Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ilmu dan Pengetahuan

Sidiq Pambudi by Sidiq Pambudi
Juli 25, 2025
in Esai, Narasi
0
Ilmu dan Pengetahuan
11
SHARES
66
VIEWS

Oleh: Muhammad Sidiq Pambudi, M.Pd.

Seorang ibu rumah tangga mencari sebuah tutorial memasak makanan Mendoan, resep didapat melalui YouTube seperti bahan-bahan dan cara-cara pengolahan bahan-bahannya. Menurut penjelasan seorang YouTuber yang menjelaskan satu persatu mulai dari bahan – bahannya, sampai pengolahan sehingga menjadi makanan Mendoan, yang konon disampaikan rasanya gurih, tidak terlalu asin, dan lain-lainnya. Namun ketika ibu rumah tangga mempraktikkannya persis seperti disampaikan oleh YouTuber tersebut, hasilnya tidak seperti yang diungkapkan gurih, tidak terlalu asin, dan lain-lainnya. Maka, contoh kasus tersebut dapat menjadi pemantik akan pembeda dari dua konsep yang kerap kali kita menyandingkan seolah-olah satu konsep yang sama. Namun justru berbeda, artinya harus terpisahkan karena dampaknya adalah seperti ibu rumah tangga tadi yang memasak mendoan berdasarkan tutorial YouTube.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Selama bertahun-tahun kita belajar cukup sering mendengar kata “ilmu” dan “ Pengetahuan”. Belajar dimanapun, baik di saat menempuh pendidikan formal; sekolah, atau pendidikan non formal; kursus, pelatihan keterampilan kerja, dan lainnya. Fungsi yang pasti terfikirkan adalah penerapan dalam kehidupan, entah pendidikan formal maupun non formal. Seperti pelajaran-pelajaran di sekolah yang cukup banyak dan kompleks dari lingkup sosial humaniora sampai ranah saintek secara menyeluruh pelajaran-pelajaran yang didapat dari para pengajar.

Sekolah formal menjadi wadah besar layaknya sebuah “Kuali”, yang menampung ratusan ton berat air, yang dimaksud adalah Ilmu Pengetahuan. Karena banyak sekali konsep-konsep yang diajarkan oleh para pendidik mulai dari materi-materi pelajaran secara lengkap dari permulaan pembelajaran dengan menanamkan terori, kemudian evaluasi setelah pembelajaran, kemudian sampai pada tahap implementasi atau praktik dalam kehidupan.

Pengetahuan

Mulai dari kasus ibu rumah tangga tadi setidaknya dapat menjadi gambaran bagaimana konsep “pengetahuan”. Bahwa pengetahan memiliki sifat subjektif, sehingga tergantung bagaimana penangkapan seseorang dalam mendapatkan pengetahuannya. Misal saja didapat dari internet, koran, papan informasi, dan lainnya. Pengetahuan juga lebih luas cangkupannya, sehingga tidak ada batasan-batasan. Segala aspek hidup pasti memiliki sebuah pengetahuan yang bisanya berupa ; fakta, opini, benda, bahkan ketrampilan, seperti permisalan tadi seorang ibu rumah tangga mencari tutorial membuat mendoan dengan sumber rujukan Kanal YouTube.

Dikarenakan pengetahuan memiliki sifat subjektif, maka ketika sebuah sumber informasi yang didapat seseorang berbeda dengan ketika dipraktikkan, hal itu dikarenakan sudah bercampur dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Sehingga sangat dimungkinkan untuk informasi tidak utuh seperti yang ditangkap, sehingga kemudian berbeda  ketika diterapkan.

Selain terdistorsi oleh pemikiran penerima informasi, “Si Pemberi” informasipun telah terdistorsi juga oleh hal-hal lain. Jadilah semakin tidak jelas indikator keakuratan “bagaimana membuat mendoan”. Karena, begitu banyak langkah yang berbeda-beda setiap ahli masak mendoan tersebut. 

Ilmu

Berbeda dengan konsep ilmu, yang menuntut objektifitas. Ilmu akan memerlukan ketelitian sebuah pengujian yang berdasarkan pengalaman (empiris). Artinya ilmu dapat sama antara rentang tahun-ke tahun. Meskipun bakal ada pembaharuan. Pembaharuan ilmu juga dapat berubah melalui proses yang begitu kompleks, mulai dari mencari permasalahan, diskusi, penelitian ilmiah, sampai pada munculnya pemahaman baru. Contoh, kita dari kecil diberi tahu bahwa setiap pagi pukul sebelum jam 10.00 adalah waktu terbaik untuk berjemur sehingga berdampak terhadap kesehatan karena terdapat vitamin D dan sinar UVB. Namun setelah sekitar tahun 2002-2006 terdapat perubahan rekomendasi berdasarkan penelitian para ahli kesehatan. Bahwasannya berjemur yang baik adalah mulai pukul 10.00 – 15.00. Hasil dari pembaharuan tersebut akan selalu digunakan oleh orang-orang yang hanya menikmati dampak baiknya, sebagai contoh ketika covid-19 lalu masyarakat diberikan saran untuk berjemur, guna meningkatkan imunitas kesehatan.

Ilmu yang miliki sifat objektif, tidak akan terdistorsi serta-merta oleh seseorang yang mempelajarinya. Sehingga akan dapat menjadi acuan dalam kehidupan. Contoh ilmu dalam memasak. Selain semua orang dapat memasak, namun kemampuan masak sebenarnya juga menjadi sebuah disiplin ilmu yang dapat dipelajar di sekolah formal atau perguruan tinggi dengan program studi tata boga. Sehingga ilmu akan saklek, ada benang merahnya tersendiri artinya si pembelajar harus memahami dan menerapkan sebagaimana sumber refrensi belajarnya. Namun sekali lagi sekalipun dapat berubah pasti akan memerlukan waktu yang cukup panjang, seperti yang telah saya contohkan sebelumnya.

Lalu, mana titik temunya ?. Ilmu dan Pengetahuan harus saling melengkapi. Contoh dalam memasak mendoan. Mungkin itu informasi yang didapat dari YouTube, yang boleh jadi dapat berbeda antar Youtuber. Namun sebetulnya dibalik memasak mendoan, terdapat ilmu-ilmu yang menjadi induk dari si YouTuber, atau ahli-ahli masak mendoan, yang sudah pasti satu prinsip yang sama dalam disiplin ilmu memasak.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: ilmuobjektivitasPengetahuansubjektivitas
Previous Post

Palu, Ego, dan Interupsi Realitas

Next Post

Gelombang Narasi yang Bergejolak dalam “Diri”

Sidiq Pambudi

Sidiq Pambudi

Next Post
Gelombang Narasi yang Bergejolak dalam “Diri”

Gelombang Narasi yang Bergejolak dalam “Diri”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.