Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Eksistensi, Kebebasan, dan Pertanggungjawaban: Telaah Filsafat Eksistensialisme dan Teologi Jabariyah

RedaksiKS by RedaksiKS
September 30, 2025
in Esai, Filsafat, Narasi
0
Eksistensi, Kebebasan, dan Pertanggungjawaban: Telaah Filsafat Eksistensialisme dan Teologi Jabariyah
22
SHARES
127
VIEWS

Oleh: Adram Qaisullah Tihurua (DPD IMM DKI Jakarta)

Filsafat eksistensialisme, khususnya yang digagas oleh Jean-Paul Sartre, menempatkan manusia pada posisi yang unik: sebagai makhluk yang bebas. Kebebasan ini bukanlah kebebasan semu, melainkan kebebasan radikal yang membuat manusia harus selalu memilih dan menentukan jalan hidupnya. Sartre mengungkapkan bahwa eksistensi mendahului esensi, artinya manusia tidak terlahir dengan identitas, sifat, atau tujuan bawaan yang sudah mapan. Sebaliknya, manusia harus menciptakan makna dan merumuskan esensinya melalui pilihan-pilihan yang ia buat sepanjang hidupnya. Dengan demikian, manusia adalah kebebasan itu sendiri, sebab ia tidak dapat menghindari proses memilih dan bertanggung jawab atas dirinya dan pilihannya.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Pandangan ini membawa konsekuensi besar: manusia tidak dapat menyalahkan pihak lain, termasuk Tuhan, atas apa yang ia lakukan. Jika seseorang melakukan kebaikan, maka kebaikan itu adalah hasil dari kebebasan dan kehendak yang ia jalankan. Jika ia terjerumus dalam keburukan, maka itu pun lahir dari pilihannya. Sartre menolak gagasan bahwa manusia hanya sekadar pion dalam rancangan besar semesta. Baginya, membuang tanggung jawab dengan alasan “takdir” atau “kehendak Tuhan” adalah bentuk bad faith (itikad buruk), yaitu sikap menipu diri sendiri untuk lari dari kebebasan yang melekat pada eksistensi manusia.

Eksistensialisme Sartre dan Ruang Kebebasan Manusia

Dalam eksistensialisme, kebebasan bukan hanya hak, tetapi juga sekaligus beban. Sartre menyebut kebebasan sebagai “kutukan”. Manusia dikutuk untuk bebas karena tidak ada sesuatu pun yang bisa menghapus kewajiban memilih. Bahkan ketika seseorang memilih untuk tidak memilih, itu tetaplah sebuah pilihan. Kebebasan ini membuat manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakannya, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi kemanusiaan secara keseluruhan, sebab setiap pilihan individu secara simbolik menggambarkan gambaran manusia yang ia anggap ideal.

Implikasinya, dalam konteks agama manusia tidak bisa lagi menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam. Ketika seseorang berbuat zalim, ia tidak bisa mengatakan “ini sudah kehendak Tuhan”. Sebaliknya, kebebasan memungkinkan manusia untuk memilih jalan takwa atau jalan fujur. Hal ini sejalan dengan ungkapan Al-Qur’an dalam Surah Asy-Syams ayat 8–10:

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”.

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diberikan potensi ganda, baik dan buruk, dan tugas manusialah memilih serta menanggung konsekuensinya.

Sartre, meskipun seorang ateis, memberi ruang refleksi bagi umat beragama untuk memahami kebebasan sebagai anugerah Tuhan. Kebebasan bukanlah bentuk keterpisahan dari Tuhan, melainkan sarana untuk membuktikan keimanan yang autentik. Sebab tanpa kebebasan, ibadah tidak akan memiliki nilai. Apa gunanya sujud, doa, atau amal jika semuanya sekadar “program otomatis” yang ditentukan tanpa pilihan? Justru karena manusia bebas, maka ibadah dan ketaatan bernilai tinggi di mata Tuhan.

Tuhan yang “Dibajak” dan Kritik Buya Syafii Maarif

Buya Syafii Maarif pernah menegaskan bahwa “Tuhan jangan selalu dibajak”. Maksudnya, jangan sampai kelompok tertentu mengklaim Tuhan sepenuhnya berpihak kepada mereka, lalu menjadikan klaim itu sebagai legitimasi atas tindakan yang salah. Dalam praktik sosial-keagamaan sering kita temui pihak yang membenarkan kekerasan, intoleransi, atau diskriminasi dengan alasan membela Tuhan. Padahal justru sikap itu adalah bentuk manipulasi teologis.

Jika diletakkan dalam bingkai Sartre, tindakan semacam itu bisa dipahami sebagai bentuk bad faith kolektif. Orang yang tidak mau mengakui kebebasannya memilih keburukan, lalu menyalahkan Tuhan sebagai legitimasi. Alih-alih mengakui tanggung jawab, mereka “membajak Tuhan” untuk melindungi diri dari kesalahan. Dengan cara ini, agama justru tereduksi menjadi alat justifikasi kekuasaan dan kepentingan, bukan jalan menuju kebenaran. Eksistensialisme menuntut kejujuran. Jika berbuat salah, akui sebagai pilihan, jangan berlindung di balik dalih teologis karena kebebasan dan tanggung jawab tidak bisa dipisahkan.

