KALIMAHSAWA.ID, Tana Paser – Pagi itu, udara di Tana Paser terasa lebih segar dari biasanya. Matahari baru saja mengintip di cakrawala ketika halaman depan RSUD Panglima Sebaya sudah mulai dipadati lautan manusia yang mengenakan atribut olahraga. Tawa renyah, sapaan hangat antar warga, dan derap langkah dalam kegiatan fun run serta jalan sehat menjadi pembuka yang manis bagi sebuah perayaan besar: Hari Jadi RSUD Panglima Sebaya ke-42 pada 3 Januari 2026.
Namun, perayaan ini bukan sekadar tentang tiup lilin atau pembagian hadiah. Ini adalah perayaan tentang sebuah perjalanan panjang. Sebuah cerita tentang bangunan yang tumbuh bersama masyarakat Kabupaten Paser, bertransformasi dari fasilitas sederhana menjadi benteng kesehatan yang modern dan berintegritas.
Empat dekade lalu, tepatnya pada tahun 1984, RSUD Panglima Sebaya berdiri dengan misi yang sederhana namun mulia: memberikan akses kesehatan bagi masyarakat di Bumi Taka. Nama “Panglima Sebaya” sendiri bukan sekadar nama; ia membawa semangat kepemimpinan, perlindungan, dan pengayoman.
Di masa-masa awal, tantangan tentu tidak mudah. Keterbatasan alat medis, jumlah tenaga kesehatan yang bisa dihitung jari, hingga akses jalan yang belum semulus sekarang menjadi saksi bisu perjuangan para perawat dan dokter pendahulu. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah sejak hari pertama adalah “Bekerja dengan Hati”. Semangat itulah yang membawa rumah sakit ini mampu bertahan melewati berbagai pergantian zaman, krisis kesehatan, hingga pandemi global yang sempat mengguncang dunia beberapa tahun silam.
Kini, di usianya yang ke-42, rumah sakit ini telah bermetamorfosis. Direktur RSUD Panglima Sebaya, dr. Kamal Anshari, dengan mata berbinar menyatakan rasa bangganya. “Usia 42 tahun adalah usia matang. Kami telah melewati banyak fase, dan hari ini kita melihat Panglima Sebaya yang jauh lebih kuat, lebih digital, namun tetap membumi,” ujarnya di sela-sela acara.
Salah satu sorotan utama dalam perayaan tahun ini adalah keberhasilan RSUD Panglima Sebaya dalam merangkul teknologi. Era digital bukan lagi sekadar wacana di sini, melainkan realitas sehari-hari.
Dahulu, pasien mungkin harus berhadapan dengan tumpukan berkas administrasi yang melelahkan. Kini, pemandangan itu mulai sirna. Implementasi sistem Rekam Medis Elektronik (RME) dan digitalisasi administrasi telah memangkas waktu tunggu secara signifikan
- Efisiensi Waktu: Pasien tidak perlu lagi menunggu petugas mencari map fisik di gudang arsip.
- Akurasi Data: Riwayat kesehatan pasien tersimpan aman secara digital, memudahkan dokter dalam mengambil keputusan medis yang cepat dan tepat.
- Ramah Lingkungan: Pengurangan penggunaan kertas (paperless) menjadi kontribusi nyata rumah sakit dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Paser.
“Kita tidak boleh ketinggalan kereta. Digitalisasi adalah kunci agar tenaga medis bisa fokus pada hal yang paling utama, yaitu merawat pasien, bukan sibuk mengurus kertas,” tegas dr. Kamal.
Kualitas sebuah layanan kesehatan tidak hanya dinilai dari senyum perawatnya, tetapi juga standar baku yang diakui secara nasional. RSUD Panglima Sebaya telah membuktikan kelasnya dengan meraih Akreditasi Paripurna (Bintang Lima). Pencapaian ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya diraih pada tahun 2017 dan 2023.
