Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri Lakukan Kunjungan ke Rumah Duka Gie Kie Kong Soe sebagai Wujud Moderasi Beragama

AdminKS by AdminKS
Februari 2, 2026
in Report
0
Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri Lakukan Kunjungan ke Rumah Duka Gie Kie Kong Soe sebagai Wujud Moderasi Beragama
19
SHARES
110
VIEWS

KALIMAHSAWA.ID, KEDIRI – Dalam rangka memperkuat niali toleransi beragama, Mahasiswa KKN Kelompok 4 UIN Syekh Wasil Kediri bersama mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri melaksanakan kunjungan ke Rumah Duka Gie Kie Kong Soe pada Jumat, 30 Januari 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN dengan tema Ekoteologi dan Moderasi Beragama, khususnya melalui kunjungan ke tempat peribadatan dan lembaga sosial keagamaan.

Rumah Duka Gie Kie Kong Soe pada awalnya didirikan untuk melayani masyarakat Tionghoa. Namun, seiring perkembangan zaman dan semangat keterbukaan, rumah duka ini kini melayani masyarakat umum tanpa membedakan latar belakang agama maupun etni. Hal tersebut disampaikan langsung oleh salah satu pengurus rumah duka saat menerima kunjungan mahasiswa.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

“Di sini kami melayani semua umat. Mau Konghucu, Buddha, Kristen, Katolik, maupun Islam, semua kami layani sesuai dengan keyakinan terakhir almarhum,” jelasnya.

Dalam proses pengurusan jenazah, pelayanan disesuaikan dengan ajaran agama masing-masing. Untuk jenazah beragama Islam, pengurus rumah duka juga bekerja sama dengan tokoh agama setempat agar prosesnya sesuai dengan syariat.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga mendapat penjelasan mengenai berbagai ornamen dan simbol budaya yang terdapat di lingkungan rumah duka. Ornamen seperti singa dan qilin dipahami sebagai simbol penjaga dan pelindung, sementara relief-relief dan sajian tradisional memiliki makna filosofis tersendiri, seperti simbol kemakmuran, harapan, kebersamaan keluarga, serta penghormatan kepada leluhur. Tradisi sembayangan dan penyajian sesaji dipahami sebagai bagian dari budaya dan penghormatan terhadap leluhur, bukan semata-mata praktik keagamaan.

Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan pada tradisi Cheng Beng, yaitu waktu khusus untuk berziarah dan merawat makam leluhur yang dilaksanakan setiap tahun pada awal April. Tradisi ini dipahami sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada orang tua dan leluhur yang telah berjasa dalam kehidupan keluarga. Nilai penghormatan terhadap leluhur menjadi salah satu prinsip penting dalam budaya Tionghoa yang terus dijaga hingga kini.

Selain aspek budaya dan moderasi beragama, Rumah Duka Gie Kie Kong Soe juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Dalam proses pemandian dan perawatan jenazah, pengurus telah menyiapkan sistem pengolahan limbah (IPAL) untuk mengolah limbah cair agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan prinsip ekoteologi, yaitu kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia.

Fasilitas yang dimiliki rumah duka ini cukup lengkap, mulai dari ruang semayam, peti jenazah dengan berbagai jenis, peti pendingin, hingga ambulans. Pelayanan yang diberikan tidak semata bersifat komersial, tetapi juga mengedepankan nilai sosial dan kemanusiaan. Rumah duka ini terbuka untuk membantu keluarga yang kurang mampu, bahkan tanpa pungutan biaya, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman langsung bahwa moderasi beragama bukan hanya wacana, melainkan praktik nyata dalam kehidupan masyarakat. Rumah Duka Gie Kie Kong Soe menjadi contoh bagaimana perbedaan agama, budaya, dan tradisi dapat dikelola dengan sikap saling menghormati, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Kontributor: Alfitri

Terkait

Tags: IndonesiaIslamKKN UIN Syekh Wasilpendidikan
Previous Post

PCM Grogol Gelar Kajian Rutin, Bahas Kesiapan Ibadah dengan Materi “Mandi Wajib” Tarjih Muhammadiyah

Next Post

Kopdar Akbar SUMU 2026 Teguhkan Peran Pengusaha Muhammadiyah Berkemajuan

AdminKS

AdminKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Kopdar Akbar SUMU 2026 Teguhkan Peran Pengusaha Muhammadiyah Berkemajuan

Kopdar Akbar SUMU 2026 Teguhkan Peran Pengusaha Muhammadiyah Berkemajuan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.