Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel

Muh Hidayat Y by Muh Hidayat Y
Mei 28, 2025
in Narasi, Sosok
0
Kursi Roda, Saksi Bisu Perjuangan Ahmad Yasin Melawan Kedzaliman Israel
16
SHARES
92
VIEWS

Oleh: Muh Hidayat Y (Kader IMM Shabran UMS)

Kursi roda yang diwajibkan bersamanya untuk berjalan tidak membuatnya gentar akan serangan yang dilakukan oleh tentara zalim Israel. Ahmad Yasin justru menjadi motivator, pemompa semangat jihad di kalangan generasi muda Palestina, dan mendirikan Hamas (Harakah Muqawwamah Al-Islamiyah) sebagai bentuk perlawanan atas kezhaliman yang dilakukan oleh Zionis Israel.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ahmad Ismail Hasan Yasin, akrab disapa dengan Syaikh Ahmad Yasin, lahir di Desa Al-Joura, Distrik Majdal, Asqalan, Palestina, pada 1938 (tanggal kelahiran belum dapat terkonfirmasi; menurut paspor Palestina milik beliau, terdaftar tanggal lahir 1 Januari 1929, namun sumber-sumber Palestina lain menyebut tahun kelahirannya pada 1937). Ayahnya, Abdullah Yasin, meninggal saat ia berusia tiga tahun.

Ahmad Yasin dikenal sebagai anak yang bijak, sabar, tabah, dan tekun dalam belajar. Dengan ketekunan yang ia miliki membuatnya diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, akan tetapi tidak bisa melanjutkan studinya karena kesehatannya yang memburuk. Hal itulah yang membuatnya dididik di rumah dan menjadi kutu buku, di mana ia banyak membaca, khususnya tentang agama, filsafat, politik, sosiologi, dan ekonomi.

Mahir Berorasi

Mulai memiliki pengikut, mereka percaya bahwa pengetahuan duniawi yang dimiliki Ahmad Yasin menjadikannya “salah satu pembicara terbaik di Jalur Gaza”. Selama waktu itu, ia mulai menyampaikan khutbah mingguan setelah salat Jumat, dan itu menarik perhatian banyak orang.

Di usia 20 tahun, Ahmad Yasin ikut serta dalam aksi unjuk rasa di Gaza untuk menentang persekutuan segitiga musuh terhadap Mesir. Dalam peristiwa itu, ia memperlihatkan kemahirannya dalam berorasi dan mengorganisasi massa. Sejak saat itu, kemampuan orasi Ahmad Yasin mulai melambungkan namanya di Gaza. Hingga semangat orasi yang dimilikinya menimbulkan kecurigaan di kalangan intelijen Mesir.

Pada tahun 1965, ia ditangkap bersamaan dengan penangkapan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Mesir terhadap anggota gerakan Ikhwanul Muslimin. Satu bulan setelahnya, Ahmad Yasin dibebaskan karena tidak ada bukti keterlibatannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Sejak saat itu, secara tidak langsung Ahmad Yasin mulai mengenal gerakan Ikhwanul Muslimin.

Bergabung dengan Ikhwanul Muslimin

Perkenalannya dengan Ikhwanul Muslimin di penjara Mesir membuka kesempatan Ahmad Yasin untuk menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sejak saat itulah konstruksi pemikiran Ahmad Yasin tentang perlawanan mulai terbentuk terhadap hegemoni Zionis Israel.

Setelah kembali dari Mesir, Ahmad Yasin memilih untuk bergabung dengan sayap Ikhwanul Muslimin yang ada sejak akhir tahun 1930-an. Karena kemampuannya dalam orasi dan keberaniannya yang sangat besar di antara anggota Ikhwanul Muslimin, Ahmad Yasin diangkat menjadi pemimpin ketika Ikhwanul Muslimin membentuk sayap militer yang disebut Mujahidin Palestina.

Keterlibatannya terhadap Ikhwanul Muslimin membuatnya kembali dipenjara selama tiga belas tahun oleh Mahkamah Militer Israel. Intimidasi terus didapatkan selama masa tahanannya, terutama dalam bentuk kekerasan fisik. Hal ini berdampak kepada kesehatannya seperti butanya mata kanan, mata kiri yang rabun, radang telinga akut, dan penyakit kronis pada usus. Pada tahun 1985, Ahmad Yasin dibebaskan dengan pertukaran tahanan antara Israel dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.

Mendirikan Hamas

Keluar masuk penjara tidak membuat Ahmad Yasin gentar. Perlawanan justru terus dikobarkan terhadap Israel, sampai pada 8 Desember 1987, Ahmad Yasin dan beberapa pemimpin Ikhwanul Muslimin justru mendirikan Hamas, sebuah organisasi Muslim yang bertujuan untuk melawan kedzaliman yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Ahmad Yasin kemudian diangkat menjadi pemimpin spiritual Hamas.

Seiring dengan meningkatnya aktivitas bersenjata Hamas, Ahmad Yasin kembali ditangkap oleh Israel pada tanggal 18 Mei 1989 bersama dengan ratusan anggota Hamas lainnya. Tiga tahun kemudian, ia dihukum penjara seumur hidup ditambah 15 tahun atas tuduhan aktivitas politik yang dianggap radikal oleh Israel.

Pada tanggal 1 Oktober 1997, Ahmad Yasin berhasil dibebaskan melalui perjanjian antara pemerintah Yordania dan Israel. Dalam perjanjian tersebut, ia dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran dengan dua mata-mata Israel yang ditahan di Yordania atas percobaan pembunuhan terhadap kepala Biro Politik Hamas, Khaled Meshaal.

Pembebasan Ahmad Yasin disambut oleh puluhan ribu warga Palestina Jalur Gaza. Setelah pembebasan ini, ia melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab untuk mendapatkan perawatan medis. Setelah pulang dari luar negeri tanpa mengenal kelelahan dan putus asa, Ahmad Yasin berusaha untuk memulihkan struktur organisasi Hamas.

Pembunuhan

Pada tanggal 22 Maret 2004, Ahmad Yasin dibunuh di Kota Gaza. Ia baru saja kembali dari salat Subuh, dan rekan-rekannya ikut terbunuh juga. Pembunuhannya menyebabkan kemarahan faksi-faksi Palestina. Mereka bersumpah akan membalas dendam tersebut.

Sekitar 200.000 orang turun ke jalan di Jalur Gaza untuk menghadiri pemakamannya, sementara pasukan Israel mengumumkan siaga nasional. Dua minggu setelah pembunuhan Ahmad Yasin, Hamas untuk pertama kalinya dinobatkan sebagai gerakan paling populer di Palestina oleh penduduk Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: AhmadYasinPalestinaZionisIsrael
Previous Post

Buya Hamka: Pena, Iman, dan Perjuangan Seorang Ulama

Next Post

Merias Diri, Merayakan Diri: Beauty Class Positif oleh CIMB Niaga di Komunitas Kejar Mimpi Tangerang Selatan

Muh Hidayat Y

Muh Hidayat Y

Next Post
Merias Diri, Merayakan Diri: Beauty Class Positif oleh CIMB Niaga di Komunitas Kejar Mimpi Tangerang Selatan

Merias Diri, Merayakan Diri: Beauty Class Positif oleh CIMB Niaga di Komunitas Kejar Mimpi Tangerang Selatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.