Penulis: Naura Zukhrufana Muttatiar
Di sebuah senyap yang tak bernama, di sela detak jantung yang mulai lelah,
Dan di antara desir napas yang menyeret beban dunia…
di sanalah hakikat Tuhan menyelinap. Bukan dengan guntur, tapi dengan getar yang nyaris tak terdengar.
Tuhan,
bukan hanya di langit tujuh, bukan sekadar nama dalam kitab yang dihafal terbata, bukan pula gema dalam azan yang sekadar menggema di udara.
Tuhan adalah ruang, yang tak bisa kau pegang namun kau rasakan. Ia adalah makna, yang tak bisa ditunjuk namun menggetarkan.
Manusia, dicipta dari tanah yang rendah namun diberi langit sebagai impian. Ditiupkan ruh percikan cahaya dari Sang Pembentuk, agar tak sekadar hidup, tapi menghidupkan.
Namun hidup, tak semudah sebuah tiupan.
Kita dilahirkan bertelanjang dalam dunia yang telah berpakaian. Berjalan dalam lorong gelap dengan lentera yang harus kita rakit sendiri.
Dari air mata,
Dari luka,
Dari cinta yang retak.
Ada manusia yang tiap harinya menggenggam cangkul bukan untuk panen,
Tapi untuk bertahan.
Ada yang berjalan berpuluh mil demi setetes air dan sebongkah harap.
Ada pula yang merangkak dalam sunyi, mengangkat doa tanpa suara, karena suara itu telah direnggut dunia terlalu dini.
Dan mereka bertanya,
“Tuhan, adakah Engkau melihat kami?”
“Kami yang tak disebut dalam pidato kemenangan, kami yang namanya hanya jadi angka di berita. Kami yang berjuang, bukan demi pujian, tapi demi hidup esok pagi,” sambungnya.
Maka Tuhan menjawab, bukan dalam kata-kata,
Tapi dalam rasa yang menyelusup perlahan.
Di dada ibu yang tetap tersenyum meski perutnya kosong, di tangan tua ayah yang tetap mencangkul meski tubuhnya gemetar,
Di tawa kecil anak-anak yang tak tahu mereka miskin, namun tetap bisa bahagia dengan mainan dari botol rusak.
Tuhan,
Bukan di tempat-tempat megah yang sering dibersihkan demi pujian,
Tapi di tempat paling tersembunyi, di ruang paling remuk dalam diri manusia, di dada orang yang tetap memaafkan
Meski tak pernah diminta maaf.
Tuhan,
Hadir dalam bentuk perjuangan. Ia bukan tepuk tangan setelah sukses, tapi peluh yang jatuh saat tak ada yang melihat.
Ia bukan suara di panggung, tapi diam yang setia dalam pengorbanan.
Lihatlah manusia-manusia itu… yang hidup bukan karena ingin terkenal, tapi karena tahu, hidup adalah titipan.
Yang memilih mencintai meski berkali dikhianati,
Yang tetap memberi meski tak punya cukup,
Yang menangis malam-malam
Namun pagi harinya tetap menyuap anak-anaknya dengan senyum.
Mereka bukan nabi, tapi perantara kasih sayang Tuhan di bumi.
Mereka bukan malaikat,
Tapi tangan mereka menjahit robek dunia dengan ketulusan.
Mereka tahu…
Kadang Tuhan tak menyelamatkanmu dari kesakitan, karena Ia sedang menumbuhkan kekuatan dalam luka itu.
Kadang Tuhan tak menjawab doamu segera,
Karena Ia sedang mengajarkanmu mendengar dirimu sendiri.
Dan kelak…
Saat dunia menua, saat langit pecah dan waktu berhenti, kita akan tahu,
Bahwa Tuhan bukan tujuan yang jauh, tapi perjalanan itu sendiri.
Bahwa Tuhan tak bersemayam di tempat yang tak bisa dijangkau, tapi di dalam setiap diri yang masih mau berharap,
Masih mau bertahan.
Maka berjalanlah. Meski lambat, meski goyah, meski sendiri. Karena setiap langkah menuju keadilan,
Adalah doa yang dikabulkan dengan cara yang tak kita pahami.
Dan pada titik terkecil,
Pada detik paling senyap,
Di situlah Tuhan menggenggam tangan kita,
Diam-diam. Penuh cinta.