Oleh: Hikari Aufa Rofiqi (Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan Anggota Tapak Suci UMS 2023 – 2024)
Sudah bukan menjadi berita yang mengagetkan mengenai orang-orang yang mengkritik seorang pakar dengan pengetahuannya yang bersifat setengah-setengah. Dengan mengatasnamakan kebebasan berpendapat, mereka mengomentari pendapat para pakar dengan informasi yang sifatnya tidak lengkap, cuplikan video ceramah dari seorang ustaz yang dikritik dengan mematikan nama baik dan terkesan menjelek-jelekkan ustaz tersebut, menjadi hal yang lumrah dikarenakan pada era sekarang yang sangat mudah mengakses informasi dan menyebarkan informasi, semua orang punya akses untuk menjadi seorang influencer lewat platform dunia maya yang mereka miliki.
Analogi yang sesuai dengan kondisi saat ini adalah, dalam sebuah stadion sepak bola, ada lima puluh ribu penonton, sehingga ada lima puluh ribu pakar sepak bola di sana. Setiap penonton anggaplah memiliki sebuah smartphone, mereka bebas berpendapat mengenai sepak bola, mau berpendapat mengenai kondisi pertandingan, koreksi tim idola, bahkan mengomentari fasilitas stadion dan lain macamnya. Era pada saat ini memang semudah itu dalam menyebarkan berita, seorang yang baru saja mendapat ilmu baru bisa langsung menyebarkan ilmu tersebut dan berlagak sebagaimana dia sudah ahli dalam keilmuan tersebut.
Pudarnya Literasi
Literasi yang mulai pudar, yang mana orang-orang lebih memilih mengakses informasi lewat sosial media dibanding membaca suatu literatur. Buktinya, konten sosial media yang sejenis dengan Lambe Turah, Flokative, dan Undercover.id, lebih banyak diikuti dibanding membaca berita secara lengkap. Padahal konten tersebut kebanyakan tidak menggodok informasi dengan profesional sebagaimana lembaga pers dalam menyusun berita. Bermodalkan caption singkat dan tulisan yang dicantumkan di foto postingan, konten tersebut justru lebih diminati karena cepat dalam mengakses informasi dan terkesan nonformal. Yang perlu digarisbawahi adalah, bagaimana jika informasi tersebut dibaca oleh orang yang bermental pragmatis dan enggan untuk bertabayun, sehingga menimbulkan perbedaan pandangan dan dampak negatif lainnya, meskipun ada konten yang sifatnya memancing publik untuk mendalami kejadian tersebut supaya terpancing membaca berita.
Konten kreator yang saat ini justru menjadi panutan bagi khalayak umum, menjadikan peran pakar seakan-akan mulai dikesampingkan, meskipun ada seorang pakar yang mulai menyelam di dunia maya dengan memberikan edukasi yang sesuai dengan bidangnya. Banyak dari orang-orang yang memilih mendengarkan ceramah atau edukasi lewat konten-konten pendek dibandingkan mendengarkan podcast dan ceramah secara utuh. Konten-konten yang mengarah pada entertainment lebih menarik daripada konten yang sifatnya edukasi. Konten yang sifatnya hiburan menjadi rujukan bagi sebagian orang untuk mengisi waktu kosong.
Maraknya konten yang sifatnya entertainment memiliki banyak pengaruh bagi khalayak umum. Misalnya, ada konten hiburan yang bertemakan game, sehingga banyak orang yang termotivasi untuk menjadi sepertinya dan menjadi pro player dalam game tersebut, sehingga orang-orang menghabiskan waktunya untuk bermain game. Konten yang isinya pamer kekayaan dari para selebritas, yang menjadikan mental hedonisme menyebar luas. Akses platform entertainment juga menjadikan orang-orang tidak mau ketinggalan tren masa kini sehingga terciptanya istilah FOMO dan lain macamnya.
Dari serangkaian kejadian yang sudah terjadi, menjadi renungan bersama kaitannya dengan bagaimana nasib generasi ke depan. Dengan runtutan kondisi zaman yang makin ke sini makin memburuk, hal paling kecil yang perlu kita pikirkan adalah apakah kelak anak cucu kita akan memakan realita hidup yang sebobrok ini, apakah kita tidak memikirkan bagaimana dunia intelektualitas ke depan, minat menulis, minat membaca, yang mana minat tersebut sudah mulai pudar.
Dunia mahasiswa yang saat ini dicekoki dengan pemahaman, semakin kamu bergelar semakin kamu berduit, yang mana mengesampingkan peran mahasiswa sebagai agent of change dan mematikan kepakaran itu sendiri, menjadikan pemahaman orang yang menuntut ilmu lebih tinggi itu tujuannya hanya untuk mencari kerja semata, tanpa dipahamkan bahwa ilmu yang dia pikul menjadi beban moral bagi perubahan dan pencerdasan bangsa.
Penyebab Matinya Kepakaran
Salah satu penyebab matinya kepakaran salah satunya adalah sebuah paham yang menanamkan prinsip di atas: kamu kuliah tujuan utamanya buat kerja, hanya kerja yang dia pikirkan. Ditambah pandangan negatif mengenai dunia aktivis dan pergerakan sehingga mental budak akan terus mengakar dan menjamur di dunia akademisi. Mental hedonisme yang juga menjadi penyebab matinya kepakaran, mereka berpaham untuk selalu mencari kesenangan tanpa memikirkan ke depannya mau bagaimana. Alih-alih memikirkan soal karir saja, mereka beranggapan “bisa dipikir belakangan”, apalagi berpikir mengenai kebermanfaatan dan dedikasinya untuk masyarakat.
Mengenai literasi yang mulai pudar, sudah menjadi peran kita yang sadar akan hal tersebut untuk menggalakkan kembali gerakan literasi, mulai dari bagaimana mengakses informasi dan bagaimana meningkatkan intelektualitas dengan membaca literatur yang ditulis oleh para pakar-pakar keilmuan. Mengakses informasi mulai dari membaca berita dari platform yang disediakan oleh lembaga pers, memulai budaya menulis dengan mengacu pada literatur yang sesuai sebagai referensi tulisan. Mari kita mulai gerakan pencerdasan untuk mempersiapkan generasi ke depan.
Editor: Rafidah Azis