Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kepentingan Lain dalam Orientalisme

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 2, 2023
in Narasi
0
Menyoal Istilah Ekstrem Kanan-Kiri dalam Agama
18
SHARES
107
VIEWS

Akhir-akhir ini, kata orientalisme telah melebur dalam kehidupan sehari-hari. Namun banyak orang yang masih sering kali memiliki pemahaman yang salah terkait makna sesungguhnya dari kata orientalisme itu sendiri.

Orientalisme dapat dikatakan sebagai suatu ilmu tentang dunia Timur, baik peradabannya, agama yang dianut, adat-istiadat, ilmu-ilmunya, dan lain sebagainya. Sedangkan orang Barat yang berusaha memahami tentang dunia Timur disebut dengan orientalis. Adapun motif utama terjadinya orientalisme yaitu motif keagamaan.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kristen yang diwakili oleh Barat memandang Islam sebagai agama yang menentang doktrin-doktrin dalam Kristen. Islam merupakan suatu agama yang lahir untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Dan karena faktor ini juga, muncul beberapa kritikan untuk Islam yang memerlukan jawaban supaya tidak mempengaruhi pola pikir masyarakat Kristen pada masa itu.

Dari persoalan tersebut, umat islam memahami jika Perang Salib antara umat Islam dan Kristen belum sepenuhnya selesai. Meskipun pada perang itu kemenangan diraih oleh umat Islam, namun tidak dapat disangkal jika Islam juga mengalami tekanan berat karena banyak putra terbaik Islam yang gugur di dalam peperangan tersebut, beberapa aset pemerintahan mengalami kehancuran yang berakibat timbulnya kemiskinan dan kebodohan umat Islam.

Pasca terjadinya peristiwa Perang Salib, Eropa mengambil peran dalam kancah dunia dengan cara menghidupkan kembali intelektual masyarakat Timur. Masa ini dikenal dengan masa pencerahan. Setelah masa pencerahan, kemudian lahir masa kolonialisme pada abad ke-20.

Suatu masa dimana orang-orang Barat yang mulai berdatangan ke Timur untuk berdagang dan memperdalam pemahamannya terkait dunia Timur. Dalam usahanya memahami dunia Timur, para orientalis tidak hanya berbaur dan menyerap pengetahuan dari bangsa Timur, akan tetapi mereka juga memiliki tujuan lain, yaitu ingin menguasai negara Timur.

Kolonialisme merupakan suatu istilah yang bermakna menguasai. Sehingga dapat dikatakan jika kolonialisme merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh suatu negara untuk menguasai negara lain.

Tujuan utama kolonialisme yaitu untuk mendominasi wilayah lain dalam berbagai sektor kehidupan, seperti sektor perekonomian, politik, gaya hidup, pola pikir, hingga sumber daya manusianya.

Ciri utama terjadinya kolonialisme dalam duatu negara yaitu mengambil sumber daya alam dari negara yang ingin di kuasai untuk dibawa ke negara asal. Proses ini cenderung berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Adapun beberapa negara yang dapat di jadikan contoh sebagai negara penguasa yaitu Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol.

Aksi kolonialisme merupakan sebuah misi yang bersembunyi di balik kata orientalisme. Kolonialisme kemudian masuk ke Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara yang berhasil di taklukkan oleh para kolonial dalam berbagai bidang.

Pada mulanya, para kolonial masuk ke Indonesia untuk menguasai rempah-rempah. Oleh karena itu, tidak heran jika awal kedatangannya di lakukan dengan cara berdagang dan berbaur dengan para petani rempah-rempah.

Kedatangan para koloni di nusantara, memberikan pengaruh yang cukup signifikan, seperti sistem kepemimpinan yang awalnya berbentuk kerajaan berubah menjadi sistem kekuasaan layaknya negara Barat.

Kondisi ini tentu memiliki pengaruh terhadap perekonomian, politik, sosial, dan kebudayaan masyarakat nusantara. Semakin hari, pengaruh asing ini semakin kuat. Di buktikan dengan melemahnya kekuasaan raja di bidang perniagaan.

Tidak hanya itu, para kolonial juga mendirikan beberapa gedung dan pabrik guna memperlancar misi mereka dalam menaklukan nusantara. Bahkan hingga saat ini, aksi kolonialisme masih berlanjut, hanya saja banyak masyarakat yang tidak menyadari.

Karena bangsa Barat tidak lagi menjajah nusantara dengan fisik namun dengan pola pikir. Salah satu bentuk nyata dari aksi kolonialisme yang masih di rasakan jelas oleh generasi milenial yaitu terkait persoalan teknologi.

Majunya teknologi dengan berbagai media sosial yang ada merupakan hasil bentukan dari bangsa Barat untuk menjajah generasi milenial. Tidak ada manusia zaman sekarang yang bisa hidup tanpa adanya teknologi.

Teknologi telah berhasil merebut hampir seluruh ruang dalam kehidupan manusia. Adanya teknologi juga mempermudah segala pekerjaan manusia. Sehingga tidak heran apabila manusia menggantungkan hidupnya kepada teknologi.

Bahkan para ulama Islam juga hidup berdampingan dengan teknologi. Teknologi tidak hanya di gunakan sebagai media komunikasi, tetapi juga di jadikan sebagai media untuk mensyiarkan ajaran agama.

Dengan adanya teknologi seperti Youtube, TikTok, Instagram, dan lainnya, mampu membantu tersebarnya sebuah dakwah dalam segala kalangan. Di zaman dulu, jika seseorang ingin mendalami agama maka ia harus hadir dalam sebuah majlis, berbeda dengan saat ini. Cukup dengan membuka Handphone maka seseorang dapat mendengar ceramah agama dari berbagai ulama nusantara.

Menilik pada fenomena di atas, rasanya mustahil jika ada seseorang yang mengatakan dapat hidup tanpa bantuan teknologi. Teknologi telah menyatu dalam kehidupan manusia. Melenyapkan teknologi sama saja membunuh peradaban manusia.

Oleh karena itu, jika tidak ingin terus menerus berada di bawah pengaruh bangsa Barat, maka jadilah manusia yang cerdas dalam berteknologi. Pilah dan cari peluang untuk dapat meraih pengetahuan yang lebih unggul dari Barat.

Penulis : Faradillah Sania Kusuma Putri (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Menolak Keberadaan Nasikh Mansukh Quran

Next Post

Eksistensi Al-Qur’an dan Peradabannya

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Membumikan Budaya Literasi: Bergerak dan Menghampiri

Eksistensi Al-Qur’an dan Peradabannya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.