Oleh: Najihus Salam (Kader IMM Pondok Shabran UMS)
Dalam arus deras dunia pendidikan tinggi yang makin kompetitif dan terdistraksi oleh teknologi, Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, menyampaikan sebuah pesan penting dalam Sidang Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) pada Milad ke-22 kampus tersebut.
Sebagai salah satu tokoh pemikir pendidikan di lingkungan Muhammadiyah dan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah, Fajar tidak berbicara dalam ruang hampa. Ia berbicara dari dasar pengalaman, perenungan, dan pengamatan panjang terhadap perkembangan dunia pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).
Yang disebut kampus berkemajuan bukan hanya yang unggul secara akademik dan administratif, tetapi yang mampu memberi dampak bagi masyarakat lokal dan kemanusiaan universal. Pandangan ini menjadi koreksi sekaligus arah baru bagi banyak perguruan tinggi yang kerap terjebak dalam rutinitas formal tanpa pijakan sosial yang kuat.
Alumni Pondok Shabran UMS tersebut mengingatkan bahwa kampus mesti hadir sebagai kaki dari gerakan ihya’ut tajdid wal ijtihad, yaitu menghidupkan pembaruan dan semangat berpikir kritis. Kampus bukan tempat sunyi yang steril dari persoalan publik, tapi seharusnya menjadi pusat denyut perubahan sosial.
Di tengah tantangan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia belajar dan bekerja, kalau tidak ada semangat riset dan pencarian kebenaran, kampus akan tergilas oleh kecerdasan buatan. Sebab AI mungkin bisa mengolah data, tapi tak mampu menggantikan kejujuran ilmiah, integritas moral, dan empati sosial, tiga hal yang justru menjadi nyawa pendidikan.
Peran kampus ke depan bukan hanya soal pengajaran, tetapi juga penerangan. Kampus harus menjadi pelita, menyinari masyarakat tanpa diskriminasi atas dasar agama, ras, budaya, maupun kelas sosial. Dalam bahasanya yang khas, Fajar menyebut filosofi pendidikan Muhammadiyah sebagai filosofi matahari: menyinari semua tanpa kecuali.
Mari tekankan akan pentingnya membumikan ilmu. Kampus tidak boleh hanya menghasilkan pengetahuan yang elitis dan abstrak. Ia harus menjembatani antara dunia gagasan dan dunia nyata. Di sinilah pentingnya kolaborasi lintas sektor antara kampus, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal. Pendidikan tinggi tidak boleh menjadi pulau yang terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kampus-kampus Muhammadiyah harusnya bisa untuk memaknai kembali tokoh-tokoh pemikir Islam seperti Islam Transformatif ala Moeslim Abdurrahman dan Islam Profetik ala Kuntowijoyo. Keduanya merupakan panggilan untuk menjadikan kampus sebagai ruang yang bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga memproduksi tindakan sosial yang etis dan solutif.
Kampus tak boleh hanya besar secara fisik. Kampus harus hangat secara pemikiran, hidup secara gerakan, dan berdenyut dalam kehidupan masyarakat. Ia menyentil kemungkinan buruk: jangan sampai ada kampus yang megah gedungnya, tapi beku pemikirannya; penuh fasilitas, tapi miskin keberpihakan.
Gagasan Fajar Riza Ul Haq tentang kampus berkemajuan ini adalah ajakan bagi semua pemimpin perguruan tinggi untuk meninjau ulang arah pendidikan tinggi. Ia menolak pendidikan yang hanya berorientasi pasar, namun kehilangan nilai. Ia menolak kampus yang hanya mengejar akreditasi, tetapi lupa mengakar.
Mari kita semua untuk menyalakan api refleksi perguruan tinggi. Bahwa misi sejati perguruan tinggi adalah menerangi. Bahwa dampak sosial adalah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya. Dan bahwa tugas perguruan tinggi Muhammadiyah hari ini bukan hanya mencetak sarjana, tapi membentuk generasi pemberdaya. Dari Fajar Riza Ul Haq, kita disuguhi visi pendidikan tinggi yang tidak dingin dan teknokratis, melainkan hangat dan memanusiakan. Visi yang sangat dibutuhkan dalam era digital yang makin mekanistik. Sebuah visi yang menghidupkan kembali semangat tajdid dalam pendidikan.
Editor: Rafidah Azis