Sekian orang membangun rumah untuk bernaung dan berlindung. Mereka mendambakan kekokohan dan keutuhan, sebab ancaman bisa reda dengan hal bersifat kuat. Hal-ikhwal tentang kuat akan menciptakan keteraturan, keselarasan, dan keharmonisan.
Pada umumnya ada sebuah keluarga dalam rumah. Keluarga yang utuh adalah impian sekian orang ketika membangun rumah. Keluarga harmonis dengan pasangan suami-istri dan dua anak adalah komposisi ideal sebagai contoh keluarga harmonis di Indonesia.
Iklan-iklan di majalah acapkali memberikan gambaran kekokohan rumah dan keluarga. Majalah Tempo edisi 21 Mei 2015 memberikan contoh tersebut. Pada iklan Semen Indonesia tampil sebuah keluarga. Pasangan suami-istri, dua anak, dan seorang kakek sedang membuka buku berisi gambar rumah. Kakek berada paling depan, menjadi representasi patriaki tertua dan terhormat dalam keluarga.
Iklan tersebut menulis, ”Kekokohan Demi Kenyamanan Keluarga Indonesia.” Kekokohan tertera di bagian paling atas dengan huruf paling besar. Sedangkan kalimat yang tercetak di bawahnya adalah ”Demi Kenyamanan”. Bagian paling bawah memuat kata “Keluarga Indonesia”. Sekian kata diurutkan sesuai prioritas. Kekokohan adalah yang pertama.
Hal senada tersaji dalam lagu Tentang Rumahku gubahan grup musik asal kota Bali, Dialog Dini Hari. Lirik lagu itu mendendangkan sebait kata dan kalimat terkait rumah dan kekokohan. Tentang rumahku/Takkan goyah walau badai mengamuk/Seperti pohon jati/Akarnya tertancap/Di poros bumi.
Rumah, kokoh, dan pohon jati. Ketiga hal itu saling berkaitan dalam lagu itu. Seakan orang ingin membangun rumah yang kokoh dan kuat. Sekian orang sampai rela berpartisipasi dalam acara ”Bedah Rumah” di salah satu stasiun televisi. Semua demi tempat tinggal yang aman dan kokoh.
Kini rumah-rumah kokoh itu berpindah tangan. Pada suatu pemukiman lawas di Kota Surakarta, yakni Kota Barat, rumah-rumah lawas banyak tak berpenghuni. Kampung pun sepi dan gelap. Namun rumah-rumah kokoh itu masih tegak berdiri. Gentrifikasi mungkin mulai merambah ke kawasan itu. Isu beredar bahwa rumah-rumah itu menjadi milik kalangan berduit dari ibu kota.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani pada suatu waktu pernah mengatakan bahwa generasi milenial kian sulit memiliki rumah. Kenaikan harga rumah terus melejit, tak sebanding dengan pendapatan. ”Generasi muda ini akan berumah tangga, kemudian membutuhkan rumah, tetap sulit karena purchasing power mereka dibandingkan harga rumahnya, lebih tinggi,” ujarnya, (13/7/2022).
Membeli rumah mungkin sama dengan membangun. Membangun rumah mesti memiliki tanah terlebih dahulu. Namun permasalahan tanah kurang lebih sama. Semua kian mahal, tak sebanding dengan pendapatan. Rumah tangga pun jadi nomor kesekian. Sekian orang masih beranggapan bahwa berkeluarga sama dengan berumah. Maka, tak ada lagi kekokohan dan kekuatan. Orang pun mendamba lagi keharmonisan. Karena itu muncul berbagai spanduk nostalgia berserakan di sudut kota, ”Piye enak jamanku tho?”
Penulis : Taufik Nandito
Editor : Nila Pingkan Nauntika