Scientia sacra merupakan gagasan yang dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr seorang ilmuwan muslim, teologis dan filsuf dari Iran. Scientia sacra adalah gagasan tentang hubungan sains yang pada dasarnya membawa kembali manusia pada kekuasaan Tuhan. Gagasan ini dipengaruhi dari aliran filsafat perennial dan tasawuf falsafi. Latar belakang munculnya gagasan scientia sacra yakni kritik Nasr tentang krisis lingkungan yang disebabkan oleh sanis modern.
Memang semenjak teknologi dan sains modern berkembang pada abad ke-20 dan 21 membuat dampak baik positif maupun negative. Masyarakat semakin dimudahkan berkat teknologi-teknologi yang bergerak diberbagai bidang. Namun kemudahan ini seperti paradoks, membuat dampak yang negatiF disisi lain.
Banyak manusia-manusia yang mengeksploitasi alam untuk kepentingan bisnis dan industri. Hal ini akhirnya menjadi krisis bagi bumi kita. Sudah banyak bencana-bencana kerusakan-kerusakan yang terjadi di sekitar kita. Seperti gundulnya hutan yang banyak di gunakan untuk pembangunan sektor industri hingga masalah krisis iklim yang sedang melanda semua sudut bumi.
Dalam buku Nasr berjudul “Man and Nature–The Spiritual Crisis in Modern Man (1968)”, Nasr menggambarkan keterbatasan ilmu pengetahuan modern yang tidak memilki pengetahuan metafisik berdampak kepada kerusakan alam. Menurut Nasr manusia harus melihat ilmu pengetahuan dan seni yang ada melalui perspektif tradisi agama yang telah menghubungkan alam, manusia dan kebenaran yang mutlak sejak zaman kuno.
Ilmu-ilmu modern saat ini memang canggih dan banyak memudahkan kehidupan manusia namun itu hanya kehidupan duniawi, ilmu ini luput dari dzat yang memilki alam semesta. Mereka berlomba-lomba untuk membuat teknologi secanggih dan seefisien mungkin, namun mereka lupa bahwa mereka hanya sementara di dunia, mereka hanya menumpang. Sehingga mereka luput dari tugas manusia salah satunya menjadi khalifah di bumi.
Khalifah atau pemimpin ialah harus menjaga dan bertanggung jawab atas perbuatannya di bumi Allah. Namun nyatanya malah merusak dan mengeksploitasi bumi. Bumi kehilangan keseimbangannya, punvaknya bumi murka saat akhir tahun 2019. COVID-19 adalah salah satu upaya alam untuk membersihkan dirinya dari manusia. Selama lebih dari 2 tahun, bumi mengalami revitalisasi dari segala aktfitas manusia. Dampaknya lingkungan sedikit pulih, manusia yang memenuhi bumi sedikit berkurang.
Dalam buku “Man and Nature”, Nasr menyatakan bahwa:
“Dominasi alam’ oleh manusia mengakibatkan malasah kelebihan populasi, kurangnya ruang bernapas, kemacetan kehidupan kota, habisnya sumber daya alam dari segala jenis, perusakan keindahan alam, perusakan lingkungan hidup dengan menggunakan mesin dan produknya, peningkatan penyakit mental yang tidak normal…”
Peristiwa-peristiwa bencana ini adalah akibat dari sebab yang di buat manusia sekaligus teguran dari Tuhan untuk manusia. Manusia semena-mena terhadap alam bahkan hingga menganggap Tuhan itu tidak ada. Karena ilmu pengetahuan modern berangkat dari fisika dan filsafat, dan mengklaim dirinya sebagai satu-satunya standar dan ukuran realitas.
Pengetahuan tradisional dan agama di anggap sebagai takhayul, ketinggalan zaman, dan tidak dapat di andalkan. Karena itu Terjadi pergeseran dari penghargaan terhadap gagasan sakral tentang alam ke duniawi dan kerangka sekularis yang mengukur semua hal.
Gagasan Scientia sacra hadir sebagai kritik atas fenomena kerusakan alam oleh sains modern. Bukan berarti Nasr menentang sains. Namun menentang pemanfaatan yang berlebihan dan ketidakpedulian manusia akan lingkungan yang ia eksploitasi demi percobaan teknologi-teknologi sains. Dalam gagasan scientia sacra, bahwa tujuan utama dari adanya ilmu-ilmu agama hingga dunia seperti geografi, kedokteran adlaah untuk mengungkapkan ‘kesatuan dan keterkaitan dari semua yang ada’.
Scientia sacra adalah perumusan ulang dari pemahaman tentang ilmu penegtahuan yang di pahami dari sudut pandang agama. Artinya menganggap serius pemahaman agama tentang tatanan alam sebagai pengetahuan yangs esuai dengan aspek penting dan realitas, dan bukan hanya sebatas dugaan subjektif dan konstruksi historis saja. Artinya pemahaman agama di buat pada aplikatif terhadap kehidupan.
Scientia sacra juga menjadi dasar bagi para ilmuwan islam dalam mengitegrasikan agama dengan pengetahuan sains. Dalam al-Qur’an terdapat tiga kategori hubungan manusia, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan mansuia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam.
Hubungan manusia dengan Tuhan menunjukkan tugas manusia yang pertama yakni sebagai hamba. Terkait dengan bentuk pengambaan dan penyembahan manusia kepada Tuhan. Kemudian hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam adalah tugas manusia sebagai khalifah atau pemimpin. Hubungan dengan manusia mengacu pada tatanan sosial dan identitas diri (sopan santun, etika, karakter, dan lainnya). Hubungan dengan alam yakni terkait bagaimana manusia menjaga keseimbangan dan harmonisasi alam.
Scientia sacra mengacu kepada tugas manusia sebagai khalifah. Hubungan manusia dengan alam. Ini adalah tanggung jawab setiap manusia. Untuk itu sejalan dengan berkembangnya teknologi yang tidak bisa di cegah maka kita harus mengintegrasikannya dengan ilmu-ilmu agama agar tercapainya keseimbangan.
Penulis : Hania Choirunnisa (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)