Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

KH. AM. Mustain Nasoha sampaikan Lima Perkara Penting Pasca Ramadhan dalam Khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Surakarta 2025

RedaksiKS by RedaksiKS
April 15, 2025
in Khutbah
0
KH. AM. Mustain Nasoha sampaikan Lima Perkara Penting Pasca Ramadhan dalam Khutbah Idul Fitri di Masjid Agung Surakarta 2025
11
SHARES
67
VIEWS

Pada hari yang penuh berkah, Idul Fitri 1446 H / 2025 M, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, penulis kitab Raudlul Badi’ Fikhtilafatil Usul Baina Madzahibil Arba’ahdan juga Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakartamenyampaikan khutbah yang sangat mendalam di hadapan ribuah jamaah di Masjid Agung Surakarta. Dalam khutbah yang disampaikan dengan penuh penghayatan, beliau mengemukakan lima hal utama yang harus dilakukan oleh umat Islam setelah Ramadhan berakhir. Lima perkara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menjaga kualitas keimanan dan ketakwaan, tetapi juga sebagai upaya untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan kualitas sosial umat, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan dunia dan akhirat.

1. Saling Meminta dan Memberi Maaf: Meraih Ampunan Allah melalui Sikap Toleransi

TulisanTerkait

Tuntunan yang Tidak Dituntunkan

Kemenangan Pasca Bulan Ramadhan

Kewajiban Muslim untuk Berintelektual

KH. Mustain Nasoha mengawali khutbahnya dengan mengingatkan pentingnya saling meminta dan memberi maaf di antara sesama umat Islam setelah Ramadhan. Beliau mengutip salah satu ajaran dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS. An-Nur: 22, yang mengandung perintah dari Allah untuk saling memaafkan demi mendapatkan ampunan-Nya. Dalam konteks ini, beliau mengajak jamaah untuk membersihkan hati mereka dari segala bentuk kebencian, dendam, dan perasaan negatif lainnya, agar ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dapat terjalin dengan kuat. KH. Mustain Nasoha juga mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ yang sangat relevan dengan tema ini: “Barang siapa yang tidak berbelas kasih, maka dia tidak akan dikasihi” (HR. Bukhari & Muslim). Imam Ibnu Hajar Al Asqolani dalam karyanya Fathul Bari menjelaskan bahwa Hadis ini menegaskan bahwa sifat pengasihan dan saling memaafkan adalah cerminan dari kasih sayang Allah yang akan diterima oleh hamba-Nya yang bersedia untuk memberi maaf. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa sikap memaafkan adalah pintu utama untuk memperoleh keridaan dan ampunan Allah. Oleh karena itu, saling memberi maaf tidak hanya merupakan tindakan sosial, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Tingkatkan Rasa Nasionalisme dan Patriotisme: Cinta Tanah Air sebagai Bagian dari Iman

Dalam poin kedua khutbahnya, KH. Mustain Nasoha menekankan pentingnya meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan umat Islam. Cinta tanah air, menurut beliau, adalah bagian integral dari ajaran Islam yang seharusnya tidak hanya dihargai, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tercermin dalam QS. An-Nisa: 66, yang mengisyaratkan betapa beratnya bagi seseorang untuk meninggalkan tanah airnya, yang menunjukkan betapa dalamnya rasa cinta terhadap negeri kelahiran. Beliau juga mengutip pernyataan Rasulullah ﷺ ketika beliau meninggalkan Makkah, tanah air yang sangat dicintainya, dengan penuh rasa sedih. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Makkah adalah negeri yang paling dicintainya, dan beliau hanya keluar karena diusir oleh kaumnya (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah). Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi juga menjelaskan bahwa mencintai tanah air adalah salah satu akhlak yang disyariatkan oleh Islam. Oleh karena itu, menurut KH. Mustain Nasoha, mencintai tanah air bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bagian dari pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Tingkatkan Jiwa Toleransi dan Menghormati Perbedaan: Prinsip Lā Ikraha Fī Ad-Dīn

Selanjutnya, KH. Mustain Nasoha mengingatkan pentingnya meningkatkan jiwa toleransi dan saling menghormati perbedaan, baik dalam konteks agama maupun dalam interaksi sosial sehari-hari. Beliau mengutip QS. Al-Baqarah: 256, yang mengajarkan prinsip dasar dalam Islam: “Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” Ayat ini mengandung makna bahwa dalam Islam perbedaankeyakinan beragama harus dihormati, dan tidak ada tempat untuk paksaan dalam hal ini. Imam Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan umat Islam untuk menerima perbedaan dalam agama dan juga dalam hal pandangan hidup, karena Islam sendiri tidak pernah memaksakan orang lain untuk masuk ke dalam agama dan memilih keyakinan ini. Rasulullah ﷺ pun mengajarkan pentingnya sikap rahmah (kasih sayang) terhadap sesama, sebagaimana yang terkandung dalam sabda beliau, “Aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat” (HR. Muslim No. 2599). Imam Al-Munawi dalam Faydul Qadir menjelaskan bahwa dakwah Nabi ﷺ berdiri di atas landasan toleransi dan kasih sayang, yang seharusnya menjadi contoh bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama yang memiliki perbedaan pandangan atau keyakinan.

