Di jagat yang terlalu instan dan mudah, mengakibatkan pola pikir merambat menjadi serba instan juga. Kita terlalu memanjakan diri kita dengan atribut-atribut teknologi atau aplikasi, sehingga kematangan berpikir dan kedalaman kita mencari ilmu kurang maksimal. Lantas ada pertanyaan yang kerap kali mengganggu seorang pembelajar, yakni apakah boleh menguasai suatu bidang, hanya untuk mencari atau memperoleh rezeki?
Pertanyaan itu dijawab dengan dualism problematic, dimana ada sisi yang menentang karena krisis pendidikan di era sekarang. Apa lagi di Indonesia yang berulang kali merubah paradigma kurikulum dalam pembelajaran. Di satu sisi ada juga yang pro karena untuk mendukung produktivitas dan etos kerja yang mana juga untuk menekan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan negara. Kali ini artikel ini akan menengahi dan menjelaskan secara eksplisit fungsi dari pendidikan tersebut, dan tidak menyalahkan kedua kubu tersebut.
Sekilas Mengenai Ibn Khaldun.
Ibnu Khaldun atau nama aslinya Abu Zaid Abdurahman Ibn Khaldun. Ia merupakan seorang Polymath, yang mana ia ahli dalam beberapa keahlian, sejarawan, sosiolog, filosof, ekonom dan keahlian lainya. Ibn Khaldun yang notabenenya seorang nomaden. Orang yang tidak konsisten untuk menetap pada suatu tempat.
Karena ada beberapa peristiwa yang ia alami salah satunya wabah Black Death yang memakan korban ayahnya sendiri, dan ketika dewasa ia tidak menggantungkan diri kepada keluarganya, dari itu corak khas pemikiran terbentuk. Maka ia pernah membuat quotes di dalam bukunya Muqaddimah. “Bahwa manusia adalah anak dari kebiasaan lingkunganya, bukan anak dari genealogis nenek moyangnya”.
Dari cuplikan quotes tersebut sedikit membuka gambaran tentang pendidikan, landasnya tentu jelas dari Kalamullah, yakni surat Al- Baqarah ayat 30, yang berbunyi,
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al- Baqarah; 30)
Tugas untuk mengurus dan melanjutkan estafet di bumi ini, manusia kata khaldun akan mencoba untuk memahami dan belajar, berkemampuan mengindrak didalam dirinya dan diluar dirinya dengan kemampuan akal pikirnya.
Pendidikan Esensi & Eksistensi.
Saya membagi dua tentang pendidikan yang saya analis dari corak pendidikan Ibnu Khaldun. Yang pertama esensi manusia itu sebagai hewan yang berpikir kata Khaldun, yang mana akal pikiran tersebut yang berkontribusi kepada realitas sosialnya. Ia juga membagi klasifikasi akal dalam bukunya Al Itbar Wa Khabar atau Muqaddimah. Dalam tulisan tersebut ada proses panjang manusia menelaah sebagian kejadian- kejadian empiris di dalam hidupnya. Dari proses penalaran manusia akan tumbuh kesenangan terhadap berbagai ilmu pengetahuan.
Yang kedua adalah proses pendidikan sebagai eksistensi. Kata khaldun di mana masyarakat menghendaki kemajuan dalam suatu peradaban. Maka akan majulah ilmu pengetahuan beserta sarana pendidikan. Dalam tulisan khaldun ia tidak mendikotomi kedua ini justru menggabungkan bahwa pendidikan, menurutnya harus mengasah yang namanya akal dan ketrampilan, sebagai usaha untuk mempertahankan hidup.
Jawaban Yang Realistis- Pragmatik tetapi Logis.
Khaldun menegaskan bahwa pemikiran dan aspek- aspek pragmatis memang tidak bisa terpisahkan. Ia memandang ilmu dan pendidikan sebagai gejala konklusif yang tercipta dari terbentuknya masyarakat dan perkembangan kebudayanya. Ia mengatakan juga bahwa masyarakat memerlukan pendidikan untuk memelihara eksistensinya.
Kemudian di jelaskan kembali bahwa eksistensi untuk meraih rezeki, memang tidak di salahkan tetapi sesuai konteks kebudayaan daerah tersebut. Karena khaldun memandang rezeki adalah hasil dari pemahaman dan ketekunan individu untuk meraih namanya profesi dan alat bantu memperoleh penghidupanya.
Rezeki bukan hanya soal uang, bisa lingkungan, budaya, kesehatan, apapun bentuk untuk menghidupkan dirinya dan lingkungan. Tetapi untuk konteks keindonesiaan jika hanya dipukul untuk memperoleh profesi, dan melupakan pendidikan segi kerohanian. Khaldun mengatakan juga bahwa pendidikan seharusnya menciptakan keluhuran manusia dalam memahami Tuhan, melewati jalan praktik ibadah. Maka manusia yang melupakan itu akan menjadi komoditas pasar saja, dan mesin-mesin yang di tindas pendidikan.
Dari kedua kubu di atas kembali lagi dari profesionalisme pendidik dan yang terdidik dan sarana pendidikan. Pendidikan jika kiita lihat hanya satu sudut, maka akan mealineasi pendidikan itu sendiri. Khaldun juga menekankan pentingnya suatu malakah. Jika individu menekuni suatu keahlian. Malakah merupakan suatu perbuatan manusia yang melekat secara dalam dan di peroleh untuk menggunakan perbuatan itu secara berulang kali sehingga menjadi kebiasaan, atau bahasa kini adalah kompetensi bukan kompetisi atau perlombaan.
Malakah hanya dimiliki yang berilmu dan menekuni keilmuan. Ilmu ini terkait Ilmu Nalar, Ilmu Keterampilan, Ilmu Naqli, Ilmu Bahasa, Ilmu Sosial dan ilmu lainya. Ia tidak membagi mana teoritis mana praksis, karena pendidikan itu seharusnya realistis, terlihat nyata di masyarakat, dan pragmatic, menunjang kemajuan peradaban. Jadi antara teori dan praktik keduanya benar, tidak ada pemisahan.
Jadi Individu itu akan menggunakan ilmu sesuai konteksnya. Khaldun adalah sosok teladan sendiri dalam pendidikan, karena ia juga mampu menguasai beberapa keilmuan. Semoga kita dapat menirukan beliau dan meneruskan perjuangan beliau, lahul fatihah. Sekian. Wallahul Muwafiq Ila Aqwa Min Thariq.
Editor : Izzul Khaq