Oleh: Akhmad Jauhari
Suatu hari tahun 2021, saya menonton pagelaran Sandiwara Dwi Warna yang digelar sebuah keluarga di sebuah desa di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Ketika itu, saya menyaksikan antusiasme yang tinggi dari para penonton. Mereka bukan hanya tamu undangan hajatan pernikahan, melainkan banyak yang mengaku sebagai penggemar Sandiwara.
Hal yang menarik perhatian adalah baik panitia hajatan, tim Sandiwara, pemain, maupun penonton tidak risi dengan sampah yang bertebaran. Mereka asyik menyaksikan pementasan bertajuk Legenda Indramayu tersebut kendati dalam suasana pandemi Covid-19. Musik bersahutan, suara aktor dan aktris menggelegar hingga ke dusun tetangga, raja dan ratu sehari tampak berbahagia.
Sandiwara, atau yang bernama Masrés bagi pegiat budaya Cirebon, adalah pementasan grup wayang orang yang memainkan cerita tertentu, mirip acara televisi Opera van Java di Trans 7 yang mengudara pada 2009-2021. Pementasan ini sayangnya belum berperspektif lingkungan, ekologi, atau ekoteologi. Padahal cerita yang dibawakan lebih mudah diterima dibandingkan penyampaian secara formal.
Definisi Sandiwara maupun Masrés di buku Budaya Dermayu (2013) karya pegiat budaya Indramayu Supali Kasim juga tidak mencantumkan perspektif ekologi tersebut. Meski bercirikan cerita berlatar kerajaan, kesultanan, pemerintahan, ada peluang Sandiwara menjadi pintu pendidikan ekoteologi bagi masyarakat.
Surga Sandiwara
Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon adalah surga bagi grup Sandiwara dan Masrés. Penelusuran menunjukkan ada lebih dari 10 grup asal Cirebon, dan lebih dari 30 grup di seantero Indramayu. Di YouTube, kita bisa dengan mudah menemukan rekaman grup Sandiwara Aneka Tunggal, Lingga Buana, Dwi Warna, Jayabaya, dan banyak lagi.
Di media sosial Facebook, penonton dan penggemar bahkan bisa berinteraksi dan berbagi jadwal pementasan untuk beberapa waktu ke depan. Sebut saja KJS Group – Kumpulan Jadwal Sandiwara beranggotakan 13.000 anggota, Sandiwara ANEKA TUNGGAL dengan 12.000 anggota, dan sebagainya.
Fenomena ini merupakan peluang pendidikan ekoteologi yang bisa dilakukan berbagai pihak. Grup Sandiwara dan Masrés tentu tidak bisa bergerak sendiri. Mereka membutuhkan perspektif tertentu untuk menguatkan sumbangan sastra terhadap persoalan kerusakan alam dan lingkungan hidup. Ya, pelaku seni itu bisa juga disebut sebagai pelaku bidang sastra karena menampilkan narasi, cerita, kisah yang memiliki ciri sastra.
Indramayu dan Cirebon sebagai surga Sandiwara dan Masrés bisa ambil bagian dalam masalah dan krisis sosial-ekologi akhir-akhir ini. Kita bisa mendata pabrik mana saja yang berperan dalam industrialisasi di Cirebon. Penelusuran sederhana melalui Google Maps menunjukkan ada Japfa Comfeed Indonesia, PT Sido Agung Agro Prima, PT New Hope Indonesia, dan lainnya yang tentunya dampak lingkungannya perlu diamati.
Kita juga perlu waspada dengan dampak Segitiga Rebana yang menghasilkan pendirian sebuah pabrik sepatu PT Sun Bright Lestari di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Pabrik itu sepertinya bukan satu-satunya karena sampai Mei 2025, baru 3.340 hektare Kawasan Peruntukan Industri (KPI) yang sudah dimanfaatkan. Masih ada 10.770 hektare lahan yang siap investasi berdasarkan penuturan Bupati Indramayu Lucky Hakim.
