Surakarta, 15 September 2024 – Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, menggelar rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selama 12 hari berturut-turut. Puncak acara peringatan yang berlangsung pada hari ke-12 ini diisi dengan ceramah oleh KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) Nahdlatul Ulama Wilayah Jawa Tengah dan Pembina Lembaga Bahsul Masail di Pondok Pesantren Al-Muayyad. Dalam ceramahnya, beliau menguraikan berbagai keutamaan memperingati Maulid Nabi berdasarkan kitab-kitab klasik, seperti An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyah karya Syekh Yusuf Khottor, serta mencantumkan beberapa referensi dari jurnal internasional.
KH. Mustain memulai ceramahnya dengan menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi tradisi mulia yang dilaksanakan oleh generasi salaf, termasuk oleh para sahabat Nabi, seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali RA. Beliau mengutip dari An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam untuk menguatkan argumentasinya mengenai keutamaan Maulid Nabi. Di antaranya, Sayyidina Abu Bakar RA pernah berkata, “Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.” KH. Mustain menambahkan bahwa para sahabat lainnya, termasuk Sayyidina Umar, Utsman, dan Ali RA, juga memberikan penegasan tentang pentingnya mengagungkan peringatan kelahiran Nabi sebagai bentuk manifestasi dari cinta terhadap Islam dan Rasulullah.
Tak hanya mengutip pendapat para sahabat, KH. Mustain juga menyebutkan pandangan para ulama besar, seperti Imam Hasan Bashri, Imam Junaedi al-Baghdadi, dan Imam Fakhruddin ar-Razi, yang menilai bahwa menghadiri dan mengagungkan Maulid Nabi membawa keberkahan besar, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai contoh, beliau menyebutkan bahwa Imam Fakhruddin ar-Razi pernah mengatakan, “Barangsiapa membaca Maulid Nabi di atas makanan atau air, maka akan tampak keberkatan padanya, dan Allah akan memasukkan seribu cahaya dan rahmat ke dalam hatinya.”
Dalam ceramahnya, KH. Mustain juga mengaitkan tema Maulid Nabi dengan perspektif internasional. Beliau mengutip sebuah jurnal berjudul American Milad: Celebrating the Birthday of the Prophet dari Universitas Chicago yang meneliti dampak Maulid Nabi dalam konteks multikultural di Amerika Serikat. Menurut jurnal tersebut, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas dan kebersamaan di tengah masyarakat yang beragam secara budaya dan agama. Maulid, sebagaimana dijelaskan dalam jurnal tersebut, bukan hanya sebuah penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga upaya membangun kesatuan di kalangan umat Islam di seluruh dunia.
KH. Mustain kemudian mengajak jamaah untuk tidak sekadar memperingati Maulid sebagai seremonial belaka, tetapi sebagai momentum untuk memperdalam ajaran-ajaran Rasulullah SAW. Beliau merujuk pada Kitab Tafsir Durul Mansurkarya Imam as-Suyuthi, yang menegaskan kebesaran Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Anbiya ayat 107: “Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” (Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam). Peringatan Maulid, menurut beliau, adalah waktu yang tepat untuk merenungi betapa besar rahmat yang diberikan Allah melalui kehadiran Rasulullah SAW ke dunia.
Selain itu, KH. Mustain mengutip dari Kitab Iqtidzo’ Sirotol Mustaqim karya Ibnu Taimiyah, yang meskipun bersikap kritis terhadap beberapa bentuk perayaan, tetap menyetujui bahwa memperingati kelahiran Rasulullah SAW dapat menjadi bentuk penghormatan yang sah selama dilakukan dengan niat yang baik dan tidak melanggar syariat. “Maulid adalah momen untuk meneguhkan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mengambil pelajaran dari kehidupan beliau,” ujar KH. Mustain. Beliau menutup bagian ini dengan mengutip hadits Rasulullah: “La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min walidihi wa waladihi wan naasi ajma’iin” (Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tua, anak, dan seluruh manusia) – HR. Bukhari dan Muslim.
Di tengah ceramahnya, KH. Mustain juga membahas dzikir berjamaah dan mendoakan orang yang telah meninggal. Beliau merujuk pada Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyah, yang menyatakan bahwa berkumpul untuk dzikir kepada Allah dan mendengarkan Kitabullah serta berdoa untuk kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, adalah amalan saleh. KH. Mustain menekankan bahwa kegiatan dzikir berjamaah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan, dengan menggabungkan bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan shalawat kepada Nabi SAW.
KH. Mustain juga menjelaskan bahwa tradisi peringatan Maulid Nabi memiliki dasar kuat dari Rasulullah SAW sendiri. Dalam Kitab Al-Mausu’ah Al-Yusufiyyah, Syekh Yusuf Khottor menyebut bahwa Rasulullah SAW memperingati kelahiran Nabi Isa dan Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan kepada para nabi. Hal ini menunjukkan bahwa peringatan kelahiran para nabi adalah tradisi yang telah dimuliakan oleh Rasulullah SAW, dan oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga harus dipandang sebagai momen yang penuh berkah.
Menutup ceramahnya, KH. Mustain mengajak hadirin untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, dan Surat Al-Qalam ayat 4: “Wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim” (Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung). KH. Mustain juga mengutip hadits dari Imam at-Tirmidzi yang berbunyi: “Al-ulama waratsatul anbiya” (Ulama adalah pewaris para nabi), untuk menekankan pentingnya menuntut ilmu sebagai bagian dari kewajiban umat Islam. Beliau mendorong para santri untuk berusaha menjadi pewaris ilmu Rasulullah melalui semangat belajar dan cinta tanah air. Meski hadits “Hubbul wathan minal iman” (Cinta tanah air bagian dari iman) dinilai dhaif, semangat kecintaan terhadap tanah air tetap sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW, yang juga menunjukkan kecintaan terhadap tanah kelahirannya, Mekkah.
Penulis: Tim LBM PP. Al Muayyad