Inggit Garnasih: Istri Soekarno, Pahlawan yang Terlupakan

Zaman perjuangan merebut dan mempertahankan RI merupakan era paling banyak memunculkan tokoh-tokoh nasional yang namanya harum tak lekang oleh waktu. Salah satu alasannya adalah pilihan para tokoh untuk hidup sederhana dan lurus di tengah perjuangan berat untuk membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan.

Sekedar mendengar nama-nama tokoh ini saja disebut sudah cukup membuat bulu kuduk merinding dan lengan meremang, serta air mata mengintip di pelupuk mata. Sungguh rindu dan sungguh indah kenangan tentang para pejuang bersahaja ini. Salah satu di antaranya adalah perempuan yang kokoh bak batu karang, sekaligus lembut sehingga berhasil membesarkan dan mengantar Sang Pendiri Republik ke Gerbang Kemerdekaan. Inggit Garnasih Soekarno.

Inggit Garnasih Soekarno adalah istri Proklamator dan Presiden Pertama RI yakni Bung Karno. Tanpa berniat dan mengurangi peran istri-istri yang lain, Inggit Garnasih adalah perempuan mulia yang berjuang habis-habisan mengantarkan Bung Karno memasuki gerbang kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, ia sendiri adalah seorang pejuang kemerdekaan. Tak ada keraguan bagi sejarawan manapun bahwa Inggit Garnasih adalah istri yang paling berjasa buat Bung Karno, sekaligus bagi Indonesia.

Sebesar apa jasa Bu Inggit bagi BK dan Indonesia bisa dilihat secara jelas dari kenyataan betapa Bung Karno merupakan tokoh pergerakan dan perjuangan kemerdekaan yang paling menonjol di masanya. Kita dapat mengilas balik sejenak sejarah. Mengapa Bung Karno yang membacakan teks proklamasi? Mengapa BK pula yang menjadi Presiden pertama RI? Jawaban singkatnya adalah karena ia tokoh pejuang paling populer, baik itu di mata sesama tokoh pejuang maupun di mata masyarakat luas. BK bahkan menjadi personifikasi keseluruhan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya muncul, siapa pembantu utamanya? Siapa yang telah mensponsori dan mendukung BK di masa puncak aktivitas perjuangannya sejak lulus kuliah hingga dibuang ke Ende dan Bengkulu, sehingga menjadikannya sebagai tokoh pejuang paling dikenal rakyat? Para sejarawan telah sepakat, jawabnya adalah Istrinya. Namanya jelas “Inggit Garnasih”.

Inggit adalah istri yang paling lama hidup bersama Soekarno, yakni lebih dari 19 tahun. Kalau dihitung sejak dinikahi oleh Soekarno di tahun 1943 dan wafatnya Bung Karno di tahun 1970, Fatmawati merupakan yang terlama. Tapi di tahun 1954 sempat keluar surat cerai bagi keduanya meskipun perceraian itu kemudian diputuskan tidak sah. Yang pasti, sejak tahun 1953, keduanya tidak tinggal bersama lagi setelah Fatmawati yang antipoligami meninggalkan Soekarno di Istana Merdeka dan memilih tinggal di rumah terpisah sebagai protes atas pernikahan keempat Soekarno dengan Hartati.

Zaman Perjuangan

Bukankah Bu Inggit juga lama ditinggal Bung Karno ketika di penjara? Betul dipisahkan, tapi keduanya tidak berpisah. Bu Inggit tidak pernah meninggalkan BK selama dipenjara. Ia justru sangat rutin untuk menengoknya, mengurus keperluannya termasuk memberi uang pegangan, menyelundupkan buku-buku dan berita-berita perjuangan, serta selalu membesarkan hatinya.

Berkat Inggit, di penjara BK mempunyai cukup bahan terutama buku-buku hukum Mr. Sartono Kartodirdjo guna menyusun pledoi pembelaannya yang termashur, “Indonesia Menggugat”. Bu Inggit juga menjadi penghubung aktif antara BK dan para pejuang lain di luar penjara, khususnya para tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan BK. Inggit Garnasih juga istri yang paling banyak berkorban sekaligus yang paling banyak menanggung resiko beratnya perjuangan Soekarno.

