini sejalan dengan semangat desain media pembelajaran yang mendorong pengalaman belajar partisipatif dan menyentuh emosi (Nurrohim, 2024: 11).
Dalam praktiknya, Roblox memungkinkan pengguna membangun dunia mereka sendiri. Beberapa komunitas mulai menciptakan “masjid virtual” atau “ruang setoran hafalan” tempat pemain bisa belajar tajwid dan tahsin secara sederhana. Bahkan, ada pula sesi ceramah mini yang disampaikan dengan karakter 3D yang menarik perhatian anak-anak.
Hal ini membuktikan bahwa pendekatan spiritual tidak harus kaku; ia bisa hadir melalui media yang dekat dengan keseharian generasi muda (Nurrohim, 2023: 88). Namun Sebagian orang mungkin bertanya: apakah mengaji di dalam game tidak menurunkan nilai kesakralan ibadah? Kekhawatiran itu wajar. Namun, yang penting bukan medianya, melainkan niat dan arah penggunaannya.
Dunia virtual hanyalah wadah, sedangkan ruhnya tetap ditentukan oleh nilai dan tujuan yang menyertainya. Pembelajaran Qur’ani yang ideal selalu menempatkan spiritualitas sebagai inti, sementara teknologi hanyalah jembatan untuk mencapainya (Nurrohim, 2022: 59).
Dalam banyak kasus, dakwah digital justru membuka pintu bagi mereka yang semula jauh dari kegiatan keagamaan. Seorang anak yang enggan datang ke masjid, bisa jadi akan lebih tertarik belajar jika disajikan melalui ruang interaktif yang ia sukai. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip re-aktualisasi pendidikan Qur’ani yang menekankan relevansi media terhadap kondisi peserta didik (Nurrohim, 2021: 37).
Kreativitas Dakwah di Dunia Maya
Fenomena Kadam Sidik hanyalah salah satu contoh. Ada pula kreator seperti Rasyid Roblox yang membuat sesi “hafalan bareng teman”, atau Tsaqif Quran Studio yang mengadakan “kajian after game”. Mereka bukan ulama besar, tapi justru karena itu dakwah mereka terasa akrab dan mengena di hati pengguna muda.
Melalui cara yang ringan, pesan-pesan tauhid disampaikan di tengah suasana bermain sebuah bentuk dakwah kultural yang sesuai dengan semangat zaman (Nurrohim, 2020: 102). Namun, tantangannya tetap besar. Dunia game memiliki potensi distraksi yang tinggi dan tidak selalu ramah terhadap nilai religius. Karena itu, dibutuhkan pendampingan dari para pendidik dan desainer pembelajaran agar gamifikasi dakwah tidak berubah menjadi sekadar hiburan.
Dalam hal ini, prinsip hikmah pedagogis perlu dijaga agar penggunaan media tetap berada dalam koridor nilai Qur’ani (Nurrohim, 2024: 11). Bayangkan jika ke depan, masjid tidak hanya berdiri di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Setiap avatar bisa datang, menyimak khutbah, bahkan berinteraksi dalam halaqah virtual. Mungkin terdengar futuristik, tapi arah ke sana sudah mulai tampak.
Generasi Z yang tumbuh di ruang digital membutuhkan cara baru untuk mengenal Al-Qur’an, cara yang tetap menjaga ruh iman di tengah gelombang teknologi. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai penelitian pendidikan Islam, inti dari desain media pembelajaran adalah membentuk pengalaman yang bermakna, bukan sekadar menarik (Ismail & Nurrohim, 2023: 45).
“Ngaji di Roblox” menjadi simbol bahwa dakwah kini tak lagi terbatas ruang. Ia menembus layar, menyapa setiap hati yang mau mendengar, meski lewat karakter animasi. Dunia virtual bukan ancaman bagi spiritualitas. Ia hanyalah panggung baru tempat nilai-nilai Qur’ani diuji: apakah tetap hidup, atau sekadar menjadi konten? Maka, tugas para pendidik dan kreator hari ini adalah memastikan bahwa setiap ruang digital yang mereka ciptakan tidak kehilangan arah tetap menuju Allah, bahkan di tengah dunia game.
“Teknologi bukan ancaman, melainkan ladang dakwah baru yang menunggu untuk digarap dengan bijak.”
Editor: Dwi Kurniadi