Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kontemplasi Nihilisme yang Berjumpa dengan Kuasa Ketuhanan

Aufa Ubadah An Noeman by Aufa Ubadah An Noeman
Oktober 9, 2025
in Esai, Filsafat, Narasi
0
Kontemplasi Nihilisme yang Berjumpa dengan Kuasa Ketuhanan
17
SHARES
101
VIEWS

Oleh: Aufa Ubadah An Nu’man

Manusia adalah makhluk yang akan terus mengalami kegagalan maupun keberhasilan. Selepas itu, ia harus memperbarui tujuan akan keberhasilan maupun tujuan akan kegagalan. Hal tersebut akan terus berulang hingga pada akhirnya ia mencapai kematian yang menjadikan ia tak dapat bertindak maupun berkehendak kembali layaknya sebuah batu. Tiap-tiap kebebasan atas pilihan akan diikuti sebuah tanggung jawab atas pilihan tersebut. Mau tidak mau, ia akan menjumpai hal tersebut. Bahkan ketika manusia tersebut memilih untuk kabur, ia tetap akan menjumpai sebuah tanggungan atas pilihannya untuk kabur. Inilah keterbatasan manusia di tengah kebebasannya akan sebuah pilihan. Kebebasan dalam memilih pun akan menjadi seakan hukuman yang menjerat manusia tersebut, kecuali hingga ia menjadi batu atau mati.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Hal-hal tersebut akan memunculkan sifat pesimisme akan kehidupan (bunuh diri, kehampaan hidup, dan sebagainya). Toh, ketika melakukan suatu tanggung jawab, tak akan lepas dari setiap pilihan yang dipilih. Kalaupun menggapai keberhasilan lalu muncul rasa senang, kesenangan yang ada hanyalah sementara dan manusia itu pun harus kembali menggali ulang apa yang akan ia tuju maupun ia pilih, lalu kembali lagi dalam putaran yang menjadi paradoks tanpa akhir. Sebagaimana Islam dalam doktrinnya, manusia diarahkan untuk selalu memperbarui niat dan arah hingga pada arahan untuk mengejar tujuan yang tak akan tergapai ketika ia hidup, hingga dalam kematiannya yang lalu dikatakan sebagai kebangkitan kembali, yakni menggapai hakikat Tuhan maupun menggapai rida-Nya. Ketidakterbatasan yang berulang-ulang tersebut akhirnya memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya manusia cari? Yang mana ketika manusia menggapai hal tersebut, ia tetap harus menghadapi hal-hal lainnya. Dan akhirnya, hal yang manusia kerjakan lalu selepasnya selesai, hal tersebut tidak pernah ada. Keberulangan tersebut akan terus terjadi. Maka, sebagai manusia, apa yang perlu dilakukan dalam mengisi ketidakpastian dalam putaran tersebut?

Di sinilah Nietzsche dengan amor fati dan Ubermensch-nya menawarkan nilai-nilai baru untuk mengisi ketidakakhiran dari lingkaran keberulangan manusia tersebut. Artinya, kita perlu bertindak dengan kehendak kita sendiri dalam mencari nilai-nilai yang mengisi perasaan seorang manusia untuk menggapai sesuatu. Dan perjuangan itulah ternyata yang menjadi letak kebebasan seorang manusia. Ketika menilik kisah Sisyphus yang ditulis oleh Camus, Sisyphus tidak akan menggapai akhir dari batu yang perlu ia dorong. Batu tersebut akan terus kembali menggelinding ke bawah. Maka, untuk menjawab bentuk pesimisme tersebut, yang perlu Sisyphus lakukan hanyalah melakukan hal tersebut dengan bahagia atau mati tanpa sebuah penyesalan. Karena ketidakberujungan dan ketidakpastian itulah kepastian dari dunia yang terus bergerak. Dan berhentinya dunia menjadi berhentinya hal-hal tersebut. Sebagaimana ketika manusia mati, manusia telah berhenti dalam berkehendak maupun memilih jalan kehidupan.

Namun, bagaimana kelak ketika mati, yang ia jumpai justru bentuk tanggung jawab lainnya atas kehidupannya? Ia tak bisa lagi memilih untuk kembali mendorong batu tersebut dengan bahagia. Yang tersisa hanyalah bentuk tanggung jawab tiada akhir atas pilihan-pilihan manusia di dunia. Dan ternyata yang menentukan segala tanggungan tersebut ialah Tuhan yang selama ini teralienasikan, karena yang ia rasa tak ada sangkut pautnya Tuhan dengan kehidupan manusia. Dan manusia kembali akan dituntut untuk bertanggung jawab atas tindakannya, tapi tidak dengan pilihannya yang telah lepas bersamaan lepasnya ia dari dunia.