Dari semula seorang istri dan ibu rumah tangga yang serba berkecukupan, Bu Inggit rela kehilangan semua harta sampai pada akhirnya harus membanting tulang bekerja dan berjualan. Dan tahukah anda bahwa sebagian besar buku-buku hebat dalam berbagai bahasa koleksi Bung Karno yang sampai sekarang masih tersimpan di Istana Merdeka, Istana Bogor dan rumah pengasingan di Bengkulu, ternyata dibelikan semuanya oleh Bu Inggit? Harganya tidak murah. Satu buku saja sebenarnya cukup untuk membeli satu set perhiasan emas. Semua itu atas kebesaran hati Bu Inggit.

Bu Inggitlah yang mendampingi Soekarno tepat pada masa-masa terberat dan paling menentukan dalam perjuangannya menuju Indonesia merdeka, sehingga tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Inggit Garnasih adalah istri yang paling berjasa, baik bagi Bung Karno secara pribadi maupun bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sejak menikah dengan Inggit, BK meraih kemapanan lahir dan batin. Inggit bukan hanya istri, pengganti sosok ibu dan kakak, serta sahabat tempat BK berkeluh kesah dan mencari ketenangan, namun juga merupakan penyokong finansial Soekarno. Inggit sampai menjual rumah dan banting setir dari ibu rumah tangga mapan berkecukupan menjadi pedagang kecil-kecilan. Inggitlah pula yang membiayai kuliah Bung Karno sejak menikah sampai lulus sebagai Insinyur pada tanggal 25 Mei 1926.

Setelah BK luluspun, Inggit pula yang jauh lebih banyak mencari nafkah bagi keluarga. Bukannya tidak bertanggung jawab, tapi pada dasarnya BK memang tidak terlalu peduli dengan uang. Lagipupa BK sangat sibuk berpolitik sejak lulus kuliah dan barulangkali menolak tawaran bekerja bergaji besar seperti menjadi dosen di almamaternya, atau menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda yang bisa menjamin kesejahteraanya. BK hanya sempat bekerja dengan gaji yang memuaskan di sebuah konsultan teknik pada tahun 1926, namun hanya sebentar saja. Pekerjaan empuknya itu ditinggal begitu saja karena kesibukannya berjuang.

Antara Cinta dan Perjuangan

Inggit tanpa pernah mengomel, mengeluh dan protes, menerima dengan ikhlas perannya sebagai seorang istri, pengurus rumah tangga, penyokong suami, sekaligus pencari nafkah. Inggit memperoleh uang dengan membuat dan menjual bedak, lulur dan jamu tradisional, serta menjahit pakaian. Sosoknya yang berperawakan kecil ternyata menyimpan semangat dan energi yang luar biasa. Inggit bahkan tidak sungkan mencari uang tambahan dengan menjadi agen penjualan cangkul, parang dan sabun. Dan Ia tidak pernah mempersoalkan kesibukan BK yang tidak menghasilkan uang.

Inggit sering mendampingi Soekarno berpidato dan menjadi penerjemah bagi hadirin orang Sunda di perdesaan yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Meskipun fasih berbahasa Sunda, Soekarno berusaha selalu berpidato atau berbicara di depan publik dalam bahasa Indonesia. Inggit mengaku sangat bahagia menyaksikan suaminya begitu giat berusaha membangkitkan lagi semangat hidup bangsanya yang terpuruk.

Saat berada di Bengkulu, Soekarno jatuh cinta kepada Fatimah yang saat itu baru saja berusia 17 tahun, namun ia tidak kuasa menyampaikan isi hatinya kepada istrinya sampai Inggit sendiri merasakan adanya perkembangan diantara mereka berdua. Di sisi lain lambat laun Soekarno merasa dorongan hatinya untuk memiliki keturunan tidak bisa ditahan lagi. Dengan rasa takut dan sedih, ia meminta izin untuk menikahi Fatimah tanpa harus menceraikan Inggit. Tetapi Bu Inggit merasa pantangan untuk hidup berdua dengan istri yang lain.

