Selasa, Oktober 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Jejak Yang Tak Terlihat : Dari Fenomena Menuju Kesadaran Akan Keteraturan Ciptaan Allah

RedaksiKS by RedaksiKS
Agustus 5, 2026
in Esai
0
Jejak Yang Tak Terlihat : Dari Fenomena Menuju Kesadaran  Akan Keteraturan  Ciptaan  Allah
16
SHARES
96
VIEWS

Oleh : Irsyad hakim affandi

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.“(QS. Ali ‘Imran [3]: 190)

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Selama ini saya selalu mengira bahwa tanda-tanda kebesaran Allah hanya dapat ditemukan pada hal-hal yang besar. Saya mengagumi langit karena luasnya, gunung karena kokohnya, dan lautan karena dalamnya. Padahal, tanpa saya sadari, pelajaran yang mengubah cara saya memandang kehidupan justru datang dari sesuatu yang hampir setiap hari saya abaikan: seekor semut.

Renungan itu berawal dari sebuah peristiwa yang sangat sederhana. Suatu pagi saya sedang membersihkan rumah. Setelah selesai mengepel lantai, saya duduk sejenak sambil menikmati ruangan yang tampak lebih bersih. Ketika itulah saya menyadari ada sesuatu yang berbeda. Barisan semut yang hampir setiap hari saya lihat melintas di dekat meja makan tiba-tiba menghilang.

Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya. Dugaan pertama saya sangat sederhana. Mungkin cairan pembersih lantai telah membunuh semut-semut itu. Penjelasan tersebut terdengar masuk akal sehingga saya tidak lagi memperhatikannya.

Namun keesokan harinya, semut-semut itu muncul kembali. Jumlahnya hampir sama seperti sebelumnya. Mereka tetap berjalan beriringan, hanya saja jalur yang mereka lalui sedikit bergeser. Saya mulai bertanya-tanya. Kalau semut-semut itu masih hidup, lalu apa sebenarnya yang hilang ketika lantai dipel?

Pertanyaan kecil itu membuat saya mulai memperhatikan mereka dengan lebih serius. Selama beberapa hari saya sengaja mengamati bagaimana semut bergerak. Saya melihat seekor semut berjalan lebih dahulu, kemudian beberapa saat setelahnya semut-semut lain mengikuti jalur yang sama. Mereka bergerak tanpa ragu, seolah-olah sedang membaca sebuah peta yang tidak terlihat.

Hal yang paling menarik perhatian saya justru bukan karena mereka berjalan beriringan, melainkan karena hampir tidak pernah saya melihat mereka saling bertabrakan. Setiap semut tampak mengetahui kemana ia harus pergi dan kapan ia harus kembali. Tidak ada suara yang terdengar, tidak ada isyarat yang tampak, tetapi keteraturan itu tetap berlangsung.

Saya kemudian membayangkan jika situasi yang sama terjadi pada manusia. Bayangkan jika puluhan atau ribuan orang berjalan disebuah lorong yang sempit tanpa berbicara, tanpa papan penunjuk arah, dan tanpa saling memberi isyarat. Kemungkinan besar akan terjadi kekacauan. Akan ada yang salah jalan, berhenti karena bingung, atau saling bertabrakan.

Anehnya, hal seperti itu hampir tidak pernah saya temukan pada koloni semut. Rasa penasaran itu mendorong saya mencari penjelasan ilmiah mengenai cara semut berkomunikasi. Dari berbagai bacaan, saya menemukan bahwa semut menggunakan feromon, yaitu senyawa kimia yang mereka keluarkan sebagai media komunikasi. Ketika seekor semut menemukan makanan, ia meninggalkan jejak feromon di sepanjang jalan yang dilaluinya. Jejak inilah yang kemudian dikenali oleh antena semut lain sehingga mereka dapat mengikuti rute yang sama menuju sumber makanan atau kembali ke sarangnya.

Saat membaca penjelasan itu, saya akhirnya memahami apa yang sebenarnya terjadi setelah lantai dipel.

Yang hilang bukanlah semutnya.

Yang hilang adalah jejak yang mereka gunakan untuk membaca arah.

Air dan cairan pembersih menghapus jejak feromon yang menempel di permukaan lantai. Akibatnya, semut kehilangan petunjuk yang selama ini membimbing perjalanan mereka. Mereka tidak mati, tetapi mereka harus membangun kembali jalur komunikasi yang baru. Saya pikir rasa penasaran saya akan berhenti sampai di sana. Ternyata tidak.

Semakin saya memahami fungsi feromon, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul. Bukankah feromon hanyalah senyawa kimia? Mengapa seluruh semut memahami makna yang sama dari jejak tersebut? Mengapa aroma tertentu dipahami sebagai petunjuk menuju makanan, sedangkan aroma lain menjadi tanda bahaya?

Di titik itulah saya menyadari bahwa yang menarik bukanlah feromon itu sendiri, melainkan makna yang dibawanya. Feromon hanyalah zat kimia, tetapi ketika seluruh koloni memahami makna yang sama darinya, ia berubah menjadi sebuah bahasa.

Pemikiran itu mengingatkan saya pada gagasan Ferdinand de Saussure tentang tanda. Menurutnya, sebuah tanda tidak berhenti pada bentuk fisiknya, tetapi memperoleh arti karena makna yang dipahami oleh penerimanya. Dalam konteks semut, feromon bukan sekadar senyawa kimia, melainkan tanda yang membawa informasi. Tanpa makna yang dipahami bersama, feromon hanyalah molekul biasa.

Dari sana saya mulai melihat sesuatu yang lebih luas. Kehidupan ternyata dipenuhi oleh tanda-tanda. Lampu lalu lintas hanyalah cahaya, tetapi mampu mengatur ribuan kendaraan. Uang hanyalah selembar kertas, tetapi manusia sepakat memaknainya sebagai alat tukar. Huruf-huruf yang sedang kita baca hanyalah tinta di atas kertas, tetapi mampu menyampaikan pikiran seseorang kepada orang lain. Yang membuat semuanya bermakna bukan bentuknya, melainkan kesepahaman terhadap arti yang dikandungnya.

Editor : Nila Pingkan Nauntika

Terkait

Tags: AgamaAl-Quranmanusia
Previous Post

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Next Post

Melawan Nihilisme Nietzsche: Cara Gen Z Bangkit dari Quarter-Life Crisis Menjadi “Manusia Tangguh”

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Melawan Nihilisme Nietzsche: Cara Gen Z Bangkit dari Quarter-Life Crisis Menjadi “Manusia Tangguh”

Melawan Nihilisme Nietzsche: Cara Gen Z Bangkit dari Quarter-Life Crisis Menjadi "Manusia Tangguh"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.