Kalimahsawa.id – Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Israel adalah okupasi atau imperialisme yang bahkan hingga abad ke-21 masih nampak secara kasat mata.
Padahal, menurut Sudarnoto, dunia harus dibangun dengan dasar penghormatan terhadap kemanusiaan, terhadap peradaban yang tinggi, prosperity and peace. Justru Israel secara kasat mata dan tidak malu melakukan tindakan-tindakan brutal berupa pengusiran dan genosida yang menimbulkan bencana kemanusiaan di Palestina.
“Ini adalah sebuah kejahatan yang sudah berlarut-larut yang seharusnya dihentikan. Karena itu kejahatan-kejahatan yang ada di depan mata ini adalah terorisme. Apa yang terjadi di Palestina itu sudah jelas melanggar hukum internasional, dan ini didukung oleh Amerika,” tegasnya.
Ia menyebut bahwa Amerika Serikat ikut bertanggung jawab terhadap terorisme yang dilakukan oleh Israel. Alih-alih memiliki niat untuk menghentikan Israel, Amerika justru mendukung Israel.
Maka, warga sipil dunia harus terus mendesak PBB agar memberikan sangsi kepada Israel atas kejahatan-kejahatannya yang selama ini dilakukan. Menurutnya, mahkamah internasional seharusnya memiliki kekuatan yang efektif untuk membawa Israel ke pengadilan internasional.
Dalam hal ini, MUI tengah menggalang masyarakat sipil Aliansi Civil Society Indonesia untuk Sangsi Internasional terhadap Israel. Aliansi ini telah mendapatkan dukungan sekitar 14 ribu dari berbagai kalangan, mulai dari intelektual, akademisi, guru besar, sampai buruh tani, ibu rumah tangga, aktivis, tokoh lintas agama, dan profesional.
Hal tersebut menjadi petunjuk konkret bahwa apa yang dilakukan oleh Israel telah membangkitkan global sentiment yang menggugah empati masyarakat global terhadap Palestina.
“Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh masyarakat sipil harus terus digalakkan sampai menjangkau batas-batas agama dan negara sehingga benar-benar mampu menekan Israel secara global,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengapresiasi langkah-langkah diplomasi yang dilakukan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, upaya diplomasi penting untuk dilakukan karena hal tersebut dapat meyakinkan bahwa reformasi di PBB harus dilakukan. Veto yang selama ini dilakukan oleh Amerika tidak boleh terjadi.
Menurut Sudarnoto, veto boleh dilakukan asalkan tidak terkait dengan kematian seseorang. Veto tidak boleh dilakukan dalam hal genosida dan kejahatan perang.
Reporter : Yusuf