Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Tahajud Bukan Satu-Satunya Shalat Sunah Malam Hari

RedaksiKS by RedaksiKS
Januari 1, 2021
in Ibadah
0
Doa penutup kegiatan adalah doa yang cukup penting, mengingat doa tersebut harus selalu kita ucapkan setiap mengakhiri kegiatan.
17
SHARES
99
VIEWS

Shalat tahajud adalah shalat malam yang dikerjakan sesudah shalat Isya hingga menjelang terbit fajar, dengan jumlah sebelas rakaat. Mengenai jumlah rakaat shalat tahajud terdapat dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah:

حَدَّثَنَا يَحْيَى ابْنُ يَحْيَى, قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ, عَنْ سَعِيْدِ ابْنِ أَبِي سَعِيْدٍ الْمَقْبُرِيِّ, عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ. أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ: كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى رَمَضَانَ؟ قَالَتْ: مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ, وَلاَ فِى غَيْرِهِ, عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً, يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ, ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ, ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ:يَا رَسُولَ الله! أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ! إِنَّ عَيْنَيْ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي. رواه البخاري 3569,2013,1147 و مسلم 738

TulisanTerkait

Kapan Wanita Mulai Shalat Zhuhur di Hari Jumat?

Film Bidaah Melalui Kacamata Tafsir Kontemporer: Antara Sensasi dan Substansi

Bacalah Surat Al-Kahfi dengan Keutamaannya

Telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Yahya, ia berkata: Aku telah membaca kitab Malik, dari Sa’id Ibn Abi Sa’id al-Maqbury, dari Abi Salamah Ibn Abdir-Rahman, bahwa ia bertanya kepada ‘Aisyah: Bagaimana shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. pada bulan Ramadan? Ia menjawab: Pada bulan Ramadan maupun di bulan lainnya tak pernah Rasulullah mengerjakan lebih dari sebelas rakaat; ia kerjakan empat rakaat, jangan engkau tanyakan eloknya dan lamanya kemudian ia kerjakan lagi empat rakaat, jangan engkau tanyakan eloknya dan lamanya, lalu ia kerjakan tiga rakaat. Kemudian ‘Aisyah berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidur terlebih dahulu sebelum witir? Rasulullah menjawab: “Wahai ‘Aisyah! Sesungguhnya kedua mataku terpejam tetapi tidak dengan jiwaku”. [HR. al-Bukhari No. 1147, 2013, 3569 dan Muslim No. 738].

Suara Muhammadiyah Tahun 2013 Cetakan Ke-7

Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 yang diterbitkan Suara Muhammadiyah tahun 2013 cetakan ke-7 hal. 162-163 tentang shalat istikharah, dijelaskan bahwa shalat istikharah adalah shalat yang dikerjakan untuk memohon petunjuk terhadap sesuatu yang diinginkan oleh seseorang yang sedang mengharapkan sesuatu yang baik dan benar berdasarkan petunjuk Allah. Jumlah rakaat shalat istikharah yaitu dua rakaat:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ, قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الْمَوَالِي, عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ, عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا, كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ, يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ, ثُمَّ لِيَقُل: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ, وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ, وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ, فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ, وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ, وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي, ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيْهِ, وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ, فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهَا, وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ, ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ. رواه البخاري 1162

“Qutaibah telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdur-Rahman bin Abu al-Mawali telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah ra berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengajari kami istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana mengajarkan surat al-Quran. Beliau bersabda: Jika seseorang di antara kalian menghendaki suatu perkara maka shalatlah dua rakaat, selain shalat fardhu, kemudian ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu, dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Mahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Maha Agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedang aku tidak. Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak. Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang gaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (disebutkan masalahnya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku, – atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda: di dunia atau di akhirat – takdirkanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah di dalamnya. Tetapi, bila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagi diriku dalam agama, kehidupan dan akibatnya kepada diriku, maka palingkanlah persoalan tersebut dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku. Beliau bersabda: Hendaklah ia menyebutkan keperluannya.” [HR. al-Bukhari no.1162].

Penjelasan

Setelah penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa shalat tahajud dan istikharah sama-sama termasuk shalat tathawwu’ atau shalat sunah. Shalat tahajud dikerjakan pada malam hari setelah shalat Isya sampai menjelang terbit fajar. Sedangkan shalat istikharah bisa dikerjakan kapan saja selain waktu yang diharamkan untuk shalat.

Baca Juga: Waktu-waktu Shalat Yang Dilarang

Shalat tahajud dan istikharah merupakan shalat yang berdiri sendiri. Jika hendak melakukan shalat istikharah pada malam hari beriringan dengan shalat tahajud, maka shalat istikharah bisa dilakukan sebelum atau sesudah shalat tahajud. Demikian berdasarkan pada keumuman lafal ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini:

وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ ابْنُ الْمُثَنَّى, حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيِّ, حَدَّثَنَا هِشَامٌ, عَنْ يَحْيَى, عَنْ أَبِى سَلَمَةَ, قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالَتْ: كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً, يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوْتِرُ, ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ, فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ, ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَاْلإِقَامَةِ, مِنْ صَلاَةِ الصُبْحِ. رواه مسلم 738

“Muhammad Ibnu al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami, Ibnu Abi ‘Ady telah menceritakan kepada kami, Hisyam telah menceritakan kepada kami, dari Yahya, dari Abu Salamah, ia berkata: Saya bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang shalat (malam) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ‘Aisyah berkata: Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat 13 rakaat. Beliau shalat 8 rakaat, kemudian witir. Lalu beliau shalat (lagi) dua rakaat dilakukan dengan duduk. Jika beliau akan rukuk beliau berdiri kemudian rukuk dan shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah di waktu shalat shubuh.” [HR. Muslim No. 738]

Namun, mengingat adanya hadis yang menyatakan shalat witir sebagai penutup shalat malam, maka sebaiknya shalat istikharah dilakukan sebelum shalat tahajud. Jadi dua rakaat shalat istikharah beserta doa istikharah kemudian dilanjutkan dengan shalat tahajud dan witir sebelas rakaat. Skemanya: dua rakaat istikharah + doa istikharah + shalat tahajud dan witir sebelas rakaat.

عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اجْعَلُوْا آخِرَ صَلَا تِكُمْ باِلَّيْلِ وِتْرًا. رواه مسلم 751

“Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Jadikanlah witir itu sebagai akhir shalat malam.” [HR. Muslim No. 751].

Sumber: fatwatarjih.or.id

Terkait

Tags: IstikharahMuhammadiyahShalat MalamShalat SunahTahajudWitir
Previous Post

Waktu-waktu Shalat Yang Dilarang

Next Post

Larangan Bunuh Diri Dalam Islam

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Larangan Bunuh Diri Dalam Islam

Larangan Bunuh Diri Dalam Islam

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.