4. Tingkatkan Ilmu Syariat: Jalan Menuju Ketinggian Derajat di Dunia dan Akhirat

KH. Mustain Nasoha juga menekankan pentingnya terus meningkatkan ilmu syariat setelah Ramadhan. Beliau mengutip QS. Al-Mujadilah: 11, yang menyatakan, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa ilmu adalah sebab utama bagi seseorang untuk mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Imam As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa derajat para ulama, yang memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum syariat, sangat tinggi di sisi Allah. Rasulullah ﷺ dalam sabdanya menyatakan, “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan memberinya pemahaman dalam agama” (HR. Bukhari No. 71, Muslim No. 1037). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa ilmu adalah anugerah terbesar dari Allah yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, KH. Mustain Nasoha mengingatkan umat Islam untuk terus berusaha menambah ilmu syariat sebagai bekal hidup yang bermanfaat.

5. Berlomba Mempersiapkan Bekal untuk Masa Depan: Persiapan Menuju Kehidupan Kekal di Akhirat

Pada poin terakhir, KH. Mustain Nasoha mengingatkan umat Islam untuk mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. Mengutip QS. Al-Baqarah: 281, beliau menekankan bahwa setiap umat Islam harus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati dengan amal saleh dan ketakwaan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati” (HR. Tirmidzi No. 2459). Hadis ini menggambarkan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya dinilai dari pencapaian duniawi, tetapi lebih kepada bagaimana seseorang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang abadi di akhirat. Imam Ar-Razi dalam Tafsir Al-Kabir mengingatkan umat Islam agar tidak terlena dengan kehidupan dunia yang sementara dan senantiasa mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat dengan amal saleh.

Dengan kelima hal penting yang disampaikan dalam khutbahnya, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha mengajak umat Islam untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta berkontribusi positif dalam masyarakat. Khutbah beliau tidak hanya mengingatkan kita akan pentingnya memperbaiki hubungan antar sesama, tetapi juga mendorong umat Islam untuk berupaya keras dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik setelah Ramadhan.

Khutbah yang disampaikan Kyai Muda ( 32 Tahun ) yang juga menjabat sebagai KetuaKomisi Fatwa MUI di Masjid Agung Surakarta pada perayaan Idul Fitri ini memberikan pencerahan yang sangat berarti bagi umat Islam. Lima hal penting yang beliau sampaikan tidak hanya relevan untuk kehidupan spiritual pribadi, tetapi juga untuk memperkuat solidaritas sosial umat Islam dan menjaga kesatuan dalam masyarakat. Dalam suasana Idul Fitri yang penuh berkah, pesan-pesan beliau mengenai pentingnya saling memaafkan, menjaga rasa nasionalisme, meningkatkan toleransi, menguatkan ilmu syariat, dan mempersiapkan bekal untuk masa depan, mengingatkan kita untuk terus berbenah baik di dunia maupun di akhirat.

KH. Mustain Nasoha, dengan wawasan yang mendalam tentang fiqh, akhlak, dan nilai-nilai keislaman, telah menunjukkan kedalaman pemikirannya dalam menyampaikan khutbah yang tidak hanya penuh hikmah, tetapi juga praktis dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang ulama yang juga seorang penulis dan pengkaji, KH. Mustain Nasoha membuktikan dirinya sebagai figur yang sangat berperan dalam membimbing umat Islam menuju kehidupan yang lebih baik, penuh kasih sayang, dan kedamaian.

Shalat Idul Fitri ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain KGPH Dipokusumo (Gusti Dipo), putra mendiang SSISKS Pakubuwono XII, Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, serta KH. Ibrahim Asfari, S.H., yang merupakan Ketua Jamaah Muji Rosul (Jamuro) dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz wa Ta’limil Qur’an (PPTQ) Masjid Agung Surakarta selaku Imam Shalat Id. Selain itu, turut hadir pula beberapa pejabat pemerintahan Kota Surakarta yang memberikan dukungan terhadap acara ini.

Dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, khutbah KH. Mustain Nasoha mengingatkan kita untuk senantiasa memperkuat ketakwaan dan memperbaiki hubungan sosial antar sesama. Semoga pesan-pesan beliau senantiasa menginspirasi umat Islam untuk terus berkembang dalam keimanan dan kebaikan. Dengan hikmah dan keteladanan yang beliau tunjukkan, KH. Mustain Nasoha memang pantas mendapat pujian atas dedikasi dan kontribusinya yang luar biasa bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Ditulis oleh : Abu Muhammad

Terkait

Previous Post

Hari Fitri di Negeri yang Perih

Next Post

Selamatkan Bumi dengan Langkah Kecil

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Selamatkan Bumi dengan Langkah Kecil

Selamatkan Bumi dengan Langkah Kecil

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.