Perspektif Islam: Jabariyah dan Penolakan Kebebasan

Namun, dalam tradisi pemikiran Islam sendiri terdapat aliran teologi yang berbeda secara tajam dengan gagasan Sartre. Aliran itu adalah Jabariyah, yang muncul pada abad awal perkembangan teologi Islam. Jabariyah meyakini bahwa manusia tidak memiliki kebebasan; semua yang terjadi adalah hasil kehendak mutlak Tuhan. Manusia tidak lebih dari wayang yang digerakkan oleh dalang. Bahkan kebaikan dan keburukan manusia seluruhnya adalah ciptaan Tuhan, manusia hanya sekadar menjalani.

Bagi Jabariyah, jika seseorang melakukan dosa, maka itu pun terjadi karena takdir Tuhan. Demikian pula ketaatan dan kebaikan, semuanya dikendalikan oleh Tuhan. Dengan demikian, konsep tanggung jawab moral manusia menjadi kabur. Manusia seolah tidak memiliki kehendak sejati karena seluruh kehendaknya sudah ditentukan. Paham ini memang memberikan penekanan besar pada kekuasaan mutlak Tuhan, tetapi di sisi lain mengurangi ruang kebebasan manusia.

Di titik inilah ketegangan itu muncul: Sartre mengatakan manusia sepenuhnya bebas, sementara Jabariyah mengatakan manusia sepenuhnya tidak bebas. Pertemuan dua pandangan ekstrem ini membuka ruang diskusi yang menarik. Eksistensialisme Sartre memberikan martabat tinggi bagi manusia, menekankan kebebasan dan tanggung jawab. Namun, ia berisiko jatuh pada nihilisme karena menyingkirkan Tuhan dari pusat makna. Jabariyah, sebaliknya, sangat menekankan kedaulatan Tuhan tetapi mengorbankan kebebasan manusia sehingga menimbulkan problem etis: bagaimana mungkin seseorang dihukum atas dosa yang sebenarnya tidak pernah ia pilih?

Islam secara umum, terutama dalam arus utama Ahlus Sunnah, sebenarnya menempuh jalan tengah. Pandangan yang lebih moderat adalah aliran Qadariyah dan Maturidiyah yang menekankan adanya ikhtiar manusia dalam batas tertentu. Dalam kerangka ini, manusia memang bergantung kepada Allah, tetapi tetap memiliki ruang untuk memilih. Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan keseimbangan ini: manusia diberi kebebasan, tetapi kebebasan itu berada dalam lingkup kehendak Allah.

Tanggung Jawab, Ibadah, dan Kebebasan

Jika ditinjau kembali, baik Sartre maupun ajaran Islam (selain Jabariyah) sama-sama menekankan pentingnya tanggung jawab. Sartre menolak alasan eksternal untuk menghindari tanggung jawab, sedangkan Islam menegaskan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Perbedaannya hanya pada basis: Sartre mendasarkan pada eksistensi manusia semata, sementara Islam mendasarkan pada relasi manusia dengan Allah. Namun, substansinya serupa: manusia tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas tindakannya.

Dalam konteks ibadah, hal ini sangat relevan. Seseorang yang beribadah karena paksaan tanpa kebebasan memilih, tidak akan merasakan nilai ibadah sejati. Justru karena kebebasan, ibadah menjadi manifestasi cinta dan kesadaran, bukan sekadar kewajiban kosong. Sartre memberi kita kerangka untuk memahami bahwa ibadah hanya bermakna jika dijalankan dalam kebebasan. Islam pun menegaskan hal serupa: “Tidak ada paksaan dalam agama” (Al-Baqarah: 256).

Pergeseran pemikiran Sartre yang menekankan kebebasan membuka ruang dialog dengan teologi Islam. Jika dibandingkan dengan Jabariyah, jelas terdapat kontras tajam. Sartre mengagungkan kebebasan, Jabariyah meniadakan kebebasan. Namun jika ditinjau lebih luas, Islam menegaskan jalan tengah: manusia diberi kebebasan terbatas dalam lingkup kehendak Allah, sehingga ia tetap bisa memilih dan harus bertanggung jawab atas pilihannya.

Dengan demikian, narasi bahwa “Tuhan jangan selalu dibajak” menjadi sangat relevan. Kebebasan manusia harus diakui, tanggung jawab harus ditegakkan, dan agama tidak boleh dijadikan alat untuk menghindar dari kesalahan. Sartre mengajarkan kita kejujuran dalam eksistensi, sementara Islam meneguhkan bahwa kebebasan manusia adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: EksistensialismeKebebasanManusiaTeologiJabariyah
Previous Post

Hijab is Never a Fashion! Menggali Makna Hijab di Era Media Sosial

Next Post

Fenomena Brain Rot di Era Society 5.0, Bagaimana Al-Qur’an Mengatasinya?

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Fenomena Brain Rot di Era Society 5.0, Bagaimana Al-Qur’an Mengatasinya?

Fenomena Brain Rot di Era Society 5.0, Bagaimana Al-Qur'an Mengatasinya?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.