Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Ismail Fahmi Membedah Konspirasi Virus Corona

Yusuf R Yanuri by Yusuf R Yanuri
Mei 18, 2020
in Report
0
Ismail Fahmi Membedah Konspirasi Virus Corona
27
SHARES
159
VIEWS

Dr Ahmad Muttaqin ‘Alim, Sp.An, M.Sc.DM, Wakil Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui akun Facebooknya, mengundang Ismail Fahmi untuk berbicara tentang teori konspirasi, terutama kaitannya dengan konspirasi seputar corona. Dalam live streaming video yang dilakukan pada hari Kamis (14/5) itu, Ismail Fahmi membawakan slide dengan judul Teori Konspirasi dan Waras Bermedsos.

Deddy, Tirta, dan Bill Gates

Ia merekam grafik sejak tanggal 18-30 April, tentang konspirasi covid-19. Pada tanggal 22 April ada polemik yang berawal dari Podcast Deddy Corbuzier yang diunggah di YouTube. Deddy mengundang Young Lex untuk berbicara di kanalnya. Pada tanggal 30 April, ada polemik atas tantangan Jerinx yang siap disuntik dengan virus corona. Dan waktu itu Jerinx melakukan live streaming di Instagram dengan dr. Tirta. Dari dua hal tersebut masyarakat langsung heboh.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Menurut Ismail Fahmi, pada kedua hari tersebut, terjadi 10 ribu percakapan di media sosial tentang konspirasi. Selalu ada orang yang berbicara tentang konspirasi, tanpa harus selalu menyebut konspirasi. Misalnya, ada bayi yang meninggal dunia karena corona. Mereka yang tidak percaya dengan virus corona akan menyebut sebab-sebab yang lain.

Baca juga: Rekonsiliasi Islam dan Pancasila dalam Bingkai Kebangsaan

Ismail Fahmi mengatakan bahwa jika dilihat dalam analisis emosi, yang paling besar diserang oleh teori konspirasi adalah trust (kepercayaan). Trust bisa dipengaruhi melalui logika dan keyakinan.

Hal ini diperparah oleh media-media yang percaya dengan teori konspirasi. Ketika ada satu media mengangkat isu konspirasi, kemudian media lain membahas tulisan di media itu, dan seterusnya, maka akan membuat itu tersebut dilihat oleh semakin banyak orang. Di Instagram dan YouTube, nama-nama seperti Jerinx, dr. Tirta, dan Bill Gates begitu mendominasi percakapan.

Ismail Fahmi memberikan contoh video dari Judy Mikovits. Menurutnya, ini adalah upaya membangun kerangka berpikir yang sangat serius. Di dalam video tersebut, ada salah satu kalimat yang mengatakan bahwa kalau seseorang menggunakan masker, ia berarti mengaktifkan virusnya sendiri. Kalau memakai masker dia akan jadi sakit, karena virus corona yang ada dalam diri kita akan diaktifkan. Kalau logika ini benar, seharusnya semua tenaga medis terkena corona.

Pandemi Miss-Information

“Penyebaran virus corona dan teori konspirasi sama-sama kuat. Karena ini sifatnya internasional, maka apa yang ada di suatu negara akan sangat mudah untuk disebarkan di negara lain melalui alih bahasa dalam konteks yang berbeda. Ketika virus ini masih di Wuhan, belum masuk ke Indonesia, teori konspirasinya sudah sampai di Indonesia. Epidemi miss-informasi sudah sampai di Indonesia, bahkan sampai di pemerintah”, ujar Ismail Fahmi. 

Penemu Drone Emprit ini mengatakan bahwa media sosial menyampaikan informasi secara terpotong-potong, terutama Twitter. Instagram juga hanya menyediakan gambar dengan jumlah keterangan (caption) terbatas.  Fragmented information lebih mudah menyebar. Biasanya setiap potongan informasi itu benar, namun disampaikan dalam konteks yang salah.

Sebagai contoh ada teori konspirasi yang mengatakan bahwa 5G di UK bisa menyebarkan virus corona, ada agenda 21, ada climate change, dan lain-lain sehingga memberikan keyakinan bahwa corona adalah buatan.

Kenapa teori konspirasi banyak dipercaya? Menurut Ismail Fahmi, karena publik ingin penjelasan sederhana yang masuk akal bagi mereka. Ismail Fahmi mengutip dr. Daniel Jolley yang melakukan penelitian tentang psikologi dan kaitannya dengan konspirasi. Kesimpulan yang didapatkan Daniel Jolley adalah bahwa setiap orang ingin tahu penjelasan sederhana, yang dengan itu ia dapat menjelaskan ke keluarganya, teman-temannya, dan orang-orang disekitarnya. Dalam kasus corona, virus ini adalah virus yang kompleks, sehingga sulit untuk dijelaskan kebenarannya secara sederhana. Sehingga, konspirasi menjadi alternatif pilihan. Penjelasan-penjelasan ilmiah dari para ahli terlalu sulit untuk ditangkap oleh masyarakat.

Contoh Kasus Konspirasi Vaksin

Ismail Fahmi memberikan contoh penelitian yang diterbitkan oleh sebuah jurnal. Penelitian melibatkan 100 juta pengguna Facebook tentang sikap masyarakat terhadap vaksin. Mengambil sampel lintas benua, lintas negara, dan lintas kota.

“Hasilnya adalah bahwa ada 3 kelompok dalam melihat vaksin, yaitu kelompok pro, anti, dan netral. Jumlah orang yang pro terhadap vaksin adalah sebanyak 6,9 juta, orang yang yang anti 4,2 juta, dan netral sebanyak 74,1 juta”, paparnya.

Jurnal ini menunjukkan bahwa kelompok yang anti vaksin ternyata sangat agresif mendekati orang-orang yang masih netral. Kelompok anti vaksin memiliki 317 kluster grup, sedangkan yang pro hanya memiliki 124 kluster. Ini menunjukkan berapa agresifnya teori-teori anti vaksin berkampanye di media. Dilihat dari segi geografis, banyak terjadi perdebatan antara kelompok pro dengan anti vaksin di Amerika. Perdebatan yang dilakukan dengan bahasa Inggris ini masuk ke Indonesia. Padahal tidak banyak orang Indonesia yang mengerti bahasa Inggris, sehingga teori-teori itu semakin liar berkembang.

Evolusi kelompok yang anti vaksin sangat cepat. Mereka tumbuh dengan begitu pesat. Sedangkan kelompok yang pro vaksin tidak terlalu kuat. Pertumbuhan kelompok anti vaksin sepanjang 2019 mencapai 4000%. Sedangkan yang pro vaksin maksimal hanya 2000%.

Penelitian ini juga memberikan prediksi bahwa ke depan, pertumbuhan kelompok pro vaksin cenderung landai, sedangkan anti vaksin terus meroket. Pada tahun 2030, jumlah kedua kelompok ini akan sama. Setelah itu kelompok anti vaksin akan mengalahkan kelompok pro vaksin.

Reporter: Yusuf R Yanuri

Terkait

Tags: CoronaIsmail Fahmikonspirasi
Previous Post

Kisah Ahli Filsafat Masuk Islam

Next Post

Dawam Raharjo: Liberalisasi itu Liberalisme

Yusuf R Yanuri

Yusuf R Yanuri

LAPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Next Post
Dawam Raharjo: Liberalisasi itu Liberalisme

Dawam Raharjo: Liberalisasi itu Liberalisme

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.