Oleh: Abdul Jabbar Hekmatyar
Individuasi menurut Carl Jung adalah proses memisahkan diri dari kolektif masyarakat untuk mencapai pemahaman terhadap jati diri. Proses ini menjadi penting untuk memahami keberadaan diri sendiri secara eksistensi di tengah-tengah kelompok yang kita ikuti. Misal keluarga, sekolah, pertemanan, atau bahkan kelompok yang lebih besar lagi.
Proses individuasi yang baik tercipta ketika seorang memiliki ruang yang bebas untuk berekspresi sesuai dengan kehendak dan kemampuannya. Proses tersebut juga meliputi pengambilan keputusan, penerimaan atas norma, dan respon terhadap keputusan atau instruksi yang bertentangan dengan kehendak.
Proses individuasi yang berhasil akan berdampak pada kemampuan individu dalam mengambil sikap, keputusan, dan respon dengan lebih lugas dan percaya diri. Sebaliknya, individu akan merasakan kecemasan, depresi, tidak memiliki independensi dalam sikap dan keputusan, serta merasa tidak memiliki kontrol atas kehidupannya. Bahkan sampai tidak memiliki arti dalam kehidupannya.
Individuasi Kader dalam IMM
Dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) individuasi diartikan sebagai pengkajian kembali potensi diri kader dalam bergerak dan berjuang secara individu dengan tetap berpatokan pada nilai trilogi dan nilai tri kompetensi dasar (Trikoda). Kader diberikan keluangan waktunya untuk dapat merenungkan dan merumuskan gerakan yang akan dilakukannya selama menjadi bagian dari kolektif ikatan secara personal, sehingga wujud gerakan dan aksi yang dilakukan bersumber dari kesadaran akan peran dan potensi dirinya untuk berdampak di ikatan.
Namun dalam menjalankan proses ini tidak secara mudah dapat dipahami oleh seluruh pimpinan atau bahkan kader itu sendiri. Terdapat ketakutan bahwa kader justru kehilangan arah, merasa tidak di-openi/diperhatikan, atau bahkan merasa dimarginalkan karena tidak masuk circle. Hingga ujungnya malah membabat jalan sendiri yang berbeda dari tujuan ikatan.
Peran Pimpinan dalam Fasilitasi Kader
Disinilah peran penting pimpinan dalam mengarahkan kadernya agar merasa memiliki privasi dan otonomi dalam memilih ke arah mana kontribusinya dalam ikatan namun tetap selaras pada nilai ideologi dan kompetensi dasar yang menjadi fondasinya. Pimpinan dapat berperan sebagai fasilitator sekaligus mentor untuk kadernya agar memahami potensi mana yang akan dikembangkan kemudian memberikan alternatif pilihan untuk mereka.
Mentoring dilakukan secara fleksibel namun terarah, dimana pimpinan lebih banyak memberikan waktu untuk kader bereksplorasi secara mandiri, dan tidak mengekang dengan kegiatan yang bersifat formalitas belaka. Di sisi lain juga tetap memantau setiap perkembangan kadernya barangkali mengalami kendala atau mulai muncul indikasi keluar dari pakem ideologi. Monitoring dilakukan dengan skema tatap muka (face-to face), obrolan via WhatsApp, atau lewat wawancara teman dekat kader. Ini dapat disesuaikan dengan tipikal masing-masing mentor.
Bentuk Individuasi dan Pendampingannya
Proses individuasi memiliki banyak bentuknya, seperti: membaca buku, melakukan olahraga, latihan fisik, mengikuti lomba, mengikuti kegiatan kampus, menjalin relasi dengan kolega, praktik lapangan, diskusi teman sebaya, kajian keagamaan, atau bahkan melakukan kunjungan belajar ke luar kota/negeri. Bentuk yang ditawarkan di atas bukan hal paten yang harus mutlak dilakukan, dapat divariasikan dengan kondisi dan minat kader masing-masing.
Sedangkan pendampingan dari pimpinan dapat dilakukan dengan skema pembagian wali kader, bidang fokus, kedekatan personal, atau bentuk lainnya. Pendekatan wali kader adalah setiap pimpinan mendampingi beberapa kader dan bertanggung jawab penuh dalam pengembangan diri kader.
Sedangkan pendampingan bidang fokus adalah pimpinan yang menduduki tanggungjawab bidang tertentu diberikan amanah kader yang juga punya keinginan dan potensi berkembang di bidang yang sama, sehingga pendampingan dari pimpinan dapat dilakukan secara berkelompok dan terfokus pada satu sektor tertentu saja.
Lalu pendekatan kedekatan personal adalah memberikan kesempatan kepada kader untuk memilih siapa yang akan dia jadikan pendamping/mentor, dengan memiliki rasa kedekatan secara personal dengan pendampingnya diharapkan kader akan lebih termotivasi untuk dapat berkembang dan tetap loyal pada ikatan.
Penutup
Pengembangan kapasitas internal kader lewat proses individuasi menjadi alternatif solusi yang penulis tawarkan untuk memenuhi kebutuhan instrumen peningkatan kualitas kader yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang yang ditekuni dan kompetitif sesuai dengan trilogi dan tri kompetensi dasar IMM.
Efek hasilnya memang akan bervariasi tergantung pada intensitas pimpinan dalam memberikan pendampingan terhadap kadernya. Namun semua diusahakan untuk dapat bermuara antara menjadi kader persyarikatan, kader umat, atau kader bangsa.
Editor: Astyra Gita Kinanti