Namun, yang paling membanggakan bagi seluruh civitas hospitalia adalah predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) yang diberikan langsung oleh Kementerian PAN-RB. Sebagai satu-satunya perwakilan dari Kabupaten Paser yang lolos dalam penilaian Zona Integritas dan langsung mendapatkan predikat WBK pada percobaan pertama, ini adalah bukti bahwa pelayanan prima di sini dibangun di atas pondasi kejujuran.
“Mendapatkan pengakuan dari pusat itu sulit, mempertahankan jauh lebih sulit. Tapi WBK ini adalah janji kami kepada masyarakat bahwa setiap rupiah dan setiap layanan yang kami berikan adalah bersih dan transparan,” tambah dr. Kamal.
Ketua Panitia HUT ke-42, Masitah, yang juga menjabat sebagai Kabid Keperawatan, membawa nuansa yang berbeda pada perayaan tahun ini. Selain lomba olahraga seperti futsal, badminton, dan tenis meja untuk mempererat kekeluargaan staf, ada pula lomba-lomba edukatif yang menyentuh langsung ke pasien.
Salah satu yang unik adalah lomba spill kit dan hand hygiene (cuci tangan). Mengapa ini penting? Masitah menjelaskan bahwa edukasi cuci tangan adalah garda terdepan dalam mencegah Infeksi Nosokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit). Dengan melibatkan pasien dan keluarga dalam lomba cuci tangan, rumah sakit ingin menanamkan kesadaran bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama.
“Kami ingin pasien merasa aman. Kami ingin mereka tahu bahwa saat mereka masuk ke Panglima Sebaya, mereka berada di lingkungan yang steril dan terjaga. Kami melayani bukan hanya dengan obat, tapi dengan standar kebersihan yang ketat,” ungkap Masitah dengan penuh semangat.
Tema ulang tahun kali ini, “Bersatu Melayani Indonesia, Bersatu Melayani untuk Masyarakat Kabupaten Paser”, menjadi kompas bagi langkah RSUD Panglima Sebaya ke depan.
Ada beberapa pilar kualitas yang akan terus ditingkatkan pasca perayaan usia ke- 42 ini:
- Peningkatan Mutu SDM: Tenaga medis akan terus diberikan pelatihan spesialisasi agar masyarakat Paser tidak perlu jauh-jauh ke luar kota untuk mendapatkan penanganan medis tertentu.
- Modernisasi Alat Kesehatan: Pengadaan alat-alat diagnostik mutakhir akan terus dilakukan sejalan dengan dukungan anggaran dari Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Paser.
- Hospitality (Keramahtamahan): Manajemen menekankan bahwa teknologi setinggi apa pun tidak akan bisa menggantikan sentuhan manusia. Setiap petugas diminta untuk melayani dengan “S3” (Senyum, Sapa, Salam).
- Mendengarkan Kritik: Melalui lomba Google Review dan kotak saran, RSUD Panglima Sebaya membuka diri seluas-luasnya terhadap masukan masyarakat. Bagi mereka, kritik adalah jamu yang pahit namun menyehatkan untuk pertumbuhan rumah sakit.
Acara pembagian hadiah hari itu berakhir dengan sorak-sorai kegembiraan, namun semangat yang dibawa tetap membekas. dr. Kamal Anshari menutup dengan sebuah pesan yang menyentuh:
“Terima kasih kepada masyarakat Kabupaten Paser yang telah mempercayakan nafas dan kesehatannya kepada kami. Tanpa dukungan Pemerintah Daerah, DPRD, dan terutama kepercayaan masyarakat, kami hanyalah deretan gedung beton tanpa nyawa. Di usia 42 tahun ini, kami berjanji untuk terus belajar, terus memperbaiki diri, dan selalu hadir sebagai sahabat sehat bagi Anda semua.”
RSUD Panglima Sebaya kini melangkah menuju tahun ke-43 dengan kepala tegak. Sebuah perjalanan panjang yang masih akan terus berlanjut, mengukir cerita-cerita kesembuhan baru, dan tetap menjadi kebanggaan di Bumi Taka.
Kontributor: Naufal Febrian