Surakarta, Kamis, 19 Juni 2025 — Dalam upaya terus merawat dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam klasik, Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta kembali menorehkan langkah penting dengan menghadirkan ulama besar dunia, Syekh Awadl Al Karim Utsman Al Aqli Al Maliki dari Sudan. Kehadiran ulama bersanad kuat ini menjadi penegas peran strategis pesantren dalam mempertahankan tradisi ilmiah yang diwariskan para ulama salafus shalih, sekaligus mempererat mata rantai sanad keilmuan Islam antara Timur Tengah dan Indonesia.
Dalam muhadharah ‘ammah yang digelar pada malam Kamis, 19 Juni 2025, Syekh Awadl membawakan kajian mendalam tentang dua pilar utama dalam keilmuan Islam klasik: Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dan Ilmu Qira’at. Dua disiplin ini merupakan fondasi dalam tradisi keilmuan pesantren yang mengedepankan otoritas sanad, pendekatan metodologis, dan adab dalam menuntut ilmu.
Acara yang dihadiri sekitar 150 peserta — terdiri dari para kiai, ustadz, akademisi, serta santri dari berbagai daerah — berlangsung khidmat dan penuh semangat keilmuan. Dalam ceramahnya, Syekh Awadl menjelaskan urgensi menjaga kemurnian aqidah dengan berpegang pada pemahaman Asy’ariyah-Maturidiyah, serta pentingnya memahami perbedaan dalam qira’at Al-Qur’an secara ilmiah, bukan dengan sikap ekstrem atau fanatisme mazhab. Beliau menegaskan bahwa mempelajari ilmu aqidah dan qira’at adalah bagian dari menjaga agama secara benar dan utuh, sebagaimana dicontohkan para ulama terdahulu.
Syekh Awadl Al Karim dikenal sebagai ulama bersanad luas dari Sudan, menguasai ilmu qira’at sab‘ah, ‘asyarah hingga arba‘ata ‘asyar, serta mendalami tasawuf dan aqidah berdasarkan manhaj Asy’ariyah. Dalam bidang fikih, beliau bermazhab Maliki, namun memiliki keluasan pandangan yang mencerminkan semangat keterbukaan dan keseimbangan dalam bermazhab. Kehadirannya di pondok ini menjadi bagian dari upaya menyambungkan kembali sanad ilmu Islam klasik lintas generasi dan geografis.
Dalam muqaddimahnya, Syekh Awadl menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta karena dinilai konsisten dan mendalam dalam mengajarkan ilmu-ilmu pokok, seperti qira’at, aqidah, serta khilafiah fikih.
“Jarang saya dapati pesantren yang menggabungkan antara kekuatan sanad, kedalaman ilmu qira’at, dan kelapangan dalam menyikapi khilaf. Ini ruh Islam yang asli, yang diajarkan oleh Rasulullah dan diwariskan para ulama,” ujar beliau.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi bahwa pesantren tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan Islam yang otentik, bersanad, dan beradab. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan munculnya berbagai paham instan, penting bagi generasi muda untuk kembali menekuni ilmu-ilmu pokok seperti aqidah dan qira’at melalui bimbingan guru yang memiliki sanad yang sahih.
“Pondok ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkan ilmu-ilmu tinggi yang semakin langka dikaji secara sistematis dan mendalam. Mengkaji Qira’at secara lengkap hingga level Arba’ata ‘Asyar, sekaligus membahas perbedaan dalam aqidah dan fikih dengan pendekatan ilmiah, adalah bukti kesungguhan pesantren ini dalam melahirkan ulama yang mapan,” puji Syekh Awadl.
Pernyataan tersebut disambut haru dan rasa syukur oleh para hadirin. Tidak hanya itu, setelah menyaksikan langsung kemampuan para santri dalam mengajukan pertanyaan tajam dan ilmiah, serta menguji hafalan dan pemahaman mereka terhadap qira’at dan ilmu-ilmu lainnya, Syekh Awadl menyatakan kekagumannya dan secara langsung mengijazahkan seluruh sanad keilmuan yang beliau miliki kepada para santri dan pengasuh pondok. Ijazah tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti Al-Qur’an, Hadis, Tafsir, Aqidah, Qira’at, dan Tasawuf, sebagai bentuk pengakuan atas kesungguhan dan kelayakan mereka dalam meneruskan warisan keilmuan Islam.
Langkah ini menjadi simbol kepercayaan dan pengakuan dari seorang ulama bertaraf internasional terhadap eksistensi dan mutu pendidikan pesantren di Indonesia. Apresiasi ini sekaligus mempertegas bahwa Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta tidak hanya sekadar menjaga warisan keilmuan Islam klasik, tetapi juga menghidupkannya dengan pendekatan ilmiah, bersanad, dan berorientasi pada kualitas.
Dalam sambutannya, KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, selaku pengasuh pondok, menyampaikan rasa syukur dan penghargaan atas kedatangan ulama besar tersebut.
“Kedatangan Syekh Awadl merupakan nikmat besar bagi kami semua. Beliau adalah ulama yang tidak hanya alim dalam bidang aqidah dan qira’at, tetapi juga memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Semoga majelis ini menambah keyakinan kita dalam manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dan memperkuat semangat para santri untuk terus menuntut ilmu dengan kesungguhan dan adab yang tinggi.”
KH. Mustain juga menegaskan bahwa kegiatan seperti ini menjadi bagian dari visi pesantren dalam merawat tradisi ilmiah dan membuka cakrawala santri terhadap dinamika pemikiran Islam lintas bangsa.
Para santri tampak antusias dan terinspirasi oleh penyampaian Syekh Awadl yang penuh hikmah. Kajian yang disampaikan dalam bahasa Arab tersebut diterjemahkan secara simultan oleh tim penerjemah pondok, sehingga seluruh peserta dapat mengikuti dan memahami isi materi dengan baik.
KH. Mustain menambahkan bahwa para santri di pesantren ini tidak hanya mendalami kitab kuning dan ilmu alat, tetapi juga dibina untuk menjadi ulama yang tanggap terhadap persoalan keumatan kontemporer. Mereka aktif mengikuti pelatihan, diskusi, dan forum ilmiah, termasuk bahtsul masail, sebagai sarana latihan istinbath hukum dalam menjawab problematika aktual.
“Santri-santri kami telah berkali-kali mengikuti bahtsul masail, baik di tingkat lokal maupun regional. Ini bagian dari upaya kami membentuk ulama yang tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu menjawab realitas dengan metodologi yang kuat,” lanjut beliau.
Acara ditutup dengan doa dan harapan agar pertemuan ini menjadi awal dari kerja sama keilmuan lintas negara yang terus berlanjut, serta memperkuat komitmen pesantren dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi untuk umat dan bangsa.
Oleh: Alif Adi Saputra