Bukan menghakimi maupun memaksakan sebuah keyakinan para nihilis-nihilis yang ada, namun hanya menawarkan untuk mencoba imaginatif. Apabila ternyata dunia setelah kematian itu ada, dengan mengajak para pembaca untuk membayangkan hal-hal tersebut: dunia yang bergerak tanpa akhir ternyata akan berjumpa dengan akhirnya. Kesadaran yang tiba-tiba terbangun kembali namun tidak dengan kehendaknya yang selama ini menemaninya selama hidup. Tiba-tiba kita terbangun, “Hah, di mana aku?” Lalu suatu pertanyaan muncul, namun apa yang keluar dari lisan bukanlah apa yang ingin kita ucap maupun apa yang ingin kita pilih. Kita masih diberikan kesadaran namun tidak dengan pilihannya. Maka kita akhirnya benar-benar menjadi batu sebagaimana apa yang sempat kita pikirkan, namun sadar akan apa yang akan dilakukan kepada kita. Dan keberulangan akan tetap selamanya menghantui, keberulangan akan bentuk pertanggungjawaban.

Bagaimana Dalil-Dalil Islam Berkomentar dengan Hal-Hal Tersebut

Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang dinukil dalam kitabnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

“Kullukum ra‘in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra‘iyyatihi.”

Menjadi sebuah dalil akan pertanggungjawaban yang selalu terikat pada manusia. Manusia tak akan dapat lari darinya, yang mana hal tersebut telah menjadi bagian dari konsekuensi pilihan, bahkan terhadap pilihan untuk tidak memilih maupun memilih sebuah jalan penuh kekosongan maupun kehampaan. Lalu pada nukilan Q.S. Az-Zalzalah menegaskan:

“Famayya‘mal mitsqāla dharratin khairayyarah, wa man ya‘mal mitsqāla syarratin syaroyyarah.”

Bahwa tiap-tiap amal perbuatan, kecil maupun besar, memiliki dampak terhadap diri atau sebagai bentuk tanggung jawab. Apa yang kita kerjakan akan mendapat timbal balik yang sesuai, entah di dunia maupun akhirat, sesuai dengan amal apa yang kita lakukan. Setiap balasan (baik maupun buruk) menjadi gambaran bentuk pertanggungjawaban manusia yang Tuhan sampaikan kepada umat Muslim untuk seluruh manusia.

Dan kehilangan kehendak manusia di tengah terangnya kesadaran akan diri kala kebangkitan setelah kematian diterangkan pada Q.S. Fussilat: 20–22, yang berbunyi:

“Hingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka atas apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu bersaksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab, ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara telah menjadikan kami pandai (pula) berbicara.’”

Manusia akan kehilangan kehendak di tengah kesadaran akan sebuah pilihan, namun manusia tersebut tak lagi bisa bertindak maupun memilih. Tangannya lah yang akan berucap, seolah kehendak telah dilimpahkan pada anggota badannya, bukan pada kesadaran manusia itu sendiri. Yang lalu ia tunggu hanyalah bentuk tanggungan atas segala amalnya di dunia.

Semoga tulisan ini dapat menjadi penyambung dialog atas dua pandangan yang saling bertentangan. Di sini sang penulis ingin mengisi kekosongan setelah kematian para nihilis dengan sebuah permisalan akan dunia kebangkitan. Semoga jalan perjuangan akan kebebasan tak terhenti walau seakan tak akan menggapai hal-hal tersebut. Sebuah permisalan akan Sisyphus yang berupaya untuk meletakkan batu tersebut pada sebuah puncak gunung, namun ia berhasil. Karena ternyata selepas jatuhnya batu itu kembali ke bawah, bukan “bawah” yang dimaksud (turun ke belakang), namun menggelinding ke seberangnya, dan ia kembali mendorong batu tersebut hingga berada pada puncak gunung di seberangnya (sebenar-benarnya gunung)[anggaplah puncak Olympus] dengan segala keagungan-Nya.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: AmorFatiEksistensialismefriedrich nietzschenihilisme
Previous Post

Belajar Bersyukur: Kunci Tahan Banting untuk Mahasiswa Zaman Now

Next Post

Iman Kepada Hari Akhir Sebagai Motivasi untuk Hidup Lebih Baik

Aufa Ubadah An Noeman

Aufa Ubadah An Noeman

Next Post
Iman Kepada Hari Akhir Sebagai Motivasi untuk Hidup Lebih Baik

Iman Kepada Hari Akhir Sebagai Motivasi untuk Hidup Lebih Baik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.