Seniman Sandiwara dan Masrés perlu melek ekoteologi karena hal itu sedikit banyak berpengaruh terhadap aktivitas keseniannya. Perubahan musim akibat pencemaran lingkungan mempengaruhi pendapatan mereka karena hanya orang yang baru panen padi, yang memiliki uang untuk menggelar hajatan, yang akan mengundang mereka sebagai pengisi acara. Sampah dan pencemaran juga mengganggu kenyamanan pementasan. Belum lagi banyak cerita rakyat dan tradisi lokal yang mengandung nilai ekologis.
Pintu Pendidikan Ekoteologi
Menyikapi permasalahan di atas, pagelaran Sandiwara dan Masrés bisa menjadi pintu pendidikan ekoteologi bagi banyak kalangan. Maka dari itu, langkah pertama yang bisa dilakukan ialah mengidentifikasi dan merangkum krisis sosial-ekologi yang sedang terjadi. Memang tidak semua industri memunculkan kabar viral mengenai pencemaran lingkungan, tapi paling tidak sorotan terhadap satu dua kasus di Indramayu dan Cirebon sudah cukup.
Setelahnya, kasus-kasus ekologi tersebut perlu disuarakan kepada para seniman atau pelaku seni Sandiwara dan Masrés tersebut. Jenis kegiatannya bisa berupa FGD atau workshop. Di sini letak pentingnya peran lembaga pemerintah maupun kelompok seniman untuk menjadi medium tempat bertemu dan berbagi informasi dengan para pegiat seni.
Lembaga pemerintah terkait yang dimaksud di antaranya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon. Adapun kelompok seniman yang bisa digandeng yakni Lembaga Kebudayaan Indramayu, Dewan Kesenian Indramayu, Dewan Kesenian Cirebon Kota, dan Dewan Kesenian Kabupaten Cirebon.
Adanya lembaga atau pihak yang menjembatani akan memastikan para pegiat seni Sandiwara dan Masrés untuk melek isu ekoteologi. Mereka perlu diajak untuk mengkampanyekan isu-isu tersebut ke penonton setianya. Hal ini mirip dengan menyisipkan materi ekologi kepada pendakwah dari agama-agama yang ada di Indonesia.
Langkah spesifik untuk mengkampanyekan isu-isu tersebut adalah melalui cerita yang dibawakan dalam pagelaran. Beberapa contohnya adalah kisah tentang nelayan pria yang kesulitan mendapatkan ikan karena ada pembuangan limbah di laut sehingga harus meminta bantuan seorang permaisuri raja. Sang permaisuri, berlandaskan nilai-nilai moral larangan merusak alam, kemudian memberi sanksi kepada perusahaan yang membuang limbah tersebut.
Cerita-cerita sejenis bisa direplikasi seperti kisah tentang petani miskin yang sawahnya kekurangan air karena air di hilir tercemar sampah sejak dari hulu. Bisa ditebak, akhir ceritanya ialah ada raja atau ratu baik hati yang menetapkan hukuman keras bagi orang yang membuang sampah sembarangan karena keseimbangan alam terganggu sehingga kehidupan petani kembali tenteram.
Konteks Indramayu dan Cirebon sebagai wilayah pesisir bisa diadopsi ke dalam cerita. Misalnya, di suatu hari ada desa pesisir yang terancam abrasi akibat oknum pejabat istana bengis yang memiliki usaha dengan dampak pencemaran lingkungan. Lalu terjadi konflik internal istana yang solusinya adalah oknum pejabat itu dihukum dengan diusir dari istana sehingga desa pesisir itu bisa pulih dari ancaman abrasi tersebut.
Ada optimisme tersendiri ketika merumuskan cerita-cerita di atas karena ada potensi turut andil membuat masyarakat khususnya penonton Sandiwara dan Masrés memahami isu-isu lingkungan. Pasalnya cara penyampaian mereka cukup mudah dipahami, tidak terlalu kaku seperti sastra kelas tinggi. Pegiat seni itu cukup sering menyampaikan pesan moral secara tersurat dari cerita-cerita yang dibawakan.