Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Dimensi Sains dalam Al-Qur’an

RedaksiKS by RedaksiKS
Mei 31, 2023
in Ulûm ad-Dîn
0
dimensi sains dalam al-quran
59
SHARES
348
VIEWS

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad sebagai pedoman umat Islam untuk hidup di dunia. Dalam al-Qur’an tidak hanya berisi  persoalan tentang sang Khalik saja tetapi juga dengan sesama makhluknya di muka bumi ini. Umat Islam meyakini bahwa al-Qur’an mencakup semua petunjuk kehidupan, pusat pengetahuan, hukum, dan peraturan kehidupan.

Umat Islam terinspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Mereka pun dapat menemukan hal baru yang kala itu belum di temukan di mana-mana. Salah satu contohnya yaitu munculnya cara perhitungan warisan.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Fiqh Al-Rahmah dalam Krisis Empati: Filantropi Islam sebagai Jalan Kepemimpinan Transformatif

Namun sayangnya berbanding terbalik dengan keyakinan umat Islam. Banyak Ilmuwan barat pada saat itu mengingkari hal tersebut karena masih menganggap adanya pembatas tebal antara agama dengan ilmu pengetahuan.

Dalam Psikologi Islam karya Djamaluddin Ancok dan Fuat Nashori Suroso, mereka beranggapan agama (dalam hal ini yang dimaksud adalah agama Islam) bekerja pada dataran mistis-non empirik. Sedangkan ilmu pengetahuan bekerja pada dataran empirik maka dari itu kedua dimensi ini dianggap tidak relevan.  

Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang telah tertulis di al-Qur’an mengenai pemberitaan masa depan, proses penciptaan alam semesta, penciptaan manusia, atau kumpulan ayat mengenai ilmu pengetahuan, satu persatu menjadi sebuah kebenaran ilmiah. Maksudnya, yang telah tertulis di al-Qur’an telah di buktikan dengan penelitian ilmiah yang di lakukan para ilmuwan.

Seperti halnya ayat-ayat al-Qur’an yang memuat penjelasan mengenai alam semesta, salah satunya pada  Q.S. Al-Anbiya (21):30 yang berbunyi

أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya dan dari air Kami jadikan segalanya hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Melihat dari Tafsir Al-Azhar Hamka menjelaskan, bahwa pada zaman awal penciptaan langit dan bumi merupakan suatu kesatuan yang padu. Maka lama-kelamaan terpisah-pisahlah di antara yang satu dengan yang lain.

Sedangkan secara sains, dapat dilihat dari teori yang sangat masyhur hingga saat ini yaitu teori Big Bang (ledakan besar) yang dicetuskan oleh ilmuwan Alexander Friedman dan Georges Lemaitre pada tahun 1922.

Melansir dari tulisan Weggie Ruslan dan Mikhael Dua  dalam bukunya, Big Bang adalah ledakan dahsyat yang memungkinkan ekspansi alam semesta dan materi padat meletus dengan tenaga yang luar biasa. Gumpalan-gumpalan gas dan debu yang berasal darinya menjauh dengan kecepatan tinggi. Kemudian mengalami proses yang sangat panjang hingga dapat membentuk alam semesta yang kita kenal saat ini.

Dari penjelasan di atas, terlihat jelas bahwa ayat penciptaan alam semesta yang telah tertulis dalam al-Qur’an terbukti kebenarannya dengan adanya penjelasan sains di atas.

Fenomena lainnya yang tergambar dalam ayat al-Qur’an selanjutnya adalah mengenai dua air laut yang tidak bisa menyatu. Tertulis dalam Q.S. Al-Furqan (25):53  yang berbunyi

وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا

Dan Dialah yang membiarkan dua air laut mengalir (berdampingan) yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an , menyatakan bahwa Allah lah yang membiarkan dua macam lautan itu, yang tawar dan enak rasanya dengan yang asin dan pahit rasanya untuk mengalir dan bertemu. Keduanya kemudian tidak bercampur karena adanya pembatas dan penghalang. Hal ini adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Swt.

Penjelasan ilmiah modern mengenai air laut yang tidak bisa menyatu ini baru ada pada abad 20 yang di paparkan oleh ahli-ahli Oseanografi. Para ilmuwan menjelaskan fenomena yang terjadi di Selat Gibraltar ini merupakan pertemuan antara dua laut yang berbeda, yaitu laut Atlantik dan laut tengah. Mengulik dari jurnal Maryam Sejahtera, kedua air laut tersebut memiliki komponen yang sangat berbeda. Mulai dari tingkat salinitas (kadar garam), suhu air, dan kerapatan air. Maka dari itu kedua air ini tidak bisa menyatu meskipun di campurkan satu sama lain.

Terdapat pula penjelasan proses penciptaan manusia yang tertulis di al-Qur’an seperti pada Q.S. Al-Mu’minun (23):14 yang berbunyi

ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Dalam surah diatas dijelaskan penciptaan manusia dimulai dari nutfah, ‘alaqah, mudghah, yang masing-masing adalah tahapan berkembangnya janin yang ada di kandungan. 

Menurut perspektif sains modern, di jelaskan bahwa proses kejadian manusia juga terjadi dalam tiga fase di mulai dari fase zigot, yaitu sejak konsepsi hingga akhir minggu ke 2. Fase embrio yaitu akhir minggu ke 2 hingga akhir bulan ke 2 dan fase janin yaitu akhir bulan ke 2 hingga kelahiran.

Kebenaran al-Qur’an yang di buktikan dengan sains tidak hanya di gambarkan ketiga fenomena di atas. Melainkan masih banyak fenomena atau peristiwa lainnya, seperti fenomena adanya zat klorofil pada daun yang sesuai dengan Q.S. Al-An’am (6):99, lalu adanya api di dasar laut yang sesuai dengan Q.S. At-Tur (52):6, perbedaan sidik jari setiap manusia yang tertulis pada Q.S. Al-Qiyamah (75):3-4 dan tentu masih banyak fenomena lainnya.

Ini membuktikan bahwa al-Qur’an bukanlah buatan manusia melainkan benar-benar kalam Allah yang tidak di ragukan kebenarannya. Banyaknya fenomena ilmiah yang sudah tertulis di dalam al-Qur’an ini tentu dapat mematahkan statement bahwa agama Islam tidaklah relevan dengan ilmu pengetahuan. Justru al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memuat banyak aspek keilmuan. Tentu masih banyak ayat al-Qur’an lainnya yang tengah menunggu di ungkap dan ilmuwan muslim di tantang untuk membuktikan kebenarannya. Wallahu a’lam bishawab 

Penulis : Septhiana Lutfia Hajar (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Editor : Izzul Khaq

Terkait

Previous Post

Relevansi Kaligrafi di Era Modernisasi

Next Post

Kritik Pejabat, Bagaimanakah yang Dibenarkan dalam Al-Qur’an?

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Membaca Realitas Keummatan

Kritik Pejabat, Bagaimanakah yang Dibenarkan dalam Al-Qur’an?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.