Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Fajar Riza Ul Haq: Kampus Harus Berdampak Nyata untuk Kemanusiaan

Najihus Salam by Najihus Salam
Juni 21, 2025
in Esai, Narasi
0
Fajar Riza Ul Haq: Kampus Harus Berdampak Nyata untuk Kemanusiaan
15
SHARES
89
VIEWS

Oleh: Najihus Salam (Kader IMM Pondok Shabran UMS)

Dalam arus deras dunia pendidikan tinggi yang makin kompetitif dan terdistraksi oleh teknologi, Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, menyampaikan sebuah pesan penting dalam Sidang Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) pada Milad ke-22 kampus tersebut.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sebagai salah satu tokoh pemikir pendidikan di lingkungan Muhammadiyah dan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah, Fajar tidak berbicara dalam ruang hampa. Ia berbicara dari dasar pengalaman, perenungan, dan pengamatan panjang terhadap perkembangan dunia pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Yang disebut kampus berkemajuan bukan hanya yang unggul secara akademik dan administratif, tetapi yang mampu memberi dampak bagi masyarakat lokal dan kemanusiaan universal. Pandangan ini menjadi koreksi sekaligus arah baru bagi banyak perguruan tinggi yang kerap terjebak dalam rutinitas formal tanpa pijakan sosial yang kuat.

Alumni Pondok Shabran UMS tersebut mengingatkan bahwa kampus mesti hadir sebagai kaki dari gerakan ihya’ut tajdid wal ijtihad, yaitu menghidupkan pembaruan dan semangat berpikir kritis. Kampus bukan tempat sunyi yang steril dari persoalan publik, tapi seharusnya menjadi pusat denyut perubahan sosial.

Di tengah tantangan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia belajar dan bekerja, kalau tidak ada semangat riset dan pencarian kebenaran, kampus akan tergilas oleh kecerdasan buatan. Sebab AI mungkin bisa mengolah data, tapi tak mampu menggantikan kejujuran ilmiah, integritas moral, dan empati sosial, tiga hal yang justru menjadi nyawa pendidikan.

Peran kampus ke depan bukan hanya soal pengajaran, tetapi juga penerangan. Kampus harus menjadi pelita, menyinari masyarakat tanpa diskriminasi atas dasar agama, ras, budaya, maupun kelas sosial. Dalam bahasanya yang khas, Fajar menyebut filosofi pendidikan Muhammadiyah sebagai filosofi matahari: menyinari semua tanpa kecuali.

Mari tekankan akan pentingnya membumikan ilmu. Kampus tidak boleh hanya menghasilkan pengetahuan yang elitis dan abstrak. Ia harus menjembatani antara dunia gagasan dan dunia nyata. Di sinilah pentingnya kolaborasi lintas sektor antara kampus, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal. Pendidikan tinggi tidak boleh menjadi pulau yang terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kampus-kampus Muhammadiyah harusnya bisa untuk memaknai kembali tokoh-tokoh pemikir Islam seperti Islam Transformatif ala Moeslim Abdurrahman dan Islam Profetik ala Kuntowijoyo. Keduanya merupakan panggilan untuk menjadikan kampus sebagai ruang yang bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga memproduksi tindakan sosial yang etis dan solutif.

Kampus tak boleh hanya besar secara fisik. Kampus harus hangat secara pemikiran, hidup secara gerakan, dan berdenyut dalam kehidupan masyarakat. Ia menyentil kemungkinan buruk: jangan sampai ada kampus yang megah gedungnya, tapi beku pemikirannya; penuh fasilitas, tapi miskin keberpihakan.

Gagasan Fajar Riza Ul Haq tentang kampus berkemajuan ini adalah ajakan bagi semua pemimpin perguruan tinggi untuk meninjau ulang arah pendidikan tinggi. Ia menolak pendidikan yang hanya berorientasi pasar, namun kehilangan nilai. Ia menolak kampus yang hanya mengejar akreditasi, tetapi lupa mengakar.

Mari kita semua untuk menyalakan api refleksi perguruan tinggi. Bahwa misi sejati perguruan tinggi adalah menerangi. Bahwa dampak sosial adalah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya. Dan bahwa tugas perguruan tinggi Muhammadiyah hari ini bukan hanya mencetak sarjana, tapi membentuk generasi pemberdaya. Dari Fajar Riza Ul Haq, kita disuguhi visi pendidikan tinggi yang tidak dingin dan teknokratis, melainkan hangat dan memanusiakan. Visi yang sangat dibutuhkan dalam era digital yang makin mekanistik. Sebuah visi yang menghidupkan kembali semangat tajdid dalam pendidikan.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: IslamKampusBerdampakMuhammadiyahpendidikan
Previous Post

Bahasa Arab Sebagai Komponen Penting Islam : Ums Hadirkan Dosen Madinah Dalam Acara Visiting Lecture

Next Post

KH. Mustain Nasoha Bersama Syekh Awadl Al Karim Al Maliki Kaji Mendalam Aqidah dan Ilmu Qira’at

Najihus Salam

Najihus Salam

Next Post
KH. Mustain Nasoha Bersama Syekh Awadl Al Karim Al Maliki Kaji Mendalam Aqidah dan Ilmu Qira’at

KH. Mustain Nasoha Bersama Syekh Awadl Al Karim Al Maliki Kaji Mendalam Aqidah dan Ilmu Qira’at

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.