Kalimahsawa.id – Irfan Amalee mengatakan di Jawa Tengah ada gereja yang sudah berpuluh-puluh tahun selalu memberikan takjil kepada muslim yang berpuasa setiap bulan Ramadhan. Namun, dalam 5 tahun terakhir tidak boleh karena dianggap menghina muslim. Ketika datang pandemi, budaya itu hidup lagi. Menurut Irfan, salah satu dampak pandemi ini adalah menyadarkan kita tentang connectednes (keterhubungan).
Bahwa semua manusia sejatinya saling terhubung. Pada bulan Desember, masyarakat masih membicarakan Covid-19 yang ada di Wuhan. Namun, hanya beberapa bulan setelah itu, Covid-19 sudah ada di Indonesia. Virus kecil mampu menyadarkan keterhubungan manusia.
baca juga: Fattah Santoso: Konsep Jiwa Ibnu Sina Menghadapi Pandemi
“Baru ketika manusia sadar bahwa ia terkoneksi, ia justru harus social distance. Jadi kesadaran koneksi sudah mulai tumbuh, namun secara fisik justru harus dibatasi. Oleh karena itu gerakan-gerakan yang sifatnya bisa melampaui keterhubungan fisik menjadi sangat penting”, ujarnya.
Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan Silaturahmi dan Diskusi Virtual yang diadakan oleh Pusad Paramadina, Kemenag Kota Bandung, Narasi TV, Peace Generation, dan FKUB Provinsi Jawa Barat. Kegiatan yang diadakan pada Jumat (12/6) ini menggunakan tema “Memperkokoh Kerukunan di Tengah Ancaman Covid-19”.
Peacesantren
Founder Peace Generation ini mengatakan bahwa Peace Generation setiap Ramadhan membuat program Peacesantren Kilat atau Peacesantren Ramadhan. Uniknya, Peacesantren ini selalu melibatkan non-muslim. Jadi peacesantren memberikan pengalaman Ramadhan kepada selain muslim. Ketika datang pandemi ini, Peacesantren bisa diadakan secara daring.
Dan ternyata, hal ini memungkinkan orang-orang yang pada masa normal sungkan untuk bertemu, menjadi lebih terbuka dialognya. Teknologi ini membantu orang yang dalam dunia nyata tidak punya ruang bicara, disini menjadi memiliki ruang bicara.
Di Medan, 70% peserta Peacesantren adalah orang-orang baru. “Ketika kita melakukan dialog lintas iman secara online, pesertanya itu-itu saja. Tapi dengan online justru mampu menarik orang-orang baru lebih banyak. Di acara offline banyak yang sungkan. Tetapi di online mereka menjadi lebih bebas dan terbuka”, jelasnya.
Peace Generation, sebagaimana yang disampaikan Irfan, juga ikut serta untuk mendistribusikan kebutuhan pangan dengan program Saling Jaga di seluruh Indonesia untuk merespon perubahan sistem ekonomi. Perubahan-perubahan di sistem ekonomi dan sistem lain ini mengakibatkan beberapa hal, misalnya meningkatnya KDRT. Selain itu, ada 79% siswa merasa jenuh dan stress, dan ini akan menjadi masalah yang besar.
Pandemi yang Menyadarkan
“Saya harap kelompok lintas iman melakukan intervensi terhadap sistem pendidikan dan ketahanan keluarga. Misalnya Peace Generation sedang menggagas protokol kesehatan mental. Semua orang sedang berbicara protokol kesehatan fisik, tetapi siapa yang bicara kesehatan mental? Padahal setelah ini ada sejumlah orang yang depresi dan keluarga yang pecah. Dan ini efeknya mungkin akan sangat besar”, jelasnya.
Ia menyebut Peace Generation akan membuat semacam pertolongan pertama untuk persoalan mental. Sekarang, anak-anak belajar di rumah secara normal dalam situasi yang tidak normal. Mereka memiliki beban tugas dan pelajaran yang sama, namun berada dalam suasanya yang berbeda. Sehingga orang tua memiliki pekerjaan ganda, yaitu pekerjaannya sehari-hari ditambah dengan mendampingi anak. Guru juga merasakan hal yang sama.
baca juga: Analisis Ekonomi dalam Situasi Pandemi
Menurutnya, salah satu hal yang membuat mental menjadi terganggu adalah menurunnya relationship. Misalnya, hubungan seorang remaja dengan teman-temannya yang setiap hari berhubungan, di masa pandemi menjadi kurang intens bahkan sama sekali tidak bertemu. Banyak remaja yang seharian tidak berhubunganan dengan manusia, hanya berhubungan dengan layar.
“Bahkan, ada dampak pandemi yang bernama Zoom Fatigue, yaitu kelelahan karena menggunakan Zoom. Ini akan menjadi masalah-masalah baru”, tutupnya.
reporter: Yusuf R Y