Dengan kebesaran jiwa yang sulit dicari bandingnya, Inggit akhirnya merelakan Bung Karno kepada Fatimah. Seolah ada firasat untuk mendorongnya membebaskan suaminya agar tetap bahagia dan leluasa melanjutkan perjuangannya. Keduanya resmi bercerai di tahun 1943. BK mengantarkan Inggit kembali ke Bandung, sebelum menikahi Fatimah secara wali di tahun yang sama.

Setelah bercerai, Inggit dan BK boleh dikatakan tidak lagi berhubungan. Baru pada tahun 1955 (dan sekali lagi di tahun 1960) BK menengok Inggit di Bandung di tengah kemeriahan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Pertemuan pertama pada tahun 1955 berlangsung sangat mengharukan. Sepanjang pertemuan itu berkali-kali Bung Karno menangis dan sambil memohon maaf dan berulang kali pula Inggit mengusap-usap pundaknya menenangkan sembari mengatakan ia sudah memaafkannya sejak dahulu.

Habis Manis Sepah Dibuang

Sikap “habis manis sepah dibuang” BK terhadap Inggit merupakan salah satu cacat pribadi terbesar BK. BK-pun mengakuinya. Ketika ia menikahi Hartini, berbagai organisasi wanita mengecamnya. Apa jadinya jika saat itu mereka tahu apa yang telah dilakukan BK terhadap Inggit? Dalam kesaksaian mantan ajudannya, Bambang Wijanarko, BK mengaku bersalah atas sikapnya itu. Namun kalau sejarah berulang kemungkinan hal yang sama akan ia lakukan karena ia begitu mendambakan keturunan. BK mengaku pula bahwa setelah Inggit, tidak ada lagi istri yang sebaik dirinya.

Apalagi dalam biografinya, Soekarno mengatakan mengaku hampir setiap malam sulit tidur, di mana ia sangat merindukan saat-saat ada masalah berat yang membebani pikirannya, ia bisa melepaskan penat dan beban pikirannya itu kapan saja kepada Inggit.

Satu catatan yang harus ditegaskan adalah selama menjalani kehidupannya sendirian, Bu Inggit tidak pernah meminta siapapun untuk membantunya. Ia tidak pernah mengeluhkan apa-apa kepada mantan suami yang saat itu merupakan penguasa tertinggi di Indonesia. Bagi Bu Inggit sendiri, segala yang ia lakukan adalah karena murni cinta; ia sepenuhnya ikhlas dan tidak merasa perlu meminta-minta imbalan segala.

Inggit Garnasih Soekarno wafat pada tanggal 13 April 1984 dalam usia 96 tahun. Tidak ada penghormatan khusus dari pemerintah pusat maupun daerah baginya. Namun para tetangga di jalan Ciateul dan sekitarnya tanpa ada yang mengkordinasikan serentak mengibarkan bendera Merah-Putih setengah tiang. Ketika jenazahnya dibawa ke pemakaman, mereka dan sejumlah warga Bandung lainnya memenuhi tepi jalan guna memberikan penghormatan terakhir.

Bu Inggit adalah “sosok yang memberi dan memberi” tanpa mengharapkan kembali. Betapa tidak, dari 19 tahun pernikahan, 9 tahu diantarannya dihabiskan di pembuangan, dan hampir 3 tahun Inggit ditinggal Soekarno yang mendekam di penjara. 7 tahun sisanya dihabiskan dengan bermain kucing-kucingan dengan para intel Belanda, di tengah kesibukannya mencari uang sendiri guna membiayai perjuangan sang suami.

Kapan senangnya Bu Inggit? Istri mana yang mau dan mampu menanggung pengorbanan sebesar itu? Di zaman sekarang, atau zaman dahulu, di Indonesia sangat langka perempuan yang seteguh dan sehebat itu. Nampaknya Bu Inggit lebih dari sekedar pantas menyandang gelar Pahlawan Nasional, karena ia adalah Pahlawan bagi bangsanya, daerahnya, dirinya, orang lain dan terkhusus Pahlawan bagi kaum perempuan yang tangguh dan berfikir sangat maju. Kelapangan hatinya ia tampilkan dalam sikapnya menerima keputusan demi tegakknya bangsa ini.

Sumber Rujukan: Buku Faisal Basri dan Haris Munandar judul “Untuk Republik Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa“.

By: Redaksi Kalimah Sawa’

What's your reaction?
1So Happy1Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment